Dark
Light
Dark
Light

Perempuan dalam Bayang-Bayang Bahasa

Perempuan dalam Bayang-Bayang Bahasa

Dulu, di kampung tempat saya tinggal, pernah ada warga baru bernama A. Ia janda anak satu berbadan sintal. Usianya kira-kira tiga puluh tahun. Rambutnya panjang tergerai, wajahnya cerah, dan suaranya merdu bak alunan biola. Jika berjalan di gang kampung, mata para laki-laki yang kebetulan berpapasan pasti mengikuti lenggak-lenggok tubuhnya. Sering kali tanpa berkedip dan diiringi bunyi siulan.

Saat para bapak-bapak asik tersenyum, para istri harap-harap cemas di depan rumah mereka. Biasanya akan muncul kasak-kusuk membahas perempuan cantik itu. Saya, yang dulu masih duduk di bangku SD hanya bisa menyimak sambil membantu ibu memetik daun bayam dari tangkainya.

Obrolan di teras rumah biasanya diikuti beberapa orang, dramatis dan dialogis ketika membahas perempuan itu. Orang-orang yang hadir akan memberikan pendapat dengan penuh ekspresif. Terkadang menggunakan nada tinggi, lain waktu berbisik-bisik. Makin kecil suaranya makin tajam pendapatnya.

Dari semua obrolan yang pernah saya ikuti, ada beberapa kalimat yang masih saya ingat hingga kini: janda suka menggoda suami orang, janda itu perempuan gatal, janda adalah perempuan pembawa sial, dan janda adalah perempuan yang tidak beruntung. Semua kalimat itu mengantarkan pada sebuah kesimpulan: hati-hati pada perempuan yang menyandang status sebagai janda.

Rentetan kalimat di atas dulu tidak membuat saya resah. Saya telan saja bulat-bulat dan memilih pro dengan ibu-ibu yang merasa terganggu dengan janda itu. Namun, kini pandangan saya berubah. Kalau waktu bisa mundur, saya akan berupaya membubarkan perkumpulan gosip itu, dengan cara apa pun. Minimal melempar-lemparkan bayam yang dulu saya petik atau berpura-pura kesurupan.

Kalimat yang dilontarkan ibu-ibu penggosip kala itu adalah stereotip, salah satu bentuk ketidakadilan gender yang dialami perempuan. Stereotip merupakan anggapan tentang seseorang atau suatu kelompok yang sering kali salah dan tidak adil tapi dianggap sebagai kebenaran oleh banyak orang.

Meyakini janda sebagai ancaman dan seorang perempuan yang mau digoda adalah keliru. Dalam peristiwa di kampung saya, segala tuduhan itu tak pernah terbukti, tapi seolah dianggap benar. Justru sebenarnya A menjadi korban karena mendapatkan kekerasan verbal dari ibu-ibu dan pelecehan seksual dari bapak-bapak melalui catcalling.

Pertanyaan paling mendasar yang mengusik pikiran saya adalah dari mana datangnya keyakinan itu? Kenapa bobot dari kata janda begitu negatif?

Perempuan dalam Bahasa
Bahasa tidak pernah lepas dari nilai. Bahasa merekam budaya dan struktur sosial. Di masyarakat patriarkal, kata-kata sering mencerminkan dominasi laki-laki dari perempuan atau menempatkan perempuan pada posisi yang tidak diuntungkan. Dalam hal ini, salah satu kata yang mengalami nasib demikian adalah ‘janda’.

Kata itu diberikan bobot sangat negatif, berbeda dengan duda, sebutan bagi laki-laki yang tidak beristri karena bercerai atau ditinggal mati. Ini terjadi karena budaya mengarahkan pada hal demikian. Makanan, lagu, film, iklan, dan buku, menyuburkan stereotip seputar janda yang pada akhirnya diamini oleh masyarakat.

Darmawati Mahid, di bukunya bertajuk Gratis Ongkir (Gramedia, 2025) mengulik berbagai bukti yang menyudutkan janda pada posisi inferior. Misalnya di beberapa warung coto di Makassar, janda digunakan sebagai nama menu yang menjurus negatif: coto janda hot (akronim dari jantung daging hati otak), janda panas (jantung daging pakai nasi), haus janda (hati usus jantung daging), lempar janda (lemak paru, jantung daging), dan janda baru (jantung daging babat baru).

Di YouTube dan beberapa platform media, kata janda juga bernasib sama. Berbagai judul dan isinya menyudutkan janda pada makna pengganggu, gatal, dan genit. Sebenarnya, selain pada kata janda, perempuan juga mendapat ketidakadilan dalam kata lain, misalnya pada penyebutan menstruasi menjadi ‘halangan’, lalu ‘perawan tua’ yang dilekatkan untuk perempuan yang memilih tak lekas menikah.  

 

Stereotip sering dianggap menjadi hal remeh karena terlanjur diyakini benar oleh banyak orang. Padahal, stereotip menjadi masalah krusial karena memiliki dampak yang luas dan mendalam, baik secara individu maupun struktural.

Di tingkat personal, stereotip bisa merusak rasa percaya diri, membatasi ekspresi diri, dan membuat perempuan merasa tidak layak untuk mengambil peran penting dalam masyarakat. Secara sosial, stereotip akan memperkuat ketimpangan gender dengan membatasi akses perempuan ke berbagai bidang, seperti pendidikan, pekerjaan, dan ruang pengambilan keputusan.

Saya menjadi kembali mengingat nasib dari A, janda di kampung saya dulu. Apa yang telah dilakukan masyarakat tidak hanya merusak psikologisnya tetapi merenggut banyak hak yang mestinya ia dapatkan dalam bermasyarakat. Perilaku ini seperti rantai kesalahan yang terjalin dari berbagai lapisan yang melibatkan pemangku kebijakan, industri hiburan, masyarakat, hingga ke anak-anak.

Pada akhirnya, stereotip bukan hanya soal kata-kata, tetapi sebuah tindakan yang membentuk cara berpikir, kebijakan, dan perilaku. Dengan kata lain, stereotip bukan sekadar asumsi keliru tetapi menjadi alat yang secara aktif membentuk ketidakadilan gender dan menghambat kemajuan seseorang dalam berbagai aspek kehidupan.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo