Sya’ban Bulan Qur’an: Ini Keutamaan & Adab Membacanya

Sya’ban Bulan Qur’an: Ini Keutamaan & Adab Membacanya

Bulan Sya’ban tidak hanya memiliki satu julukan nama seperti bulannya Rasulullah. Ada beberapa atsar/hadits yang menyebutkan bahwa penamaan Sya’ban dikenal pula dengan sebutan sebagai bulan Al-Qur’an.

Sebagaimana sudah lumrah diketahui bahwa membaca Al-Qur’an dalam setiap keadaan sangatlah dianjurkan. Lebih-lebih di dalam beberapa keadaan yang memiliki sejuta kemuliaan serta beribu keberkahan seperti bulan Ramadhan, bulan Sya’ban, tanah haram Makkah, Raudah serta pada saat hari-hari perayaan umat Islam seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Ditelisik dari jejak historis umat Islam tempo dulu, tatkala datang sebuah bulan dengan sejuta kemuliaan dan beribu keberkahan yaitu bulan Sya’ban, mereka sangat antusias sekali dalam menyambut bulan tersebut dengan mengadakan beberapa aktivitas yang positif seperti tekun membaca Al-Qur’an, gemar menginfakkan hartanya pada kaum yang lemah, dan rindu yang menggebu-gebu akan datangnya bulan puasa Ramadhan (Sayyid Muhammad, Madza Fis Sya’ban. Hal. 44).

Sekalipun periwayatan hadits ini dikategorikan hadits dhaif yang diriwayatkan oleh Al-Hafidz bin Rajab al-Hambali namun spirit dari hadist ini yang perlu kita telaah dan teladani bersama selaku umat Islam.

Ada beberapa tradisi dari kalangan ulama salaf kaitannya dengan datangnya bulan Sya’ban sehingga bulan tersebut menjadi bulannya Al-Qur’an. Salamah bin Suhail dan Habib bin Abi Tsabit mengatakan bahwa bulan Sya’ban merupakan bulannya para qurru’ atau ahli qur’an. Umar bin Qois al-Mala’i selalu menutup kedainya seraya menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an. (Sayyid Muhammad, Madza Fis Sya’ban. Hal. 44).

Ada pula dialog khusus antara hamba dan Tuhannya ketika datang bulan Sya’ban. Al-Hasan bin Sahl mengatakan bahwa di bulan Sya’ban ia mengadu kepada Rabbnya seraya memohon kepadaNya: “Wahai Tuhanku Engkau jadikan aku sebagai bulan yang dihimpit oleh dua bulan agung –bulan Rajab dan bulan Ramadhan-, lalu apa keistimewaan bagi ku?, Allah menjawab: Aku jadikan –memberikan beberapa keutamaan- pada mu dalam pembacaan Al-Qur’an”. (Ibnu Rajab, Lathaiful Ma’arif, hal. 158)

Syeikh Ahmad bin Hijazi mengatakan bahwa ulama dahulu sangat antusias dalam menyambut datangnya bulan Sya’ban. Mereka mengisi kesehariannya dengan hal-hal positif yang bersifat spiritual yaitu membaca Al-Qur’an. Syeikh Ahmad mengatakan: “Tidaklah dari kalangan kita mengumpulkan –membaca- dari beberapa surat Al-Qur’an seperti: surat al-Fatihah -dijuluki induknya Al-Qur’an-, ayat kursi, surat al-Ikhlas serta mu’awwidzatain –julukan dua surat; al-Falaq dan an-Nas-, maka selayaknya kalangan manusia menyibukkan diri akan hal tersebut di bulan Sya’ban”. (Syeikh bin Hijazi, Tuhfatul Ikhwan. Hal. 87)

Keutamaan Al-Qur'an

Sayyid Muhammad dalam Madza Fis Sya’ban halaman 45 menyebut banyak keutamaan serta kekhususan yang dimiliki oleh Al-Qur’an seperti:

  1. Bernilai ibadah dalam membacanya.
  2. Al-Qur’an akan memberikan syafa’at bagi ahli Qur’an.
  3. Seseorang yang mencintai Al-Qur’an, maka Allah akan mencintainya.
  4. Al-Qur’an merupakan mukjizat yang kekal dan akan terus dijaga oleh Allah keautentikan Al-Qur’an tersebut dari masa ke masa.
  5. Bagi pembaca Al-Qur’an, ia tidak akan dilanda rasa jenuh dan bosan, sedangkan bagi pendengarnya tidak akan menolaknya.
  6. Membaca Al-Qur’an akan membersihkan karatnya hati.
  7. Akan mendapatkan keberkahan dalam membaca Al-Qur’an.

Tentunya beberapa keutamaan serta kekhususan yang dimiliki Al-Qur’an ini tidak akan diperoleh bagi pembacanya ketika ia lalai dalam membaca Al-Qur’an, bahkan bisa saja Al-Qur’an akan melaknat orang yang lalai dalam membaca Al-Qur’an. Sebagaimana Imam al-Ghazali menyampaikan dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, j. 1, hal. 274:

قال أنس بن مالك رب تال للقرآن والقرآن يلعنه

Artinya: “Anas bin Malik berkata: banyak dari kalangan pembaca, namun Al-Qur’an melaknat mereka”

Adab membaca Al-Qur'an

Ada beberapa adab yang harus diketahui dan diperhatikan bagi pembaca Al-Qur’an, sebagaimana Syeikh Muhammad Jamaluddin dalam kitabnya Mauidhatul Mukminin yang menjadi inti sari dari Ihya’ Ulumuddin” mengatakan bahwa ada dua adab yang harus diperhatikan bagi pembaca Al-Qur’an ketika hendak membaca Al-Qur’an yaitu adab yang bersifat dhahir dan adab yang bersifat bathin.

Ada delapan perkara yang harus diperhatikan untuk adab dhahir bagi pembaca Al-Qur’an. (Syeikh Muhammad Jamaluddin, Mauidhatul Mukminin, hal. 71):

  1. Bagi orang yang hendak membaca Al-Qur’an harus dalam keadaan memiliki wudlu, bersikap tenang, beradap dalam membacanya baik dalam keadaan duduk atau berdiri seraya menghadapkan kepalanya ke arah kiblat dan tidaklah duduk dalam keadaan menyombongkan diri.
  2. Bagi pembaca Al-Qur’an selayaknya membagi bacaan Al-Qur’an. Sebagaimana para sahabat Nabi melakukan hal tersebut dengan mengkhatamkan Al-Qur’an di setiap hari Jum’at, dan memeta-metakan Al-Qur’an menjadi tujuh bagian.
  3. Bagi pembaca Al-Qur’an selayaknya membaca Al-Qur’an dengan tartil. Hal itu sangat dianjurkan karena maksud dari membaca ialah merenungi bacaan serta tartil.
  4. Dianjurkan pula untuk menangis ketika sampai dalam bacaan Al-Qur’an yang mengandung kesedihan, dan hal itu bisa diperoleh dengan berandai-andai akan ancaman, serta janji-janji Allah.
  5. Hendaknya bagi pembaca Al-Qur’an betul-betul memperhatikan hak-hak dari setiap ayat. Ketika sampai di ayat sajadah maka hendaknya bersujud dan juga memperhatikan hak-hak dari setiap huruf Al-Qur’an mulai dari makharijul huruf-nya hingga hukum-hukum waqaf.
  6. Bagi pembaca Al-Qur’an hendaknya memulai dengan membaca ta’awudz, seperti “A’udzubillahi as-sami’ al-‘alim min as-syaithani ar-rajim”.
  7. Memelankan bacaan dengan tujuan agar terhindar dari riya’ dan berbuat-buat, hal itu sangat dianjurkan.
  8. Memperbagus bacaan serta tertib dalam bacaannya dengan tanpa memanjang bacaan secara berlebihan yang dapat mengubah terhadap susunan bacaan.

Sedangkan adab membaca Al-Qur’an secara bathin meliputi tujuh perkara yakni:

  1. Memahami akan keagungan ayat Al-Qur’an.
  2. Bagi pembaca Al-Qur’an hendaknya menghadirkan qalbunya dalam membaca Al-Qur’an.
  3. Menghilangkan bisikan nafsu dan fokus terhadap bacaan Al-Qur’an.
  4. Merenungi kandungan ayat Al-Qur’an.
  5. Mencoba memahami setiap ayat dari Al-Qur’an yang mencakup tentang sifat-sifat Allah, pekerjaan-pekerjaanNya serta beberapa keadaan para Nabi.
  6. Menghindari perkara-perkara yang dapat mencegah akan memahami ayat-ayat Al-Qur’an, karena mayoritas manusia enggan memahami ayat-ayat Al-Qur’an.
  7. Mengkhususkan dirinya akan khitab yang disampaikan oleh Al-Qur’an.

Apabila adab dalam membaca Al-Qur’an senantiasa diperhatikan dan diamalkan, maka keutamaan serta kekhususan Al-Qur’an akan diperoleh khususnya di bulan yang penuh berkah yaitu bulan Sya’ban. Allahummarhamna bil Qur’an


$data['detail']->authorKontri->kontri

Musta’in Romli
Pengajar Ma'had Aly Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo