Arina.id - Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi harkat martabat perempuan. Salah satu buktinya adalah kecaman keras terhadap praktik pembunuhan bayi perempuan pada masa jahiliyah yang dilakukan karena ketakutan akan kemiskinan.
Larangan ini diantaranya ditegaskan dalam sabda Nabi SAW berikut:
إنَّ اللَّهَ حَرَّمَ علَيْكُم عُقُوقَ الأُمَّهاتِ، ومَنْعًا وهاتِ، ووَأْدَ البَناتِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengharamkan kalian mendurhakai ibu, tidak suka memberi dan suka meminta-minta, dan mengubur anak perempuan hidup-hidup.” (H.R. Al-Bukhari)
Selain mengutuk dan melarang segala bentuk diskriminasi maupun tindakan kejahatan terhadap anak perempuan, Nabi SAW dalam kesehariannya tampil sebagai sosok yang lembut, penuh kasih, dan sangat menyayangi mereka.
Beliau sebagai uswah hasanah memberikan contoh nyata kepada masyarakat Arab waktu itu tentang bagaimana anak perempuan seharusnya dihormati dan diperlakukan dengan penuh kelembutan. Berikut ini 6 bentuk perlakuan Rasulullah SAW kepada anak-anak perempuan.
1. Mengusap Kepala dan Mencium Anak Sebagai Bentuk Kasih Sayang
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang penuh kelembutan, terutama dalam memperlakukan anak-anak. Beliau tidak segan mengusap kepala dan mencium anak-anak serta cucunya sebagai bentuk kasih sayang yang tulus dari seorang ayah kepada keturunannya.
Bahkan, tindakan penuh cinta itu beliau lakukan secara terbuka di hadapan para sahabat, seakan ingin menunjukkan bahwa kasih sayang kepada anak adalah bagian dari akhlak mulia yang harus diteladani.
Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (wafat 1425 H) dalam karyanya menuturkan bahwa termasuk wujud rahmat Nabi terhadap anak-anak adalah kebiasaannya mengusap kepala mereka dan mencium mereka:
وَمِنْ رَحْمَتِهِ بِالصِّبْيَانِ: أَنَّهُ كَانَ يَمْسَحُ رُءُوسَهُمْ وَيُقَبِّلُهُمْ، كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَبَّلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الحَسَنَ وَالحُسَيْنَ ابْنَي عَلِيٍّ، وَعِنْدَهُ الأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ، فَقَالَ الأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الوَلَدِ، مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا قَطُّ! فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
Artinya: “Bentuk kasih sayang Nabi kepada anak-anak, adalah beliau mengusap kepala mereka dan mencium mereka. Sebagaimana disebutkan dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim dari Sayyidah Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW mencium Hasan dan Husain, kedua putra Ali. Saat itu, Al-Aqra‘ bin Habis At-Tamimi berada di dekat beliau. Al-Aqra‘ pun berkata: Aku memiliki sepuluh orang anak, dan aku belum pernah mencium satu pun dari mereka! Maka Rasulullah SAW memandangnya, kemudian bersabda: Barang siapa tidak menyayangi, tidak akan disayangi.” (Muhammad Al-Insan Al-Kamil [Beirut: Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah], h. 116)
Dalam riwayat lain, Sayyidah Aisyah RA mengisahkan bahwa suatu ketika Nabi SAW mencium salah satu anaknya, lalu seorang lelaki Badui yang menyaksikan hal tersebut berkata terus terang bahwa ia tidak pernah mencium anak-anaknya.
Nabi SAW pun menimpalinya dengan sabda tegas yang menggambarkan pentingnya sikap kasih sayang dalam diri manusia:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَبَّلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ وَلَدِهِ وَعِنْدَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَا قَبَّلْتُ وَلَدًا لِي قَطُّ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْنَعُ بِكَ إِنْ كَانَ اللَّهُ قَدْ نَزَعَ الرَّحْمَةَ مِنْكَ
Artinya: “Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah, ia berkata: Rasulullah SAW pernah mencium salah satu anaknya, sementara di dekat beliau ada seorang Arab Badui. Orang itu kemudian berkata: Aku tidak pernah mencium seorang pun dari anak-anakku! Maka Rasulullah SAW bersabda: Apa yang bisa aku lakukan untukmu jika Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu?.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Kedua riwayat ini menegaskan bahwa mencurahkan kasih sayang kepada anak baik melalui sentuhan lembut maupun ciuman merupakan akhlak utama yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, sekaligus menjadi pendidikan agar umatnya senantiasa menumbuhkan kelembutan dalam keluarga dan masyarakat.
2. Menyambut Kedatangan Anak dengan Hangat dan Riang Gembira
Sikap Rasulullah SAW terhadap putrinya, Sayyidah Fatimah RA, merupakan gambaran paling indah tentang bagaimana seorang ayah menunjukkan kasih sayang dan penghormatan kepada anaknya.
Sayyidah Aisyah RA mengisahkan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mirip dengan Rasulullah SAW dalam tutur kata, cara berbicara, dan adab duduk selain Fatimah. Setiap kali Nabi SAW melihat putrinya datang, beliau selalu menyambutnya dengan penuh kehangatan, mengucapkan salam penuh kegembiraan, lalu berdiri untuk menghormatinya.
Beliau mencium Fatimah, menggamit tangannya, dan membimbingnya hingga duduk di tempat beliau sebagai bentuk penghargaan yang sangat tinggi. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sayyidah Fatimah, tatkala Rasulullah SAW berkunjung ke rumahnya:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ كَانَ أَشْبَهَ بِالنَّبِيِّ كَلاَمًا وَلاَ حَدِيْثًا وَلاَ جِلْسَةً مِنْ فَاطِمَةَ. قَالَتْ : وَكَانَ النَّبِيُّ إِذَا رَآهَا قَدْ أَقْبَلَتْ رَحَّبَ بِهَا، ثُمَّ قَامَ إِلَيْهَا فَقَبَّلَهَا، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهَا فَجَاءَ بِهَا حَتَّى يُجْلِسَهَا فِي مَكَانِهِ، وَكاَنَ إِذَا أَتَاهَا النَّبِيُّ رَحَّبَتْ بِهِ، ثُمَّ قَامَتْ إِلَيْهِ فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ
Artinya: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip dengan Nabi SAW dalam ucapan, berbicara maupun duduk daripada Fatimah. Biasanya Nabi SAW bila melihat Fatimah datang, beliau mengucapkan selamat datang (ucapan tarhib: Marhaban) padanya. Lalu beliau berdiri menyambutnya dan menciumnya, kemudian menggamit lengannya dan membimbingnya hingga beliau dudukkan Fatimah di tempat duduk beliau. Demikian pula jika Nabi SAW datang kepada Fatimah, Fatimah mengucapkan selamat datang kepada beliau, kemudian berdiri menyambutnya, menggamit lengannya lalu mencium beliau.” (H.R. Al-Bukhari)
Gambaran ini menjelaskan bahwa menyambut anak dengan penuh kehangatan baik melalui ucapan, senyuman, maupun sikap kasih sayang merupakan akhlak mulia yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, sehingga menjadi teladan bagi setiap orang tua dalam membangun hubungan emosional yang baik dengan anak-anak mereka.
3. Mempersilakan Anak untuk Bermain dan Quality Time
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat memahami dunia anak-anak. Beliau tidak pernah membebani mereka dengan sesuatu yang melampaui batas kemampuan, dan tidak pula melarangnya untuk bermain, bercanda, atau bersenang-senang karena aktivitas itu merupakan hak dan kebutuhan perkembangan mereka.
Bahkan, Nabi SAW kerap ikut bermain bersamanya sebagai bentuk kedekatan dan penghargaan terhadap masa kanak-kanak. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ketika orang-orang Habasyah bermain tombak, Rasulullah SAW berdiri menutupi Sayyidah Aisyah RA agar ia dapat melihat permainan tersebut sepuasnya. Aisyah RA berkata bahwa beliau baru berhenti menonton ketika dirinya sendiri yang ingin pergi:
كَانَ الْحَبَشُ يَلْعَبُونَ بِحِرَابِهِمْ، فَسَتَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَنْظُرُ، فَمَا زِلْتُ أَنْظُرُ حَتَّى كُنْتُ أَنَا أَنْصَرِفُ فَاقْدُرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ تَسْمَعُ اللَّهْوَ
Artinya: “Orang-orang Habasy (Ethiophia) bermain dengan tombak-tombak mereka, lalu Rasulullah SAW menutupiku sedangkan aku senantiasa melihat mereka sehingga aku sendiri yang pergi. Hargailah keinginan gadis kecil yang menyukai permainan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Selain memberi ruang untuk bermain, Rasulullah SAW juga dikenal sering quality time bersama cucu-cucunya, yakni meluangkan waktu yang diisi dengan perhatian penuh serta interaksi hangat. Banyak riwayat menggambarkan betapa besar kasih sayang beliau kepada cucunya Hasan dan Husain sebagaimana termaktub dalam redaksi berikut:
أَنَّ الْحَسَنَ، وَالْحُسَيْنَ، أَقْبَلَا يَسْتَبِقَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا أَنْ جَاءَهُ أَحَدُهُمَا جَعَلَ يَدَهُ فِي عُنُقِهِ، ثُمَّ جَاءَ الْآخَرُ فَجَعَلَ يَدَهُ فِي عُنُقِهِ، فَقَبَّلَ هَذَا، ثُمَّ قَبَّلَ هَذَا، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا
Artinya: “Sesungguhnya Hasan dan Husain pernah berlari menuju Rasulullah SAW. Ketika salah satu dari mereka tiba lebih dahulu, Rasulullah merangkul lehernya, lalu melakukan hal yang sama kepada yang datang berikutnya. Beliau mencium keduanya secara bergantian, kemudian bersabda: Ya Allah, sungguh aku sangat mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka.” (Muhammad Al-Qadha’i, Musnad Asy-Syihab [Beirut: Muassasah Ar-Risalah], vol. 1, h. 50).
Sikap demikian memperlihatkan bahwa Rasulullah SAW bukan hanya memberikan ruang bermain kepada anak-anak, akan tetapi juga menghadirkan perhatian yang hangat dan kedekatan emosional yang mendalam, sebagai sebuah teladan sempurna dalam mendidik dan menyayangi anak kecil.
4. Menggembirakan Anak dengan Pemberian
Di antara bentuk kasih sayang dan perhatian Rasulullah SAW kepada anak-anak adalah kebiasaan beliau menggembirakan mereka melalui berbagai pemberian, baik berupa makanan maupun hal lain yang dapat membuat mereka senang.
Nabi SAW memahami bahwa membahagiakan anak merupakan bagian dari akhlak mulia, lantaran pada usia tersebut anak membutuhkan perhatian, penghargaan, dan kegembiraan yang mampu menguatkan ikatan emosional mereka dengan orang dewasa. Salah satu contoh nyata yang disebutkan para ulama adalah kebiasaan Rasulullah SAW memberikan buah pertama dari hasil panen kepada anak-anak.
Dalam sebuah riwayat, disebutkan:
وَمِنْ رَحْمَتِهِ بِالصِّبْيَانِ وَحُبِّهِ لِإِدْخَالِ السُّرُورِ عَلَيْهِمْ: أَنَّهُ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِأَوَّلِ مَا يُدْرِكُ مِنَ الفَاكِهَةِ يُعْطِيهِ لِمَنْ يَكُونُ فِي المَجْلِسِ مِنَ الصِّبْيَانِ، كَمَا رَوَى الطَّبَرَانِيُّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِبَاكُورَةِ الثَّمَرَةِ أَيْ أَوَّلِهَا وَضَعَهَا عَلَى عَيْنَيْهِ ثُمَّ عَلَى شَفَتَيْهِ، وَقَالَ: اللَّهُمَّ كَمَا أَرَيْتَنَا أَوَّلَهُ فَأَرِنَا آخِرَهُ، ثُمَّ يُعْطِيهِ مَنْ يَكُونُ عِنْدَهُ مِنَ الصِّبْيَانِ. رَوَاهُ ابْنُ السُّنِّيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَقَالَ الحَافِظُ الهَيْثَمِيُّ: رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الكَبِيرِ وَالصَّغِيرِ، وَرِجَالُ الصَّغِيرِ رِجَالُ الصَّحِيحِ
Artinya: “Termasuk bentuk kasih sayang Nabi kepada anak-anak dan kecintaan beliau untuk membahagiakan mereka adalah: Apabila beliau didatangkan buah-buahan pertama (hasil panen yang paling awal), beliau memberikan bagian itu kepada anak-anak yang ada di majelis. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Ibn Abbas RA bahwa Nabi SAW apabila didatangkan bakurah (buah pertama dari hasil panen), beliau meletakkannya pada kedua matanya, kemudian pada kedua bibirnya seraya berdoa: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperlihatkan kepada kami yang pertama ini, perlihatkan pula kepada kami yang terakhirnya. Setelah itu, beliau memberikan buah itu kepada anak-anak yang berada di dekatnya.” (Muhammad Al-Insan Al-Kamil [Beirut: Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah], h. 117)
Riwayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya menghargai nikmat Allah, melainkan juga menjadikan momen itu sebagai kesempatan untuk menumbuhkan kebahagiaan pada diri anak-anak melalui pemberian yang sederhana namun penuh makna. Sikap beliau memberikan teladan bahwa menyenangkan hati anak-anak meskipun melalui hadiah kecil adalah bagian dari rahmat dan pendidikan yang patut ditiru oleh setiap orang tua maupun pendidik.
5. Menggendong Anak
Selain bermain dan berinteraksi penuh kelembutan dengan anak-anak, Rasulullah SAW juga dikenal sangat dekat secara fisik dengan mereka, termasuk dengan cara menggendong. Sikap ini menunjukkan betapa beliau menghargai kebutuhan emosional anak dan memberikan rasa aman melalui kedekatan tubuh.
Diantara riwayat yang cukup populer adalah Nabi SAW pernah menggendong cucu perempuannya, Umamah binti Zainab saat melaksanakan sholat. Abu Qatadah Al-Anshari meriwayatkan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاِبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا
Artinya: “Bahwa Rasulullah SAW pernah sholat dengan menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah SAW dan Abu Al-‘Ash ibn Rabi’ah ibn Abd Syams. Bila sujud beliau letakkan (anak itu) dan bila berdiri beliau menggendongnya kembali.” (H.R. Al-Bukhari)
Perbuatan demikian tidak hanya menunjukkan kasih sayang beliau terhadap anak kecil, namun juga menggambarkan fleksibilitas dan kelembutan Nabi SAW dalam menjalankan ibadah tanpa mengabaikan kebutuhan sang anak. Sikap Nabi menjadi teladan bahwa kedekatan emosional dan kasih sayang kepada anak-anak dapat berjalan seiring dengan ketaatan kepada Allah, serta merupakan bagian dari akhlak terpuji yang patut diteladani oleh umatnya.
6. Peka terhadap Perasaan Anak
Rasulullah SAW merupakan figur yang sangat peka dan penuh perhatian terhadap perasaan anak-anak, khususnya anak perempuan. Beliau memandang mereka sebagai anugerah Allah yang harus dijaga, dihormati, dan disayangi dengan sepenuh hati.
Bentuk kasih sayang itu tampak jelas dalam hubungannya dengan putrinya, Sayyidah Fatimah RA. Nabi SAW tidak hanya menunjukkan rasa cinta secara lahiriah, tetapi juga secara emosional, dengan mengakui bahwa Fatimah adalah bagian dari dirinya.
Hal ini sebagaimana tercantum dalam sebuah riwayat:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَاطِمَةُ بِضْعَةٌ مِنِّي فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Fatimah bagian dari diriku. Siapa pun yang menjadikannya marah, maka ia membangkitkan kemarahanku.” (H.R. Al-Bukhari)
Sabda ini menunjukkan betapa Nabi SAW sangat memperhatikan kondisi batin dan perasaan putrinya. Sikap beliau mengajarkan bahwa menjaga perasaan anak, memahami apa yang mereka rasakan, serta menghormati kepekaan emosional anak merupakan bagian penting dari akhlak orang tua. Rasulullah SAW menegaskan bahwa menyakiti perasaan anak berarti juga menyakiti orang tua, dan sebaliknya, membahagiakan mereka adalah bentuk penghormatan kepada amanah yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Berdasarkan sejumlah keterangan yang telah diuraikan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa Rasulullah SAW menunjukkan secara nyata bagaimana anak perempuan diperlakukan dengan kelembutan, perhatian, dan cinta yang tulus mulai dari mengusap kepala dan mencium mereka, menyambut dengan penuh kehangatan, memberi ruang bermain, menghadiahi mereka, menggendong dengan penuh cinta, hingga kepekaan terhadap perasaan dan kebutuhan emosional mereka.
Semua sikap mulia tersebut menjadi bukti bahwa ajaran Islam memuliakan perempuan sejak usia kanak-kanak, dan melalui keteladanan Nabi SAW, umat diajarkan untuk menciptakan lingkungan yang aman, penuh cinta, dan menghormati martabat anak perempuan.
Semoga kita semua dapat meneladani sikap yang Rasulullah lakukan terhadap anak-anak guna menumbuhkan generasi yang tumbuh dengan rasa aman, dihargai, dan dicintai sehingga mereka dapat berkembang menjadi pribadi yang kuat, berdaya, dan berakhlak mulia. Wallahu a’lam bish shawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor:


