Jakarta, Arina.id – Seseorang bisa kehilangan semangat bukan semata-mata karena banyaknya pekerjaan, melainkan karena terus-menerus menghadapi persoalan yang tidak kunjung menemukan penyelesaian. Kondisi ini dapat menguras energi emosional, bahkan membuat seseorang kehilangan kepedulian terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap penting.
Fenomena tersebut dikenal sebagai emotional burnout. Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan salah satu bentuk kelelahan moral yang muncul akibat tuntutan emosional secara berulang.
Fahruddin Faiz menjelaskan, konsep tersebut berkaitan dengan teori yang dikembangkan psikolog Christina Maslach. Emotional burnout dapat dialami seseorang ketika terus dituntut untuk peduli, terlibat, dan memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan yang tidak kunjung terselesaikan.
"Emosi kita seperti dipermainkan terus-menerus sehingga akhirnya mengalami kelelahan dan kehabisan energi emosional. Ada begitu banyak momen dan waktu yang menuntut kita untuk peduli, ikut terlibat, dan memberikan perhatian. Sementara itu, persoalannya tidak selesai-selesai," jelasnya dalam tayangan Ruang Sinau diakses Kamis (5/11/2026).
Faiz mengibaratkan kondisi tersebut seperti lilin yang terus memberikan cahaya bagi lingkungan sekitarnya. Tanpa dukungan sumber energi lain, lilin itu pada akhirnya akan habis terbakar.
"Ibarat lilin yang menerangi sekitarnya. Ketika tidak didukung oleh lilin yang lain, lama-lama kita akan habis. Itulah emotional burnout," ungkapnya.
Untuk menjelaskan fenomena tersebut, Fahruddin memberikan contoh dalam dunia pendidikan. Ia menggambarkan seorang pengajar yang telah berulang kali menyampaikan materi, tetapi tidak melihat perkembangan pemahaman dari peserta didiknya.
"Misalnya, saya mengajar kalian dalam Ngaji Filsafat ini sudah 500-an sesi. Kalau kemudian kalian ditanya tentang filsafat dan menjawab tidak tahu apa-apa, saya mungkin mulai jengkel. Lalu, apa gunanya saya mengajar sampai 500 sesi kalau akhirnya saya menjadi bosan, tidak semangat, dan kehilangan gairah?" tuturnya.
Menurutnya, situasi serupa juga dapat terjadi dalam hubungan antara orang tua dan anak. Seorang ibu yang berulang kali mengajarkan sesuatu kepada anaknya, tetapi belum melihat perkembangan pemahaman, berpotensi mengalami kejenuhan dan kelelahan emosional.
Contoh lainnya dapat ditemukan dalam proses penyelesaian skripsi. Mahasiswa yang awalnya bersemangat mengerjakan revisi berdasarkan masukan dosen pembimbing dapat kehilangan motivasi ketika terus-menerus menghadapi koreksi dan kesalahan baru.
"Pertama kali menghadap pembimbing, kita masih semangat. Diberi masukan, diperbaiki. Menghadap lagi, ternyata ada yang salah lagi. Dua kali mungkin masih semangat. Tetapi, kalau sudah berkali-kali, akhirnya muncul perasaan, ah, sudah, tidak mau mengerjakan skripsi lagi," jelasnya.
Faiz menilai, pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana tuntutan yang berulang tanpa hasil sesuai harapan dapat menguras energi emosional seseorang. Kondisi yang semula dihadapi dengan antusiasme dan motivasi perlahan berubah menjadi kejenuhan, hilangnya semangat, hingga keengganan untuk melanjutkan aktivitas.
Dengan demikian, emotional burnout tidak hanya berkaitan dengan banyaknya persoalan yang dihadapi, tetapi juga pengalaman emosional ketika seseorang terus mengerahkan perhatian dan energi tanpa merasakan perkembangan yang berarti.
Editor: Kendi Setiawan


