Jakarta, Arina.id—Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan GUSDURian akan menggelar Temu Nasional (Tunas) 2025 di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta, pada 29–31 Agustus 2025 mendatang.
Direktur Jaringan GUSDURian, Alissa Qatrunnada Wahid, mengatakan dalam pertemuan ini akan didiskusikan berbagai isu yang nanti akan dipilih menjadi fokus gerakan GUSDURian. Ada dua isu besar yang dibahas, yakni keadilan ekologi dan demokrasi.
“Karena Gus Dur sepak terjangnya banyak, kalau kita mau tangani setiap waktu itu kita tidak mampu. Karena itu harus memilih. Fokus sekarang adalah demokrasi dan keadilan ekologis,” ujar Alissa ditemui di Galeri Nasional Jakarta, Kamis (14/8/2025).
Alissa menilai kedua isu ini penting mengingat kondisi saat ini keduanya genting. Keadilan ekologi secara global tengah menghadapi krisis iklim, terlebih di Indonesia industri ekstraktif masih berlangsung dengan menggunakan pendekatan kekuasaan sehingga masyarakat adat tersingkir.
“Ekosistem pasti akan rusak, hampir tidak ada pertambangan yang memulihkan,”ujar Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Masyarakat itu.
Apalagi, imbuh Alissa, kondisi ini terjadi karena penyelenggara negara abai terhadap aturan hukum. Tugas reklamasi tidak dilakukan sehingga banyak korban masyarakat yang jatuh ke lubang tambang, sementara tanah tandus yang tidak dihijaukan kembali ditinggalkan begitu saja.
“Makanya isunya bukan hanya isu ekologis, tapi keadilan ekologis. Ada keadilan bagi masyarakat, masyarakat adat, dan keadilan bagi alam,” imbuhnya.
Selain itu, isu demokrasi juga menjadi perhatian. Alissa menyebut saat ini terjadi penurunan kualitas demokrasi. Indeks kualitas demokrasi turun, korupsi makin meningkat; dulu 15 tahun lalu korupsi berada di angka miliaran, sekarang triliunan.
“Kebijakan pemerintah dibuat tanpa kajian yang cukup dan berbasis bukti. Kita melihat itu semua karena demokrasinya tidak berjalan,” ucapnya.
Suara rakyat semakin lama semakin ditekan, sehingga melawan dengan berbagai cara #KaburAjaDulu, #IndonesiaGelap terbaru warganya melakukan aksi.
"Sudah sampai demo secara fisik. Jadi, seharusnya dalam demokrasi suara rakyat didengarkan, dilibatkan dalam pengambilan keputusan, dan juga implementasi,” ujar Alissa.
Bagi GUSDURian, ini sesuatu yang harus dikritisi karena demokrasi sudah mengalami kemunduran. Jangan sampai mundur lagi.
“Presiden Prabowo basic-nya militer. Kita mau mengantisipasi agar kedaulatan sipil tetap tegak, karena demokrasi hanya bisa ditopang oleh kedaulatan sipil,” imbuhnya.
Menurutnya, jika kedaulatan sipil berada di bawah kekuatan militer, rakyat tidak akan pernah menjadi suara utama.
“Kita akan menyusun rekomendasi, kira-kira bagaimana caranya memperkuat tema-tema tersebut. Gus Dur itu kan bekerja berbasis nilai, kita pasti fokusnya pada nilai tersebut yang diturunkan dalam bentuk yang lebih komplit,” jelasnya.
Sebagai informasi, Tunas GUSDURian 2025 mengangkat tema Meneladani Gus Dur, Menguatkan Indonesia. Kegiatan ini akan diikuti 2.000 peserta, terdiri dari penggerak komunitas, penulis, peneliti, akademisi, sahabat atau murid Gus Dur, tokoh lintas agama, dan pengurus lembaga dalam jaringan GUSDURian.
Adapun kegiatan meliputi Festival Gerakan, Forum Gerakan, dan penyusunan rekomendasi. Dalam forum tersebut juga digelar Community Space: bazar dan pameran gerakan; Learning Space: ruang berbagi pengetahuan dan keterampilan yang diisi para pakar dan penggerak; serta dimeriahkan dengan Malam Budaya.
Sejumlah tokoh yang akan hadir di antaranya Gus Mus, Prof Quraish Shihab, Nasaruddin Umar, Karlina Supeli, Haidar Nashir, Greg Barton, Nyai Sinta Nuriyah, Laode M. Syarif, Mahfud MD, Uni Lubis, Bivitri, Usman Hamid, dan Kamala Chandrakirana.
Editor: Muhammad Zunus


