Menjalin hubungan terlebih yang melibatkan emosional, bisa menjadi pengalaman yang rumit. Kadang kita tertarik pada orang-orang yang, menurut psikologi, justru tidak baik bagi kesehatan emosional kita.
Oleh karena itu, kita harus memegang kunci dalam berhubungan dengan orang lain dengan mengenali tipe-tipe orang yang berpotensi merugikan sejak awal, sebelum kita terlanjur terlalu terlibat.
Farley Ledgerwood pada laman Geediting.com memperkenalkan 7 tipe orang ini. Tujuannya bukan untuk menghakimi atau memberi label pada siapa pun, melainkan untuk membekali kamu dengan pengetahuan agar bisa membuat pilihan yang lebih sehat untuk kesejahteraan emosionalmu.
Berikut 7 tipe tersebut beserta penjelasannya
1. Si Pesimis Abadi
Kita semua mungkin pernah bertemu dengan orang yang selalu melihat sisi negatif dari segala sesuatu. Bagi mereka, setiap harapan selalu diselimuti kekhawatiran, dan gelas selalu terlihat setengah kosong, bukan setengah penuh.
Mereka adalah si pesimis abadi. Mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk menghilangkan kebahagiaan dari situasi apa pun, dan bisa sangat menguras energi emosionalmu.
Psikolog ternama, Dr Martin Seligman pernah mengatakan: "Pesimisme bisa dihindari. Seorang pesimis sebenarnya bisa belajar menjadi optimis, bukan dengan cara yang dangkal seperti berpura-pura bahagia, tetapi dengan mempelajari seperangkat keterampilan kognitif yang baru."
Memang benar, orang yang pesimis bisa berubah. Tapi ingat, bukan tugasmu untuk mengubah mereka. Menjalin hubungan emosional dengan orang seperti ini bisa membuatmu berada di dalam perjalanan emosional yang melelahkan dan bisa berdampak buruk bagi kesehatan mentalmu.
2. Si "Vampir" Emosional
Apakah kamu pernah bertemu dengan seseorang yang setiap kali setelah ngobrol dengan mereka, kamu merasa benar-benar lelah? Jika pernah mungkin itu akan jadi pelajaran yang berat.
Kita mungkin punya teman yang seolah hidupnya tak pernah lepas dari drama. Setiap percakapan selalu tentang krisis terbarunya, dan entah bagaimana kita selalu terseret ke dalam kekacauan itu.
Butuh waktu lama untuk menyadari betapa hubungan itu menguras emosi. Orang seperti ini sering disebut sebagai vampir emosional. Mereka menyedot energimu dan membuatmu kehabisan semangat.
Dr. Judith Orloff, penulis buku Emotional Freedom, menjelaskan, “Vampir emosional adalah orang-orang yang menguras habis energi kita.”
Pelajarannya? Hati-hati jika mulai terlibat secara emosional dengan orang seperti ini. Menjaga kesehatan emosional dan menetapkan batasan adalah hal yang sangat penting.
3. Si Manipulator Tanpa Rasa Bersalah
Pernah berurusan dengan orang yang selalu punya agenda tersembunyi?
Mereka adalah si manipulator tanpa rasa bersalah; orang-orang yang memutarbalikkan fakta, emosi, dan situasi demi kepentingan pribadi mereka, tanpa pernah merasa bersalah.
Orang seperti ini bisa sangat menawan dan meyakinkan, membuatmu mudah terjebak secara emosional. Tapi di balik pesonanya, mereka sering kali tidak peduli dengan perasaan orang lain dan hanya fokus pada keuntungan pribadi.
Sangat penting untuk mengenali mereka sejak awal dan menjauhkan diri sebelum terlalu terlibat. Meskipun menyakitkan, menyadari kenyataan ini bisa menyelamatkanmu dari luka emosional di masa depan.
4) Si Pengkritik Kronis
Selanjutnya adalah si pengkritik kronis. Mereka bisa menemukan kesalahan dalam apa pun – termasuk dirimu. Kritik mereka yang terus-menerus bisa perlahan-lahan menghancurkan rasa percaya dirimu dan membuatmu meragukan nilai dirimu sendiri.
Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang sering dikritik oleh pasangannya cenderung mengalami gejala depresi. Orang seperti ini sering menggunakan kritik sebagai cara untuk mengontrol atau menutupi rasa tidak aman mereka sendiri. Jika kamu terlalu terlibat secara emosional, kamu bisa terkena dampak negatif terhadap kesehatan mental dan harga dirimu.
Ingat, kritik yang membangun itu sehat. Tapi kritik yang berlebihan dan tidak berdasar bisa merusak. Penting untuk bisa membedakan keduanya saat memilih siapa yang layak untuk kamu dekati secara emosional.
5. Si Penolak Perubahan
Kamu pasti pernah bertemu orang yang keras kepala dan enggan berubah, bukan? Mereka adalah si penolak perubahan.
Orang yang begitu takut pada perubahan, terkadang sampai rela bertahan di pekerjaan yang tidak sehat daripada mencoba peluang lain yang lebih baik.
Penolak perubahan seperti ini bukan hanya menghambat pertumbuhan dirinya, tapi juga bisa membuat hubungan menjadi stagnan dan penuh frustrasi. Seperti kata psikolog Carl Rogers, “Orang yang benar-benar terdidik adalah mereka yang tahu bagaimana belajar dan berubah.”
Menjalin hubungan dengan orang yang takut berubah bisa membuatmu merasa terjebak dalam hubungan yang tidak berkembang. Pilihlah orang yang terbuka terhadap perubahan dan perkembangan pribadi.
6. Si Pengejar Prestasi Berlebihan (Overachiever)
Mungkin ini terdengar kontradiktif. Bukankah orang ambisius itu menginspirasi? Bisa iya, tapi juga tidak selalu.
Overachiever adalah orang yang terobsesi dengan kesuksesan dan kesempurnaan, hingga seringkali mengorbankan hubungan pribadi dan bahkan kesehatan mental mereka sendiri.
Psikolog terkenal, Abraham Maslow pernah berkata, “Yang dibutuhkan untuk mengubah seseorang adalah mengubah kesadarannya tentang dirinya sendiri.”
Sayangnya, banyak overachiever yang justru tidak memiliki kesadaran diri ini. Mereka terlalu terfokus pada pencapaian sampai lupa memperhatikan hubungan emosional dengan orang-orang di sekitarnya.
Terlalu dekat secara emosional dengan orang seperti ini bisa membuatmu merasa diabaikan atau tidak cukup baik. Ambisi memang bagus, tapi harus ada keseimbangan dengan koneksi emosional.
7. Si Korban Selamanya
Terakhir, ada si korban abadi – orang yang selalu melihat dirinya sebagai korban dalam setiap situasi.
Menjalin hubungan dengan orang yang selalu merasa jadi korban bisa membuatmu lelah secara emosional dan menghambat perkembangan kalian berdua.
Kita semua memiliki kendali atas hidup kita. Maka penting untuk dikelilingi oleh orang-orang yang juga menyadari dan menggunakan kendali itu.
Memutuskan Lebih Bijaksana
Menjalin hubungan emosional memang bisa jadi perjalanan yang rumit – penuh pelajaran, kadang menyakitkan, tapi juga bisa mencerahkan.
Ketujuh tipe orang di atas bukanlah daftar hitam, tapi panduan agar kamu bisa membuat keputusan yang lebih bijak dalam memilih siapa yang kamu izinkan masuk ke dalam ruang emosimu.
Ingatlah bahwa ini bukan soal menghakimi, tapi soal menjaga kesejahteraan emosionalmu.
Setiap orang yang kamu temui adalah potongan dari puzzle kehidupanmu. Pastikan potongan-potongan itu menyempurnakan gambaran besarmu, bukan merusaknya.
Semoga wawasan ini membantu kita membuat pilihan yang lebih sehat untuk masa depan emosional. Karena apa pun yang terjadi, kesehatan emosionalmu tetap yang utama.
Editor:


