Dark
Light
Dark
Light

Setelah Meraih Kemenangan Idul Fitri, Lalu Apa? Ini Cara Memaknainya Menurut Fahrudin Faiz

Setelah Meraih Kemenangan Idul Fitri, Lalu Apa? Ini Cara Memaknainya Menurut Fahrudin Faiz

Jakarta, Arina.id — Umat Islam kerap menyebut Idul Fitri sebagai hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadhan. Namun, pertanyaan penting yang sering luput diajukan adalah: apa yang harus dilakukan setelah kemenangan itu diraih?

Pemikir Islam, Fahrudin Faiz, menilai bahwa Idul Fitri seharusnya tidak berhenti pada euforia kemenangan, melainkan menjadi titik awal perubahan diri yang lebih mendalam.

"Nah, jadi ini momen Idul Fitri ini ternyata momen luar biasa yang diawali dari kemenangan kita. Kita kan jarang bertanya, ‘Kalau sudah kemenangan, terus apa yang harus saya lakukan? Implikasinya apa? Buahnya apa?’” ujarnya dalam tayangan video Youtube Mengaji Filsafat diakses Kamis (26/3/2026).

Menurut Faiz, kemenangan dalam Idul Fitri bukan sekadar simbol keberhasilan menahan lapar dan dahaga, tetapi kemenangan dalam membentuk kualitas batin. Kemenangan itu, kata dia, berujung pada terbentuknya jiwa yang lebih tenang dan matang secara spiritual.

“Ternyata kemenangan itu ujungnya adalah jiwa kita yang menjelma menjadi mutmainah,” jelasnya.

Ia menjelaskan, fondasi dari kondisi tersebut adalah ketakwaan. Takwa membentuk jiwa yang patuh, taat, dan mampu menjalankan perintah-perintah Allah. Inilah yang dalam ajaran Islam disebut sebagai falah atau kemenangan sejati.

“Kalau sudah falah, gembira dan bersyukur. Karena gembira kita bahagia. Karena bersyukur kita dekat dengan Allah,” lanjutnya.

Lebih jauh, Faiz mengajak umat Islam untuk memahami Idul Fitri secara filosofis. Secara bahasa, Idul Fitri dapat dimaknai sebagai kembali berbuka atau kembali makan. Namun, ia menegaskan bahwa makna tersebut memiliki dimensi yang lebih dalam.

Selain itu, Idul Fitri juga berarti kembali kepada fitrah, yaitu kondisi asli manusia yang suci. Dalam perspektif tasawuf, hal ini merupakan bagian dari perjalanan minal haq ilal khalq, yakni dari kedekatan dengan Tuhan menuju kembali ke kehidupan sosial.

“Ramadan satu bulan itu kan semacam kita ini sedang latihan, sedang dididik, sedang di-training di wilayah al-Haq,” ungkapnya.

Faiz mengibaratkan Ramadhan sebagai proses riyadhah atau latihan spiritual, serupa dengan praktik uzlah yang dilakukan para sufi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah menjalani proses tersebut, manusia diharapkan kembali ke masyarakat dengan kualitas diri yang lebih baik.

“Kalau sudah didapat, kembali ke masyarakat sehingga bisa memberi manfaat lebih banyak, lebih besar. Jadi Idul Fitri ini semacam kita pulang dari uzlah,” katanya.

Dengan demikian, Idul Fitri bukan sekadar penutup Ramadhan, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Kemenangan yang diraih seharusnya tercermin dalam sikap, perilaku, dan kontribusi nyata di tengah kehidupan sosial.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo