Hello Kuala Lumpur
Ibu Kota Keriangan
Hello Kuala Lumpur
Kota Kenang-kenangan
Sudah Lama Aku
Tidak Berjumpa denganmu
Sekarang sudah semakin maju
Aku Suka Sekal
Demikian lirik lagu berjudul Hello Kuala Lumpur asal Malaysia. Video berdurasi 1 menit 43 detik itu diunggah oleh akun YouTube bernama Lagu Kanak TV pada 27 Mei 2020. Video yang menampilkan animasi anak-anak yang sedang bernyanyi sambil memegang bendera Malaysia ini kembali jadi perbincangan warganet dan sempat menjadi trending X.
Lagu Hello Kuala Lumpur memiliki lirik serupa dengan lagu asal Indonesia berjudul Halo-Halo Bandung. Tidak hanya liriknya, lagu berbahasa Melayu itu juga dinyanyikan dengan nada yang sama persis dengan lagu yang diciptakan oleh Ismail Marzuki pada 1946. Karena begitu miripnya, pihak negara Malaysia dituding menjiplak lagu asal Indonesia.
Video ini menuai banyak komentar negatif dari netizen Indonesia. Beberapa di antaranya mengungkapkan bahwa warga negara Malaysia tidak kreatif dan kerap mengklaim karya milik Indonesia.
Namun, ada pula warganet yang menyampaikan pendapatnya dengan mengenyampingkan emosi, sebagaimana dilakukan oleh pemilik akun YouTube bernama @rd5572. Menurutnya, ada beberapa lagu Indonesia yang juga memiliki nada serupa dengan lagu-lagu yang berasal dari luar negeri. Ia menyarankan netizen Indonesia agar tidak terlalu emosi dan sebaiknya melakukan investigasi terlebih dahulu.
"Terlepas dari kasus² Malaysia yg suka klaim ini itu. Khusus untuk masalah lagu saya ga ikut menghakimi karena lagu nasional kita sendiri juga beberapa ada yg nadanya hasil jiplakan lagu lain. Contoh: lagu "ibu pertiwi" nadanya sama persis dgn lagu "what a friend we have in Jesus". Terus lagu "dari Sabang sampe Merauke" nadanya sama dgn lagu "La Marseillaise" dari Prancis. Jadi daripada diperbesar terus mereka juga bilang lagu nasional kita juga hasil jiplak mending jangan terlalu emosi. Jiplak emang salah tapi kita juga harus tau diri. Koreksi: perlu ada investigasi dulu sebelum menyimpulkan sesuatu. Ingat kasus sebelumnya tentang video yg menghina lambang indonesia dan diduga berasal dari malaysia tapi nyatanya orang indonesia sendiri pelakunya? Bisa aja lagu ini dibikin pihak yg sengaja ingin adu domba. Kita jangan gampang terprovokasi terus👐 kalaupun benar pihak malaysia yg buat, kita masih bisa kok pake cara yg damai seperti kasus lagu "rasa sayange"" tulis @rd5572.
Tidak hanya dikomentari oleh netizen Indonesia, video Hello Kuala Lumpur juga dikomentari oleh netizen malaysia. Sebagai warga negara Malaysia, mereka mengaku belum pernah Mendengar lagu tersebut sebelumnya.
@LexDomo
"Sebagai orang Malaysia, tak pernah pula saya dengar lagu ini selama ini"
@azhanazhan822
"itulah...anak2 sedara saya selalu tengok kartun kat you tube, kat tv tapi tak pernah pulak dengar lagu ni....channel yg buat lagu tu sape? org mana? ruang komen pun tutup..."
@gempaxsiot
"Hahahah . Whats a funny, to be honest as malaysian we never know the existence of that song 😂😂 never heard in my life . And never care of that song . Never ever i heard our government claim that song. Nothing to do with us . And never we claim that song is over national song? Hahahah no".
Sejarah Lagu "Halo-Halo Bandung"
Lagu Halo-Halo Bandung adalah lagu yang diciptakan oleh Ismail Marzuki pada tahun 1946. Disebutkan dalam Historia, partitur atau komposisi lagu tersebut termuat dalam buku nyanyian berjudul 10 Lagu Indonesia karya Ismail Marzuki yang terbit pada tahun 1950. Di dalamnya tertulis, musik dan syair lagu tersebut beratasnamakan Ismail Mz.
Ismail Marzuki adalah seorang komposer sekaligus penulis lagu yang lahir pada 1914. Ia menciptakan lagu Halo-Halo Bandung dalam rangka mengenang peristiwa Bandung Lautan Api.
Berdasarakan penuturan istrinya, Eulis Zuraidah, dalam Sinar Harapan, 15 November 1975, dikutip dari Seabad Ismail Marzuki: Senandung Melintas Zaman, ketika peristiwa Bandung Lautan Api terjadi, Ismail sedang berada di Bandung untuk menjenguk mertuanya yang tengah sakit sekaligus mengungsi.
Sesampainya di Bandung, situasi dan kondisi di sana sangat rusuh akibat kobaran api yang menyala-nyala. Sebagian kota Bandung terbakar sehingga menciptakan pemandangan bak lautan api.
"Dari situlah ismail memperoleh ilham untuk menciptakan 'Halo-Halo Bandung'," kata Euis.
Peristiwa Bandung Lautan Api
Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung pada 23 Maret 1946. Dalam kurun waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Pada saat Inggris menduduki kota Bandung, mereka telah membagi kota tersebut menjadi dua bagian, yaitu Bandung Utara dan Bandung Selatan. Bandung Utara adalah wilayah yang mereka duduki, sementara Bandung Selatan adalah tempat tinggal rakyat Indonesia.
Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR, diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Malam 21 November 1945, TKR dan badan- badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.
Namun ultimatum tersebut tidak dihiraukan oleh rakyat Indonesia dan para pejuang sehingga menyulut kemarahan pihak Inggris. Pasukan NICA akhirnya memutuskan untuk menyerang rumah-rumah mereka. Rakyat Indonesia pun terpaksa mundur dan meninggalkan Bandung Utara menuju Bandung Selatan.
Ultimatum yang kedua diberikan pada 23 Maret 1946. Sama seperti ultimatum sebelumnya, ultimatum kedua juga memerintahkan pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk meninggalkan Bandung Selatan. Disampaikan secara lebih spesifik, ultimatum tersebut memerintahkan untuk menjauh ke luar kota hingga berjarak sekitar 10-11 km dari pusat kota. Ultimatum ini harus dilaksanakan paling lambat 24 Maret 1946 pukul 24.00.
Mendengar ultimatum kedua, panglima Divisi III Siliwangi, Kolonel A.H. Nasution, bergegas pergi ke Jakarta untuk menemui Soetan Sjahrir. Sesampainya di sana, ia didesak oleh Soetan Sjahrir untuk mematuhi ultimatum tersebut demi keselamatan pasukan TRI. Kolonel A.H. Nasution pun kembali ke Bandung dan mengadakan pertemuan dengan Komandan TRI.
Setelah melakukan perbincangan, mereka sepakat untuk meninggalkan Bandung Selatan bersama dengan pasukan TRI, para pahlawan lainnya, pemerintah sipil, dan rakyat Indonesia. Akan tetapi, sebelum meninggalkan Bandung Selatan mereka akan membumihanguskan kota Bandung terlebih dahulu.
Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung.
Tepat pada 24 Maret 1946 pukul 14.00, lewat radio RRI, kolonel A.H. Nasution mengumumkan kepada seluruh rakyat Indonesia yang berada di Bandung Selatan untuk meninggalkan kota bersama dengan pasukan TRI dan pejuang lainnya. Pada hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.
Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu.
Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit.
Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota, sehingga Bandung pun menjadi lautan api.
Pembumihangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini mengilhami lagu Halo, Halo Bandung yang nama penciptanya sebenarnya masih menjadi bahan perdebatan.
Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo, Halo Bandung" secara resmi ditulis, menjadi kenanganakan emosional para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api. Bandung Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumihangusan tersebut.
Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.
“Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, di situ timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air."-A.H Nasution, 1 Mei 1997.
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.
Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul "Bandoeng Djadi Laoetan Api". Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi "Bandoeng Laoetan Api".
Editor: Muhammad Zunus


