Sebuah film garapan Coralie Fargeat menampilkan paradoks teknologi kecantikan. Film yang rilis tahun 2024 itu menarik penonton untuk lekas berpikir soal standar kecantikan bagi perempuan. Memuakkan, itulah satu kata yang mungkin tepat untuk merepresentasikan standar-standar cantik yang menghantui banyak perempuan sepanjang hidup.
Film itu berjudul The Substance, sinema horor satir yang menampilkan siklus objektifikasi tubuh perempuan dalam dunia kecantikan. Demi Moore, berperan sebagai Elizabeth Sparkle, ditampilkan menjadi seorang aktris yang dulu amat dipuja-puja kemudian mengalami krisis eksistensi karena pertambahan usia.
Dalam upaya mempertahankan popularitas dan kecantikannya, Sparkle mencoba The Substance, sebuah obat misterius yang menjanjikan peremajaan instan dan kecantikan. Setelah mengkonsumsi obat itu, ia secara harfiah melahirkan versi mudanya bernama Sue.
Tak butuh waktu lama, Sue justru malah mengambil hidup dan karier Sparkle. Harapan yang ditanamkan iklan The Substance pada Sparkle nyatanya tak terwujud. Kelahiran Sue hanya menjadi bencana dalam hidupnya.
Visual yang mencolok dan adegan transformasi yang mengerikan bisa ditafsir sebagai perumpamaan dari tekanan yang dihadapi perempuan dalam realitas, termasuk soal standar kecantikan yang sering menarik para perempuan nekat mengambil langkah yang membahayakan dirinya dalam jangka panjang.
Salah satu langkah membahayakan yang paling sering ditempuh adalah lewat industri kosmetik, yaitu skincare. Industri kosmetik tumbuh pesat di Indonesia, namun peredaran produk perawatan kulit (skincare) ilegal yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti merkuri dan hidroquinon masih marak dan sulit diberantas hingga kini. Jutaan perempuan mengalami permasalahan kulit jangka panjang karena tertipu iming-iming kecantikan yang dijual dengan harga murah.
Skincare Lewat Makanan dan Gaya Hidup
Di tengah-tengah maraknya produk perawatan kulit yang menjanjikan hasil instan namun sebenarnya menipu, banyak orang lupa bahwa kulit yang cantik tidak hanya bergantung pada apa yang dioleskan dari luar, tetapi juga pada apa yang dikonsumsi setiap hari.
Cara paling aman yang bisa ditempuh sebenarnya dengan menjaga asupan makanan dan pola hidup. Kulit adalah cerminan dari kondisi tubuh secara keseluruhan, dan makanan yang dipilih punya peran besar dalam menjaga kelembapan, elastisitas, serta perlindungan alami terhadap penuaan dan kerusakan kulit.
Makanan yang dikonsumsi dengan tepat bisa mengandung nutrisi yang bekerja layaknya bahan aktif dalam skincare; seperti vitamin C, A, E, zinc, omega-3, dan bahkan kolagen, yang semuanya berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit dari dalam.
Vitamin C, misalnya, dikenal sebagai antioksidan kuat yang membantu mencerahkan kulit dan merangsang produksi kolagen. Kandungan ini tidak hanya ditemukan dalam serum mahal, tetapi juga melimpah dalam buah-buahan seperti jeruk, kiwi, dan paprika.
Sementara itu, vitamin A yang sering hadir dalam bentuk retinol dalam produk perawatan kulit, sebenarnya bisa diperoleh dari wortel, ubi jalar, dan bayam, semua membantu regenerasi sel kulit dan menjaga tekstur tetap halus.
Vitamin E, yang berfungsi sebagai pelindung dari radikal bebas dan sinar UV, tersedia dalam kacang almond dan biji bunga matahari. Zinc, yang membantu mengurangi peradangan dan mempercepat penyembuhan kulit, bisa didapat dari kacang-kacangan dan daging tanpa lemak.
Lemak sehat seperti omega-3 dari ikan salmon, chia seed dan kenari juga berperan penting dalam menjaga kelembapan kulit dan mengurangi kemerahan akibat iritasi.
Tak kalah penting, makanan fermentasi seperti yogurt, kimchi, dan tempe mengandung probiotik yang membantu menjaga keseimbangan mikrobioma kulit, lapisan bakteri baik yang melindungi kulit dari jerawat dan iritasi. Bahkan kolagen, yang sering dijadikan bahan utama dalam produk anti-aging, bisa diperoleh dari kaldu tulang dan ikan.
Semua nutrisi ini jika dikonsumsi rutin bisa bekerja secara sinergis, memperkuat struktur kulit dari dalam, dan memberikan hasil yang tak kalah dengan skincare. Merawat kulit lewat makanan bukan hanya soal estetika tetapi upaya membangun kecantikan yang berakar pada kesehatan, bukan sekadar penampilan.
Selain makanan, kebiasaan sehari-hari juga bisa mempengaruhi kesehatan kulit. Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele bisa berdampak buruk pada kesehatan kulit. Misalnya, melewatkan penggunaan sunscreen saat beraktivitas di luar ruangan membuat kulit rentan terhadap paparan sinar UV yang dapat mempercepat penuaan dan memicu munculnya flek hitam.
Begitu pula dengan kebiasaan malas mencuci muka sebelum tidur. Sisa makeup, debu, dan polusi yang menempel sepanjang hari bisa menyumbat pori-pori dan menyebabkan jerawat. Konsumsi rokok dan alkohol berlebihan juga turut merusak elastisitas kulit, membuatnya tampak kusam dan lebih cepat menua.
Pola makan yang tidak seimbang, kurang tidur, serta minimnya asupan air putih juga bisa memperburuk kondisi kulit dari dalam, menjadikannya kering dan kehilangan kilau alami. Selin itu, kebiasaan menyentuh wajah dengan tangan yang tidak bersih bisa memindahkan bakteri dan memicu peradangan.
Semua kebiasaan ini, jika dibiarkan, akan mengikis kesehatan kulit secara perlahan. Maka, merawat kulit bukan hanya soal produk mahal, tapi juga soal kesadaran dan kebiasaan kecil yang konsisten dilakukan setiap hari.
Pada akhirnya, tanpa harus dibayang-bayangi kerusakan kulit dan penipuan berbagai kosmetik berbahaya, konsisten memilih makanan alami dan menjaga pola hidup sehat adalah skincare paling aman untuk menjadikan diri menjadi lebih cantik. Meski tidak menjanjikan hasil instan, cara ini menjadi pilihan paling tepat di tengah dunia industri kosmetik yang menyimpan banyak manipulasi.
Editor:


