Jakarta, Arina.id — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan bahwa yang dibutuhkan demokrasi bukan cuma struktur lembaga seperti MPR, DPR, Partai aturan ketatanegaraan yang mengatur mekanisme politik.
"Yang masih kita butuhkan adalah membangun tradisi demokrasi. Itu ajaran Gus Dur sejak tahun 1980-an," ujar Gus Yahya dalam acara Syawalan Bersama Sahabat Media di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (22/4/2025).
Menurutnya, Indonesia saat ini sudah memiliki demokrasi dengan fondasi politik yang cukup. Namun, langkah selanjutnya adalah membangun tradisi politik yang sehat, dengan memberi ruang penuh kepada partai politik sebagai pilar utama demokrasi untuk menjalankan fungsi dan perannya secara optimal.
"Yang bukan partai politik, jangan ikut-ikutan. Termasuk NU. Kalau itu kerjaan partai politik, mari kita serahkan sepenuhnya kepada partai politik. Jangan diganggu," tegas Gus Yahya.
Ia mencontohkan, urusan kebijakan sudah masuk ke dalam domain partai politik. Opini publik boleh berkembang, namun proses agregasi politik tetap menjadi kewenangan partai.
"Mencalonkan kandidat pejabat pemerintahan itu ranah partai politik. Yang lain jangan ikut campur," ujarnya.
Gus Yahya juga mengingatkan agar partai politik tidak dijadikan alat oleh pihak luar yang bukan kader partai untuk meraih jabatan politik. “Itu yang ingin saya lihat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa relasi NU dan pemerintah harus dibangun secara tepat agar bisa menopang konstruksi demokrasi yang kokoh.
"Dengan tradisi demokrasi yang benar tidak campur aduk. Kita bisa menjaga stabilitas negara. Kita belajar dari banyak negara, jika konstruksi demokrasinya tidak solid, konsekuensinya bisa sangat berbahaya," tandasnya.
Editor: Kendi Setiawan


