Jakarta, Arina.id — Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia bekerja sama dengan JCAP Youth Ministry dan JCAP Dialogue with Islam menggelar dialog lintas iman yang diikuti 31 peserta selama tiga hari, Sabtu–Senin, 10–12 Mei 2025 di Rumah Doa Santa Maria Guadalupe, Jakarta Timur.
Kegiatan yang bertajuk Percakapan Lintas Iman: Jejak Magis Gus Dur ini memberikan ruang dialog pada para aktivis yang mempunyai visi untuk memperkuat dialog antaragama dalam mewujudkan toleransi beragama serta melestarikan pemikiran Gus Dur.
Wakil Kepala Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities, Zacky Khairul Umam, menjelaskan mengenai pertumbuhan dan perkembangan sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari kecil hingga menjadi ‘Guru Bangsa’ yang mencintai serta memperjuangkan kemanusiaan dan toleransi beragama.
Gus Dur, menurutnya, mampu menerima segala kemajemukan tanpa adanya pemisahan melalui kotak-kotak sosial yang berupa suku/etnis, agama, dan ras (SARA) identitas sosial yang disebut dengan agama.
"Sosok Gus Dur mengajarkan bahwa untuk menghormati Tuhan kita dapat melakukan penghormatan terhadap manusia dengan cara memanusiakan manusia,” tegasnya.
Putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid menjelaskan tentang gagasan dan kiprah sosial Gus Dur dalam memperjuangkan kebebasan dan toleransi beragama serta keberpihakan Gus Dur terhadap golongan minoritas yang selama ini mengalami diskriminasi secara sosial maupun politik.
"Gus Dur tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan kepekaan sosial, toleransi dan kemanusiaan serta interaksi sosial Gus Dur yang luas dengan berbagai kelompok sosial di masyarakat tanpa melihat perbedaan agama, suku/etnis, dan latar belakang sosial lainnya menjadikan Gus Dur menjadi sosok yang humanis,” jelasnya.
Inayah menyampaikan bahwa Gus Dur selalu mendidik anak-anaknya melalui perbuatan, sama halnya dengan yang selama ini Gus Dur contohkan ketika membela kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi serta Gus Dur selalu memposisikan diri sebagai orang tua bagi bangsa ini tanpa terkecuali.
Rohaniawan Gereja Katolik, Romo Gregorius Soetomo menekankan pentingnya menjalankan warisan pemikiran Gus Dur untuk persatuan dan kesatuan yang dilakukan melalui saling mengenal dan saling bertukar pikiran antar iman.
“Namun demikian diperlukan keberanian dan ketulusan untuk menggerakkan hati dan pikiran terlibat dalam dialog lintas iman,” ucapnya..
Salah satu peserta dari Pakistan, Aman mengungkapkan bahwa pada hakikatnya agama menuntun manusia untuk menghormati sesama dan saling belajar dari setiap perbedaan yang ada.
Hari terakhir, peserta diajak ke rumah Gus Dur di Ciganjur, peserta bertemu istri Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah Wahid. Nyai Sinta bercerita bahwa Gus Dur menjadi sangat berani memihak golongan yang lemah dan terdiskriminasi tak lepas dari ajaran agama.
“Gus Dur meyakini agama secara terang-terangan mengajarkan umatnya untuk memihak golongan tertindas, tanpa memandang identitas agama yang dianut,” pungkasnya.
Gratia Wing Artha berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Editor: Kendi Setiawan


