Jakarta, Arina.id—Amerika Serikat dan Iran resmi menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan ini mencakup komitmen penghentian serangan oleh AS serta pembukaan akses Selat Hormuz oleh Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil setelah dialog dengan Perdana Menteri Pakistan dan Marsekal Lapangan Syed Asim Munir.
"Mereka meminta agar saya menahan penggunaan kekuatan destruktif yang akan dikerahkan malam ini ke Iran. Dengan syarat Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman Selat Hormuz, saya setuju menangguhkan pengeboman dan serangan selama dua minggu," ujar Trump lewat akun pribadinya X dilihat Rabu (8/4).
Trump juga menyatakan telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang akan menjadi dasar negosiasi lanjutan untuk mengakhiri konflik.
Meski belum dirilis secara resmi, ringkasan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengungkap sejumlah poin utama yang diajukan Teheran, yakni:
1. AS harus berkomitmen menjamin tidak melakukan agresi.
2. Iran tetap mengontrol Selat Hormuz.
3. Pengakuan hak Iran memperkaya uranium untuk program nuklir.
4. Pencabutan seluruh sanksi utama terhadap Iran.
5. Penghapusan sanksi sekunder terhadap pihak asing yang bekerja sama dengan Iran.
6. Penghentian seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran.
7. Pengakhiran resolusi Badan Energi Atom Internasional terkait program nuklir Iran.
8. Pembayaran kompensasi kepada Iran atas kerusakan akibat perang.
9. Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan Timur Tengah.
10. Gencatan senjata di semua front, termasuk konflik Israel–Hizbullah di Lebanon.
Iran juga menyatakan akan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata berlangsung. Langkah ini dilakukan untuk mendukung proses negosiasi dengan AS.
"Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dibuka melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran, dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis," kata Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Sementara itu, laporan Al Jazeera menyebut pejabat Israel mengaku mendapat pemberitahuan mendadak terkait kesepakatan ini.
Di tengah perkembangan tersebut, Israel diperkirakan akan berupaya memengaruhi kebijakan AS agar membatalkan gencatan senjata dan kembali mengambil langkah militer terhadap Iran.
"Untuk saat ini, posisi Israel masih belum pasti dan tengah mempertimbangkan langkah strategis, termasuk kemungkinan menolak kesepakatan jika implementasi gencatan senjata benar-benar berjalan," tulis Al Jazeera.
Editor: Suci


