Dark
Light
Dark
Light

Tanpa Tedeng Aling-aling, Erdogan Sebut Netanyahu sebagai Aktor Utama Penghalang Perdamaian

Tanpa Tedeng Aling-aling, Erdogan Sebut Netanyahu sebagai Aktor Utama Penghalang Perdamaian

Arina.id — Ketika langit di kawasan Timur Tengah kembali dihiasi kilatan rudal dan raungan sirene, sebuah suara dari Istanbul menggema ke seluruh dunia Islam. Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki, menyebut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sebagai "penghalang terbesar bagi perdamaian regional."

Pernyataan Erdogan bukan hanya retorika panggung. Ini adalah pesan politik, peringatan strategis, dan tudingan terbuka yang menyentuh inti dari konflik modern kawasan.

Pernyataan Erdogan muncul dalam suasana yang sarat ketegangan. Beberapa hari sebelum pidatonya, Israel meluncurkan serangan ke sejumlah titik strategis di Iran — serangan yang, menurut pengamat internasional, berpotensi menggagalkan pembicaraan diplomatik antara Teheran dan Washington terkait program nuklir Iran.

Bagi Erdogan, momen tersebut bukanlah kebetulan. Dalam pidatonya di hadapan para diplomat Liga Arab dan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Sabtu (21/6/2025) di Istanbul, ia mengatakan bahwa “Netanyahu dan pemerintahnya tidak menginginkan penyelesaian secara diplomatik atas masalah apa pun.”

Kritik Erdogan tidak berhenti di situ. Ia menyebut ambisi Zionis Netanyahu sebagai upaya sistematis untuk menyeret kawasan — bahkan dunia — ke dalam bencana besar. "Ambisi Zionis Netanyahu tidak memiliki tujuan lain selain menyeret wilayah kita dan … seluruh dunia ke dalam bencana besar," tegas Erdogan.

Erdogan juga mengarahkan kritiknya terhadap para pemimpin Barat yang memberi “dukungan tanpa syarat” kepada Israel. Dalam banyak kasus, termasuk di PBB dan berbagai forum internasional, Israel memang mendapat pembelaan kuat dari negara-negara besar, terutama Amerika Serikat.

Erdogan menyatakan bahwa Turki tidak akan membiarkan batas-batas di Timur Tengah digambar ulang “dengan darah.” Pernyataan ini menyinggung kekhawatiran lama bahwa konflik berkelanjutan akan membuka pintu pada fragmentasi wilayah dan pendudukan baru — sebagaimana pernah terjadi di Suriah dan Irak pasca-2011.

Erdogan mengajak negara-negara anggota OKI untuk tidak tinggal diam. Solidaritas, menurutnya, adalah senjata moral terakhir yang dimiliki dunia Muslim untuk melawan. “Sangat penting bagi kita untuk menunjukkan solidaritas yang lebih besar untuk mengakhiri aksi-aksi bandit Israel — tidak hanya di Palestina, tetapi juga di Suriah, Lebanon, dan Iran.”

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang berdiri sejak 1969 dan beranggotakan 57 negara, kini kembali diuji. Apakah mereka sekadar forum diplomasi, atau sanggup menjadi blok kekuatan nyata dalam menekan agresi militer dan mendorong solusi damai yang adil?

Konflik Israel-Iran telah memasuki fase kritis. Serangan dan balasan telah menewaskan ratusan jiwa hanya dalam sepekan terakhir. Dunia menatap dengan cemas.

Dalam kondisi ini, suara Erdogan bukan hanya cermin amarah politik — melainkan juga cerminan kegagalan kolektif komunitas internasional dalam mencegah kekerasan yang tak berkesudahan.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo