Jakarta, Arina.id—Marbot masjid dan mushola kini tidak lagi dipandang sekadar petugas kebersihan. Dalam rancangan kompetensi yang disusun Sub Kemasjidan Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Direktortar Jenderal Bimbinga Masyarakat Islam Kemneterian Agama, para marbot diposisikan sebagai garda terdepan pelayanan jamaah dan pengelolaan masjid secara profesional. Mereka diharapkan memiliki empat kompetensi utama: ubudiyah, operasional, manajerial, serta sosial dan digital.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah (Urais Binsyar), Arsad Hidayat, menegaskan bahwa marbot memegang peran penting dalam mewujudkan masjid yang ramah bagi semua kalangan dari lansia, anak-anak, musafir, hingga penyandang disabilitas.
“Marbot menjadi ujung yang sangat penting dalam menjaga kebersihan dan hal-hal lainnya. Jangan sampai ada sikap antiperbedaan. Justru marbot harus menjadi inisiator keramahan,” ujar Arsad Hidayat saat membuka agenda Temu Nasional Marbot Masjid Indonesia di Jakarta, Senin (24/11/2024).
Arsad menegaskan bahwa masih banyak masjid yang dikunci rapat sehingga musafir tidak bisa melaksanakan salat. Menurutnya, marbot berperan memastikan masjid tetap aman namun tetap menyediakan akses bagi jamaah.
“Marbot bertanggung jawab terhadap keamanan dan kenyamanan masjid, namun tetap harus memfasilitasi jamaah. Jangan sampai orang yang datang dari luar kota tidak bisa salat karena pintu dikunci,” ujarnya.
Untuk itu para marbot perlu menguasai beberapa kompentensi
1. Kompetensi ubudiyah
Marbot diharapkan memiliki kemampuan ibadah yang mumpuni. Jika imam atau khatib berhalangan, marbot dapat menjadi pengganti.
"Azan, komat, dan bacaan Qur’annya harus bagus serta teruji. Ini bagian dari kompetensi ubudiyah,” jelas Arsad.
Selain itu, marbot harus mengetahui fikih dasar, terutama fikih taharah, agar kebersihan masjid sesuai standar kesucian ibadah.
“Ada marbot yang tahu mengepel, tapi belum tentu tahu membersihkan najis. Padahal masjid harus suci dari hadas dan najis. Untuk itu marbot harus tahu cara membersihkan najis. Misalnya ada kotoran, apakah cukup dilap dengan kain dan dipel, atau harus melakukan langkah lain yang sesuai fikih," katanya.
2. Kompetensi operasional
Arsad juga menyoroti kemampuan teknis yang seringkali tidak diperhatikan. Masalah sederhana seperti pengeras suara berdengung bisa mengganggu khutbah Jumat, salat Id, hingga acara besar yang sedang diadakan di masjid.
"Penguasaan alat elektronik sangat penting. Tidak mungkin setiap gangguan harus menunggu orang lain datang memperbaiki,” tegasnya.
Kompetensi ini mencakup pengetahuan dasar tentang listrik, lampu, dan pengeras suara. Marbot harus tahu mana posisi saklar untuk mematikan dan menghidupan lampu di ruang masjid dan bagian luar masjid misalnya.
3. Kompetensi manajerial dan administratif
Tak kalah penting par marbot juga harus cakap dalam pengelolaan harian masjid. Mereka menjadi pihak pertama yang mengetahui kendala operasional, mulai dari lampu mati sampai kebutuhan perawatan fasilitas.
"Marbot sekarang harus bisa membuat laporan pengeluaran, menata karpet, dan mengatur orang-orang untuk saling membantu,” ujar narasumber.
Kemampuan administrasi ini menjadikan marbot bagian penting dalam sistem manajemen masjid yang tertib dan transparan.
4. Kompetensi sosial dan digital
Selain ramah dalam interaksi langsung, marbot juga diharapkan menguasai kemampuan komunikasi digital.
“Orang yang datang ke masjid sering berinteraksi pertama kali dengan marbot. Jika marbot kurang baik, jamaah bisa berkesan buruk tentang masjid, tersebut” katanya.
Marbot perlu menyapa jamaah dengan sopan, menawarkan bantuan, sekaligus memiliki kemampuan membuat laporan digital atau mengelola media sosial masjid untuk menyebarkan informasi kegiatan sosial, seperti santunan anak yatim atau penyaluran bantuan masyarakat.
Penopang masjid berdaya
Kasubdit Kemasjidan, Nurul Badruttamam, dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya peningkatan kapasitas marbot. Nurul menyampaikan, selama tiga hari, peserta akan mendapat pembinaan intensif dari berbagai narasumber, termasuk Biro Dikmental Pemprov DKI, LTM PBNU, staf khusus Menteri Agama, hingga Wakil Gubernur DKI. Pada hari kedua, Menteri Agama dijadwalkan hadir memberikan pengarahan sekaligus menyerahkan hadiah sayembara kaos bertema kemasjidan.
“Kami senang bisa bertemu para marbot dari seluruh Indonesia. Ini pertemuan orang-orang hebat yang menghidupkan masjid di daerahnya. Kami siap membina dan menguatkan marbot se-Indonesia,” ujarnya.
Nurul juga meminta seluruh peserta untuk aktif mendokumentasikan kegiatan dan mempublikasikannya di media sosial masing-masing.
“Minimal punya Facebook atau Instagram. Kita ingin masjid-masjid yang dikelola marbot menjadi lebih dikenal, lebih dekat, dan lebih dipercaya masyarakat,” katanya.
Temu Nasional Marbot Masjid Indonesia diikuti perwakilan dari 34 provinsi di Indonesia, menjadi wadah berbagi pengalaman sekaligus penyamaan standar kompetensi marbot.
Diharapkan kegiatan ini menjadi titik awal lahirnya marbot profesional yang tidak hanya menjaga masjid tetap bersih dan aman, tetapi juga mampu menjadi komunikator publik, pengelola teknologi, dan penyambut jemaah yang penuh keramahan.
Editor: Kendi Setiawan


