Jakarta, Arina.id — Gelombang panas ekstrem melanda berbagai belahan dunia, dari Iran hingga Eropa, menimbulkan krisis kesehatan, kelangkaan air, hingga bencana kebakaran hutan.
Terbaru, suhu udara di sejumlah wilayah di Iran dilaporkan melampaui 50 derajat Celsius (122 derajat Fahrenheit). Di ibu kota Teheran suhu tercatat 40°C pada Minggu (20/7/2025), dan diperkirakan naik menjadi 41°C pada Senin, menurut laporan badan meteorologi nasional.
Kondisi ini memperburuk krisis air yang tengah melanda negara tersebut. Pemerintah Iran mendesak masyarakat untuk membatasi konsumsi air, terutama di provinsi-provinsi yang paling terdampak.
Pihak berwenang di berbagai wilayah telah mengeluarkan imbauan serupa dalam beberapa hari terakhir, menyusul penurunan curah hujan yang terus berlangsung selama bertahun-tahun.
“Waduk-waduk bendungan yang memasok air ke Teheran saat ini berada pada level terendah dalam satu abad,” demikian pernyataan resmi otoritas pengelolaan air. Perusahaan air provinsi Teheran meminta warga mengurangi penggunaan air setidaknya 20 persen guna membantu mengatasi kelangkaan.
Sebagai respons terhadap kondisi cuaca ekstrem ini, pemerintah menetapkan hari Rabu sebagai hari libur umum di provinsi Teheran.
"Mengingat suhu panas ekstrem yang terus berlanjut dan perlunya penghematan air dan listrik, hari Rabu telah ditetapkan sebagai hari libur," kata juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani, dikutip dari Al Jazeera.
Kelangkaan air ini telah menjadi masalah kronis di Iran, terutama di wilayah selatan yang kering. Selain disebabkan oleh eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya air bawah tanah, krisis ini diperparah oleh dampak perubahan iklim yang kian nyata.
Sebelumnya, gelombang panas juga dialami berbagai negara. Dua orang tewas dan lebih dari 300 lainnya dirawat di rumah sakit di seluruh Prancis karena penyakit akibat gelombang panas.
Badan meteorologi nasional, Meteo Prancis, menetapkan empat departemen dalam status siaga merah tingkat maksimum. Jurnal medis Lancet menerbitkan sebuah studi pada 2023 yang mengidentifikasi Paris sebagai ibu kota paling mematikan di Eropa selama gelombang panas, dengan rata-rata 400 kematian terkait panas setiap tahunnya.
Suhu di beberapa negara di Eropa melonjak naik, memicu kebakaran hutan, penutupan sekolah, hingga mencetak rekor suhu terpanas.
Dari Inggris hingga Jerman, pihak berwenang bergulat dengan gelombang panas, yang bisa mencapai 5 hingga 10 derajat Celsius lebih panas dari biasanya.
Kebakaran hutan di Turki memaksa lebih dari 50.000 orang dievakuasi dari lima wilayah di provinsi barat Izmir.
"Satu-satunya cara kita akan mengurangi pemanasan planet kita di masa mendatang adalah mengurangi emisi gas rumah kaca yang cepat dan mencapai emisi nol secepat mungkin", kata Samantha Burgess dari lembaga Uni Eropa.
Badan Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan peningkatan risiko kematian sementara gelombang panas dan cuaca ekstrem melanda berbagai bagian dunia, dari Eropa dan Asia hingga Timur Tengah dan Amerika Serikat.
Pakar Panas ekstrem di WMO John Nairn memperingatkan risiko cuaca ekstrem, meningkatnya kasus serangan jantung dan kematian, terutama dengan suhu minimum pada malam hari diperkirakan akan mencapai ketinggian baru.
"Jadi, suhu malam yang tinggi berulang kali sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, karena tubuh tidak bisa pulih dari panas yang berkelanjutan," tulis Voice of Amerika Indonesia.
Suhu panas ini antara lain didorong perubahan iklim jangka panjang akibat ulah manusia dari pembakaran batu bara, minyak dan gas dan pola cuaca yang terjadi secara alami, El Nino. Ini semakin menambah suhu udara yang sudah meningkat.
Pakar geografi lingkungan dari Fakultas Geografi UGM, Djaka Marwasta menjelaskan bahwa gelombang panas berkaitan langsung dengan perubahan iklim akibat emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
"Kenaikan konsentrasi GRK mendorong meningkatnya frekuensi, durasi, dan sebaran gelombang panas secara global,”dikutip laman UGM.
Ia mengajak generasi muda dan pembuat kebijakan untuk mengambil langkah nyata. Menurutnya, butuh kebijakan yang bukan hanya reaktif, tapi mampu secara struktural mengurangi dampak perubahan iklim.
"Generasi muda harus mampu membangun pola pikir dan pola tindakan yang berorientasi pada keberlanjutan,”tegasnya.
Dengan tren pemanasan global yang semakin tak terhindarkan, semua pihak individu, komunitas, hingga negara, dituntut untuk mengambil bagian.
"Karena pada akhirnya, krisis iklim adalah tanggung jawab bersama, dan gelombang panas hanyalah salah satu peringatan awal," ujarnya.
Editor: Muhammad Zunus


