Tawa pecah, suara terbahak-bahak sering kali terdengar saat Guru Mukani sudah memegang mikropon di tangannya. Binar antusias terlihat dari sorot mata audiens yang mendengarkannya. Tepuk tangan tak berhenti memecah suasana yang hening sebelumnya.
Dikenal dengan perangainya yang jenaka, Guru Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Syafi'iyah Seblak itu justru dinilai dapat merekatkan emosional ruang kelas, ruang diskusi maupun forum literasi yang ia datangi melalui humor yang ia bawakan. Meski memiliki selera humor tinggi, pria kelahiran Nganjuk, 14 Maret 1981 tersebut adalah salah satu penulis non fiksi dan penggerak literasi di bidang literasi ilmiah populer. Sudah 37 judul buku ber-ISBN (Nomor Buku Standar Internasional), 41 judul jurnal ilmiah terindeksi Sinta dan lebih dari 200 opini yang tersebar di media massa.
Bahkan tujuh bukunya yang telah terbit, diberi pengantar oleh profesor. Di antaranya, Pergulatan Ideologis Pendidikan Islam oleh Prof Masdar Hilmy dari UINSA (2011), Dinamika Pendidikan Islam oleh Prof Masykuri Bakri dari Unisma (2016), Berguru ke Sang Kiai oleh Prof Nur Akhid dari IAIN Kediri (2016).
Berikutnya, Sejarah Pendidikan Islam Nusantara oleh Prof MN Harisuddin dari UIN Jember (2021), buku Membaca Pendidikan Indonesia oleh Prof Masdar Hilmy dari UIN Sunan Ampel Surabaya (2021), Kiai Gado-Gado (2022) dan Nasionalisme Generasi Milenial (2024) oleh Prof Ngainun Naim dari UIN Tulungagung.
"Insyaallah akan segera terbit juga buku bersama teman-teman tentang biografi Kiai Kampung di Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang yang akan segera kita finishing dan launching awal tahun depan," terang Mukani saat ditemui di kediamannya Desa Kayangan, Diwek, Jombang, Senin (20/10/25).
Hal yang berkesan, lanjut Mukani dari salah satu bukunya adalah buku yang berjudul Berguru ke Sang Kiai (2016). Selain buku tersebut adalah hasil tesisnya tentang Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari (Pendiri NU) juga buku tersebut adalah buku yang dipamerkan dalam adegan film Hati Suhita (2023) karya Ning Khilma Anis.
Sebagai guru yang penulis, ia juga telah tersertifikasi penulis profesional. Mukani adalah penulis profesional pada skema buku non fiksi sejak tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) RI di Jakarta.
Pola komunikasi yang dikembangkan oleh Mukani dalam menggalakkan literasi dengan bumbu humor adalah sebuah langkah yang tepat. Salah satunya adalah untuk memikat kawula muda agar tertarik dengan dunia literasi yang semakin ditinggalkan. Hal ini senada dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Erik Wijaya, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (2016) dengan judul Hubungan Humor, Kecerdasan Emosi, dan Tipe Kepribadian (OCEAN) pada Remaja menyebutkan bahwa terdapat sebuah korelasi antara selera humor dengan kecerdasan seseorang.
Dalam penelitian tersebut dijelaskan, bahwa humor memiliki peran dalam membangun interaksi dengan orang lain, sebab humor mampu mengurangi tekanan atau stres yang dialami oleh individu. Selain itu, dengan humor setiap individu mampu menerima perbedaan masing-masing (Suyasa, 2010). "Sense of humor merupakan salah satu faktor penting yang mampu memberikan pengaruh pada kebermaknaan hidup individu," tulis penelitian tersebut.
Meski banyak tokoh penggerak literasi di Jawa Timur, tidak banyak yang memiliki selera humor yang tinggi layaknya Guru Mukani. Selera humor tersebut ia dapatkan tidak secara instan. Sejak kecil ia menimba ilmu di lingkungan pondok pesantren, yaitu Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak Jombang yang kala itu diasuh oleh Kiai Lukman Hakim. Kiai Luqman adalah salah satu cicit dari Hadratussyaikh M KH. Hasyim Asy'ari Tebuireng.
"Menurut saya pesantren sangat erat dengan humor. Lihat saja Gus Dur punya selera humor yang tinggi meskipun yang disampaikan semua itu bukan guyonan tapi cara penyampaiaanya beliau dengan guyonan sehingga dapat diterima semua kalangan," tegasnya lebih lanjut.
Keberkahan Kiai di Hidup Mukani
Terlahir dari keluarga sederhana tak membuat Mukani kecil patah semangat dan putus sekolah. Ayahnya Suhadak adalah buruh tani dan tukang tambal ban depan rumah. Sedangkan Almarhum Ibunya Darmis juga tak jarang turut menjadi buruh tani semasa hidupnya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Namun, di tengah keterbatasan ekonomi kedua orang tuanya tetap mendorong Mukani untuk terus belajar dan sekolah yang tinggi.
"Saya waktu kelas 1 SMP di Rejoso Nganjuk, saya ditawari oleh wali kelas namanya Pak Daryanto untuk mondok di Tebuireng. Beliau tahu saya pinter dan saya orang yang tidak mampu. Beliau nawari, kamu mau tidak mondok di Tebuireng? Langsung saya jawab mau," tambahnya.
Diceritakan, Mukani kecil yang baru lulus SMP pindah dari Kota Angin Nganjuk ke Kota Santri Jombang. Tepatnya ia melanjutkan jenjang pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Syafi'iyah Seblak sebuah lembaga di bawah naungan Pondok Pesantren Seblak, Diwek Jombang (berdiri 1962M/1382H).
Saat itu, bagi Mukani kecil. Pondok adalah pelarian agar ia tidak disuruh pergi bekerja ke sawah alias "melipir". Namun, setelah ia menjalani kehidupan mondok di pesantren, ia merasa lebih kerasan.
Bagi Mukani, Kiai Lukman adalah salah satu orang yang berjasa dalam hidupnya. Kiai Lukman tidak hanya mengajarkan ilmu agama semata namun juga mengajarkan perjuangan hidup yang sesungguhnya.
Menurut Mukani, dermawannya Kiai itu tidak ditunjukkan dan tidak mau dipublikasikan. Dan kebanyakan terungkap saat beliau telah wafat. Menurutnya, orang-orang baru tahu jika Kiai Lukman Hakim selama ini mengumpulkan anak-anak yang bertalenta untuk dibiayai mondok dan sekolah yang tinggi.
"Makanya saya dengan putra-putri beliau tetap jadi kopralnya Kiai. Saya siap menerima komando asalakan Kiai yang memerintahkan," terang pria yang juga ASN di SMAN 1 Jombang ini.
Semangat literasi yang hingga kini terjaga juga karena berkat Kiainya, saat masih menempuh kuliah S1, Mukani diperintahkan Kiai Lukman untuk mengikuti sebuah pelatihan jurnalistik kerja sama Republika dengan Kementrian Agama Pusat di Sukabumi Jawa Barat. Ia menyebut hanya dua orang yang berangkat dari Jawa Timur.
"Dari Jawa Timur hanya saya dan satunya orang Gresik. Saya masih ingat dulu disangoni (diberi bekal) Kiai saya 250 ribu untuk naik kereta api. Lalu saya berangkat membawa surat tugas yang tertera di situ adalah saya sebagai staf Pengasuh Pondok Pesantren Seblak. Saya itu terharu, Ya Allah saya itu cuma santri biasa tapi dibilang staf pengasuh," imbuhnya.
Menurut Mukani, suatu ketika tulisannya pernah dikritisi oleh Kiainya yaitu terkait penulisan tanda koma dan kata kuitansi yang pada saat itu saya tulis kwitansi.
"Beliau mengajari saya menulis harus berhati-hati dan itu saya pegang. Meskipun nulis banyak tetap harus jeli terhadap tanda baca dan tulisannya. Karena itu mengandung perubahan arti kalau tanda bacanya keliru," ungkap Guru SKI ini.
Meskipun kini ia telah mendapatkan banyak apresiasi dan penghargaan berkat ketekunannya dalam dunia literasi. Menurutnya ia tetaplah santri yang jika diperintah akan manut kepada Kiainya.
Sudah 20 tahun lebih, Mukani mengabdikan dirinya di Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi'iyah Seblak. Sejak tahun 2004 hingga sekarang Mukani mengampu mapel SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) dan mapel mulok Aswaja memakai kitab Risalah Ahlissunnah wal Jama'ah karya Hadratussyaikh M KH Hasyim Asyari.
Buah Prestasi di Dunia Literasi
Berkat keistikamahannya dalam dunia literasi, Mukani menerima anugerah sebagai guru teladan literasi tingkat Jawa Timur (2024). Kegiatan ini digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Dan yang terbaru, ia mendapatkan tanda penghormatan Satyalancana Karya Satya yaitu pengabdian ASN (Aparatur Sipil Negara) selama 10, 20, atau 30 tahun atas kesetiaan, pengabdian kejujuran, dan kedisiplinan dari Presiden Republik Indonesia yang diberikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansah, pada Senin (13/10/2025).
"Se-Kabupaten Jombang yang diambil 20 orang. Kalau se Jawa Timur sebanyak 229 orang. Tidak semua yang 20 tahun itu dapat penghargaan. Mungkin ini juga salah satu doa orang tua saya pas pelntikan Hari Senin Tanggal 13 Oktober 2025 kemarin itu bertepatan dengan 1 tahun meninggalnya ibu saya," tegas pria yang juga Pengurus LTN PWNU Jawa Timur ini.
Ia meyakini bahwa penghargaan tersebut bukan serta-merta berkat skill menulisnya sja. Namun, hal tersebut terwujud berkat doa ibunya dan Kiainya. Sosok Guru Mukani adalah sosok guru yang selamanya tetap santri. Salah satu yang sering ia katakana adalah jihad santri saat ini adalah jihad literasi. Dengan gayanya yang humoris membuat jihad literasi semakin mudah diterima kaula muda.
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
Editor: Kendi Setiawan


