Jakarta Arina.id — Kementerian Haji dan Umrah resmi membuka Pendidikan dan Latihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu (11/1/2026).
Diklat diikuti oleh 1.636 peserta dan akan berlangsung selama 30 hari, yang terbagi dalam dua tahap, yakni 20 hari pelatihan tatap muka di Asrama Haji dan 10 hari pelatihan secara daring.
Menteri Haji dan Umrah Irfan Yusuf Hasyim (Gus Irfan) mengatakan, salah satu fokus utama diklat tahun 2026 adalah penguatan kemampuan bahasa Arab bagi petugas haji.
Gus Irfan menilai, keterbatasan penguasaan bahasa Arab menjadi salah satu kendala serius dalam pelayanan jemaah pada musim haji sebelumnya.
"Petugas haji juga akan dilatih bahasa Arab. Salah satu kendala kemarin adalah petugas haji kurang bahasa Arabnya. Kita berikan bahasa Arab dalam proses 20 hari ini, ditambah pembelajaran online berikutnya,” ujarnya.
Pelatihan bahasa arab disediakan tutor khusus dari lembaga bahasa. Tiap tutor akan mendampingi petugas haji lansia, layanan ramah disabilitas, hingga pendekatan khusus bagi jemaah perempuan.
Selain bahasa Arab, peserta diklat juga dibekali pembagian penempatan pos, struktur tim, dan kepala pos masing-masing.
"Petugas diharapkan berangkat ke Arab Saudi dalam kondisi siap secara teknis dan koordinatif," jelasnya.
Diklat PPIH tahun ini juga menerapkan pola pelatihan semi-militer untuk memperkuat ketahanan fisik dan kedisiplinan peserta.
Gus Irfan menegaskan, fisik yang kuat menjadi syarat utama karena ibadah haji merupakan ibadah yang menuntut stamina tinggi.
"Kita berharap ketahanan fisik dan kedisiplinan peserta benar-benar terjaga. Tanpa fisik yang kuat, mereka tidak akan bisa menjalankan tugas dengan baik,” kata dia.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI sekaligus Ketua Panja Haji 2025, Abdul Wachid menilai pelaksanaan diklat selama 30 hari, termasuk penambahan materi bahasa Arab, merupakan langkah maju dalam peningkatan kualitas petugas haji.
“Ini sudah kami anggap bagus. Petugas yang akan berangkat tidak hanya didiklat 20 hari, tapi sampai 30 hari dan ditambah bahasa Arab. Itu suatu langkah yang maju,” kata Wachid.
Ia menekankan pentingnya disiplin petugas, terutama dalam pengawasan pemondokan, kepatuhan jumlah maksimal empat orang per kamar, kesesuaian layanan katering dengan kontrak, serta pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang dinilai berat jika hanya ditangani tenaga sipil.
Untuk memperkuat aspek tersebut, Kemenhaj melibatkan 185 personel dari unsur TNI dan Polri dalam komposisi petugas haji tahun ini.
Menurutnya, keterlibatan TNI dan Polri dinilai sesuai dengan ketentuan Pemerintah Arab Saudi terkait istitha’ah kesehatan.
“Ibadah haji adalah ibadah fisik yang dibutuhkan tenaga yang kuat dan orang-orang yang benar-benar sehat. Kehadiran TNI dan Polri ini langkah yang baik,” ujar Wachid.
Wachid mengatakan penguatan bahasa Arab, kedisiplinan, dan dukungan TNI–Polri berharap kualitas pelayanan haji tahun 2026 dapat meningkat.
"Ini tidak TNI, Polri, merekrut dua kali lipat dari yang lalu. Dengan demikian kami berharap nanti tidak ada temuan jemaah terutama Lansia terlantar tidak ada yang nolong. Ini sangat penting," jelasnya.
Editor: Kendi Setiawan


