Arina.id -- Sejumlah wilayah Amerika Serikat (AS) bagian tengah sedang dilanda cuaca buruk. Hal tersebut lantas memicu sejumlah bencana, seperti: tornado, kebakaran hutan, badai debu, serta kecelakaan lalu-lintas. Dilaporkan korban tewas hingga 34 orang.
Dikabarkan oleh Anadolu, belasan Tornado menghantam negara bagian Missouri pada hari Sabtu (15/3/2025) lalu. Dilaporkan korban tewas mencapai 12 orang, dan 29 lainnya luka-luka.
Diikuti kemudian oleh Arkansas yang mengkonfirmasi 3 orang warga mereka meninggal dunia akibat terjangan badai di wilayah tersebut.
Sementara di Oklahoma dikabarkan 1 orang tewas akibat kecelakaan lalu-lintas, yang dipicu oleh kabut asap kebakaran hutan.
Lalu di Kansas setidaknya ada 8 orang meninggal dunia imbas kecelakaan beruntun, lantaran angin kencang dan badai debu. Penyebab kecelakaan dikonfirmasi langsung oleh dinas patroli jalan setempat lewat rilis resmi hari Sabtu (15/3/2025).
Tate Reeves selaku Gubernur Mississipi dilaporkan oleh The Washington Post, telah menyatakan kondisi darurat di wilayahnya karena cuaca buruk. Kondisi di Mississippi menyebabkan korban 6 tewas, 3 hilang, dan 29 cedera.
Wilayah Texas utara ada 4 orang tewas akibat kecelakaan yang disebabkan angin kencang dan badai debu.
"Kita pernah menghadapi badai angin yang cukup besar dulu, namun belum ada yang separah saat ini," kata Sersan Cindy Barkley dari Departemen Keamanan Umum Texas, dikutip dari Antaranews.
Serangan tornado di wilayah AS bagian tengah dan selatan sejatinya sudah terjadi sejak Jumat pagi, 14 Maret 2025. Dikabarkan hingga 58 kejadian tornado di Kawasan tersebut.
Kini tornado aktif diperkirakan masih terjadi di sejumlah kawasan dari Mississipi timur sampai Tennesse selatan.
Sebelum itu, pada awal tahun ini AS juga sempat dilanda bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sangat masif di wilayah Los Angeles, California.
Menurut laporan yang dipublikasikan oleh Universitas California Los Angeles (UCLA) pada 4 Februari 2025, kebakaran hutan di Los Angeles menyebabkan kerugian properti antara 95 sampai 164 miliar dolar AS.
Editor: A. Sentosa


