Dark
Light
Dark
Light

Menjaga Hidayah, Kisah Inspiratif Afra Khanza Penjaga Ratusan Mualaf di Riau

Menjaga Hidayah, Kisah Inspiratif Afra Khanza Penjaga Ratusan Mualaf di Riau

Di tengah riuhnya kegiatan di Masjid Agung An-Nur Riau, belasan pria dan wanita berjalan tegap menuju sebuah aula kecil di sisi tangga masjid.

Ada yang datang dengan langkah malu-malu, ada yang dengan semangat tinggi membawa buku catatan. Dari anak-anak hingga ibu paruh baya, mereka semua datang dengan satu tujuan yaitu belajar mengenal Islam.

Di ruangan itu, seorang perempuan tampak sibuk mempersiapkan segala keperluan. Dengan gerak cekatan, ia menata kursi, menyiapkan alat tulis, hingga memastikan ustaz yang akan mengisi materi telah tiba. Wajahnya tenang, senyumnya hangat.

Dialah Afra Khanza, sosok yang akrab disapa bu Rere. Di balik ketulusannya hari ini, tersimpan kisah panjang tentang pencarian, kehilangan arah, dan perjuangan menemukan cahaya iman.

Nama aslinya Angela Distresia. Perempuan 51 tahun itu merupakan Sekretaris Mualaf Center Riau, mengayomi dan membimbing lebih dari seratus mualaf setiap tahunnya.

Tersesat dalam Pencarian, Ditemukan oleh Cahaya

Rere masih ingat betul masa-masa kelam dalam hidupnya. Tahun 2012 menjadi titik awal goyahnya keyakinan. Ia kehilangan arah, dihantam masalah keluarga, bahkan sempat ragu apakah Tuhan benar-benar ada.

“Waktu itu rasanya kosong. Aku berdoa, tapi seperti tak ada jawaban. Aku bahkan sempat berpikir, untuk apa hidup ini? Pernah juga terpikir untuk mengakhiri semuanya,” tuturnya lirih.

Namun di tahun-tahun berikutnya, benih hidayah mulai tumbuh. Pernah suatu ketika sekitar tahun 2014 saat pesawat yang ia tumpangi mengalami turbulensi hebat.

Suasan panik menyelimuti isi pesawat itu. Ia mendengar para penumpang Muslim di sekitarnya beristigfar namun ia sendiri tidak tahu harus berbuat dan mengucap apa.

“Aku ikut mengucap ‘Astaghfirullah’ tanpa sadar. Namun setelah itu aku memcari tahu dan belajar  siapa sebenarnya Tuhan yang bisa menenangkan hatiku,” kenangnya.

Dari rasa ingin tahu itu, ia mulai membaca, menonton kajian, dan berdiskusi dengan teman-temannya yang Muslim dan perlahan ia menemukan ketenangan.

Pada pertengahan 2014, ia nekat ke Jakarta dan meminta teman muslimnya untuk mengajari shalat hingga akhirnya ia mengucapkan dua kalimat syahadat di salah satu masjid perumahan di Jakarta. Sejak saat itu, Angela Distresia resmi menjadi Afra Khanza, muslimah yang menemukan kembali arah hidupnya.

Perjalanan Afra setelah masuk Islam tidaklah mudah, ia dikucilkan bahkan bahkan jauh dari keluarga. Namun, dalam perjalanan ia nekat pergi ke Pekanbaru untuk belajar dan mengikuti banyak kajian di Masjid Annur Pekanbaru.

Harus Nekat, Berani, dan Melawan Arus

Perjalanan Afra setelah masuk Islam tidaklah mudah. Ia mengaku, di awal-awal keislamannya, ia sering dihadapkan pada ujian pahit.

“Saat awal datang ke Islam itu... pahit-pahit semua rasanya. Harus nekat, berani, bahkan melawan arus. Tapi saya selalu memastikan satu hal bahwa masuk Islam bukanlah paksaan. Karena hidayah sejati datang dari hati, bukan dari tekanan,” ujarnya mantap.

Pengalaman itulah yang membuatnya mampu memahami para mualaf baru lebih dalam.

“Sekarang, saya bisa berbagi dan membahagiakan karena saya tahu rasanya. Sejatinya, tidak ada yang lebih memahami mualaf selain sesama mualaf itu sendiri,” katanya.

Lebihlanjut, Afra percaya, setiap mualaf datang dengan luka dan kekuatan masing-masing. Maka, tugasnya adalah memastikan mereka tidak berjalan sendiri.

Menjadi Tempat Berpulang Bagi yang Baru Berhijrah

Kini, hampir setiap pekan, Afra hadir di Masjid Agung An-Nur bersama tim Mualaf Center Riau. Ia menyambut siapa pun yang ingin mengenal Islam, mendampingi proses syahadat, hingga membantu mereka belajar dasar-dasar agama islam dengan penuh kesabaran.

Dari data yang ia miliki sebagai sekretaris, setiap tahun lembaga yang ia dampingi mencatat antara 90 hingga 100 orang mualaf baru di Riau. Angka itu terus bertambah, dan Afra memastikan semuanya mendapatkan perhatian dan bimbingan yang layak.

“Sukanya, bisa terus berdampingan dan membantu mereka belajar Islam. Tapi dukanya juga ada. Kadang semangat sudah tinggi, tapi yang hadir di pelatihan cuma sedikit. Alasannya macam-macam, ada yang sibuk kerja, ada yang malu, bahkan ada yang bilang tidak punya ongkos,” ujarnya tersenyum.

Namun bagi Afra, jumlah bukanlah ukuran. Baginya, satu hati yang tetap istiqamah lebih berharga daripada puluhan yang datang tanpa arah.

Afra selalu menegaskan bahwa berkumpul dengan sesama mualaf adalah sumber kekuatan. “Saat kita berkumpul bersama, itu yang paling menguatkan. Karena kita tahu, kita tidak sendiri dalam perjuangan ini,” katanya.

Afra juga kerap menjadi tempat curhat, pelipur lara, bahkan penopang semangat bagi para mualaf yang ditolak keluarganya.

Bagi Afra, menjadi Muslim bukan hanya tentang ibadah pribadi, tapi juga tentang menebar kasih dan keberanian untuk bertahan. Kini, setiap kali melihat seorang mualaf baru mengucapkan dua kalimat syahadat, air mata bahagia Afra menetes dengan sendirinya.

Ia melihat dirinya di masa lalu seorang yang kehilangan arah, kini menjadi penerang bagi banyak jiwa yang baru menemukan cahaya. "Hidayah itu hadiah, bukan hasil. Tugas kita hanya satu menjaganya agar tetap menyala," katanya dengan senyum penuh syukur. (FAI)

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama
 


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo