Sharif Osman Hadi, tokoh terkemuka gerakan pro-demokrasi Bangladesh, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Singapura, Kamis (19/12/2025), setelah menjalani perawatan intensif akibat luka tembak di kepala.
Hadi sebelumnya ditembak oleh dua orang bersenjata yang mengendarai sepeda motor. Penembakan terjadi saat ia menumpangi becak motor bertenaga baterai. Kedua pelaku berhenti di samping kendaraan korban sebelum melepaskan tembakan ke arah kepala. Hadi segera dilarikan ke Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Dhaka.
Akibat serangan tersebut, Hadi mengalami kerusakan serius pada batang otak. Ia kemudian dipindahkan ke Unit Perawatan Intensif (ICU) bedah saraf Rumah Sakit Umum Singapura pada 15 Desember 2025.
“Meskipun para dokter telah melakukan upaya terbaik, Sharif Osman Hadi meninggal dunia akibat luka-lukanya,” kata Kementerian Luar Negeri Singapura dalam pernyataan resmi, Kamis.
Kematian Hadi memicu gelombang duka yang dengan cepat berubah menjadi kemarahan publik di Bangladesh. Protes pecah di berbagai wilayah, disertai meningkatnya sentimen anti-India. Sejumlah aksi massa berujung pada serangan terhadap media yang dianggap memiliki garis editorial pro-India.
Para demonstran menuntut pengunduran diri pejabat tinggi di Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum. Mereka menuding pemerintah gagal menjamin keselamatan Hadi. Massa juga menuntut agar para pelaku penembakan segera ditangkap dan dipulangkan ke Bangladesh, di tengah keyakinan luas bahwa para pelaku telah melarikan diri ke India.
Jurnalis Al Jazeera Tanvir Chowdhury mengatakan mayoritas pengunjuk rasa berasal dari kalangan mahasiswa, namun juga diikuti warga dari berbagai lapisan masyarakat serta unsur partai politik.
“Slogan utama mereka adalah ‘Kami menginginkan keadilan’ bagi Sharif Osman Hadi,” ujar Chowdhury. Para demonstran menegaskan aksi protes akan terus berlanjut jika para pelaku tidak segera diadili.
Sejumlah aksi kekerasan juga terjadi. Sekelompok demonstran berkumpul di depan kantor pusat harian berbahasa Bengali Prothom Alo di kawasan Karwan Bazar, Dhaka, yang mereka anggap pro-India. Massa kemudian menerobos masuk ke gedung tersebut. Tak jauh dari lokasi itu, kelompok lain menyerbu kantor Daily Star dan membakar gedung media tersebut.
Sharif Osman Hadi, 32 tahun, dikenal sebagai salah satu pemimpin utama pemberontakan mahasiswa di Bangladesh pada 2024. Ia menjabat juru bicara Inquilab Mancha atau “Platform untuk Revolusi”.
Hadi berencana mencalonkan diri sebagai anggota parlemen dari daerah pemilihan Dhaka-8, wilayah Bijoynagar, dalam pemilihan umum yang diperkirakan berlangsung pada Februari 2026.
Ia juga dikenal sebagai kritikus vokal terhadap India, termasuk terhadap peran dan pengaruh New Delhi dalam politik domestik Bangladesh. India menjadi tempat pelarian mantan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina setelah digulingkan dalam pemberontakan tahun lalu.
Editor: Muhammad Zunus


