Perjalanan Abdul Malik dari penyuluh honorer hingga resmi dilantik menjadi PPPK Kemenag bukan sekadar kisah karier biasa. Ada cerita panjang dedikasinya menumbuhkan cinta Alquran di kalangan anak-anak muda Kota Solok.
Abdul Malik mengajar mengaji di masjid dan berdakwah sampai ke media sosial. Begitulah ia memadukan tradisi dan teknologi untuk mendidik ratusan anak-anak agar cinta Alquran hingga lintas negara.
Bagi Abdul Malik, jalan dakwah bukan sekadar profesi, tapi panggilan jiwa. Sejak tahun 2010, dia sudah mengabdikan diri sebagai penyuluh agama honorer.
Enam tahun kemudian, tepatnya 2016, langkahnya sempat terhenti. Kementerian Agama (Kemenag) melakukan pengurangan jumlah penyuluh di tiap Kantor Urusan Agama (KUA), dan Malik tak termasuk dalam delapan orang yang dipertahankan di Kota Solok.
Namun, alih-alih berhenti, Malik justru terus melanjutkan penyuluhan di pondok pesantren dan pondok Alquran di Solok. "Walaupun tidak masuk sebagai penyuluh di Kemenag, saya tetap lanjut penyuluhan di pondok-pondok,” ujarnya, Senin (27/10/2029).
Perjuangan panjang itu berbuah hasil pada Juni 2022. Saat Kemenag kembali membuka peluang bagi penyuluh non-PNS, ia pun mengajukan berkas lagi. Dua tahun kemudian, tepatnya 23 Oktober 2025, Malik resmi dilantik sebagai PPPK Kemenag.
Sebagai penyuluh agama, Malik menjalankan peran yang lebih luas dari sekadar berceramah. Ia menyebut ada lima fungsi utama dalam tugasnya: informatif, edukatif, advokatif, konsultatif, dan pembinaan masyarakat.
Namun ada satu bidang yang menjadi fokus utamanya, yakni pemberantasan buta aksara Alquran di kalangan generasi muda sebagai pelanjut agama Islam di masa depan.
"Saya rutin mengajar anak-anak mengaji agar kelak mereka paham tentang apa itu Alquran dan bagaimana fungsinya untuk kehidupan," kata lulusan Fakultas Dakwah UIN Imam Bonjol Padang itu.
Ia percaya, kemampuan membaca Alquran dengan baik bukan hanya urusan ibadah, tapi juga pondasi moral dan karakter generasi muda.
Dari Masjid hingga Media Sosial
Di tengah kesibukan sebagai penyuluh, Malik juga aktif mengajar Alquran di berbagai platform digital. Melalui YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, hingga Zoom dan WhatsApp video call. Dia menjangkau murid dari berbagai daerah, bahkan luar negeri.
“Alhamdulillah diterima oleh masyarakat, baik dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.
Bagi Malik, teknologi bukan penghalang dakwah, tapi sarana memperluas keberkahan. Di dunia maya, ia berbagi ilmu, melatih bacaan, dan memotivasi siapa pun yang ingin memperbaiki hubungannya dengan Alquran.
Salah satu kegiatan yang paling ia cintai adalah membina anak-anak usia dini belajar mengaji dan memperdalam irama tilawah. Saat ini, programnya tersebar di berbagai masjid di Kota Solok, dengan total sekitar 150 anak didik.
Jadwalnya padat. Dalam sehari, Malik bisa mengajar di dua hingga tiga tempat binaan. "Setiap hari tidak selalu, tapi dalam satu hari bisa sampai tiga lokasi,” katanya.
Usaha itu bukan tanpa hasil. Sejak dimulai pada 2016, beberapa muridnya telah menorehkan prestasi membanggakan, seperti juara tilawah tingkat kota hingga provinsi Sumatera Barat (Sumbar).
Namun, membina generasi muda di era digital tentu punya tantangan. Malik mengaku, anak-anak kini lebih tertarik pada ponsel ketimbang mushaf.
“Sulit mengajak anak-anak usia dini untuk datang spontan, karena mereka lebih suka main HP. Saya banyak membujuk orang tua agar memotivasi anaknya,” ceritanya.
Perjuangannya tidak sia-sia. Kekinian, anak-anak mulai datang dengan kemauan sendiri. Bahkan, ia saling mengajak teman sebaya. “Awalnya dipaksa, tapi karena banyak teman yang ikut, akhirnya mereka mau juga,” katanya.
Malik bersyukur programnya berjalan semakin baik. Anak-anak yang dulu belajar dengannya kini menjadi inspirasi bagi adik-adik mereka selanjutnya.
“Mereka melihat kakak dan seniornya sudah berhasil, bahkan ada yang sampai tingkat nasional dan internasional,” katanya.
Bagi Abdul Malik, harapan utamanya sederhana saja. Dia ingin setiap anak tumbuh mencintai Alquran dan mampu membacanya dengan baik.
“Harapan saya, anak-anak ini terhindar dari buta aksara Alquran, menjadi generasi cinta Alquran, berkarakter islami, dan punya kepercayaan diri,” tuturnya.
Dengan semangat yang tak pernah padam, Abdul Malik bukan hanya penyuluh agama. Ia adalah penggerak yang menyalakan cahaya Alquran di hati generasi muda Kota Solok. Dia membimbing mereka menuju masa depan yang penuh iman dan ilmu.
Abdul Malik menjadikan dakwah sebagai gerakan sosial yang hidup di masjid hingga dunia maya. Dari mengajar anak-anak mengaji hingga melahirkan juara tilawah, ia membuktikan bahwa penyuluh agama bisa menjadi penggerak generasi Qurani masa depan. (IKI)
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama
Editor: Muhammad Taufiq


