Jakarta, Arina.id — Rusia, China, dan Iran dikenal menjalin hubungan strategis yang erat dalam berbagai bidang mulai dari perdagangan energi, kerja sama militer, hingga koordinasi di forum internasional.
Dalam perang Israel–Iran terbaru, ketiga negara tersebut tampak semakin solid menghadapi tekanan dari koalisi barat. Apakah tiga negara ini sudah siap menghadapi skenario terburuk berhadapan langsung dengan AS dan Israel?
Pengamat Geopolitik dari PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama, mengatakan tidak ada satu pun negara yang benar-benar siap secara mutlak untuk menghadapi perang total yang bisa memicu eskalasi tidak terkendali.
Namun, kata Virdi, jika bicara soal kemampuan menunjukkan kekuatan, menahan gempuran (deterrence), dan membangun ketahanan dari berbagai tekanan, maka ketiga negara tersebut dinilai sudah sangat siap.
"Bahkan bisa dibilang persiapannya gila-gilaan, apalagi kalau dilihat dari pengalaman mereka di masa lalu dan ancaman yang selalu mereka antisipasi,” kata Virdika kepada arina.id, Senin (23/6/2025).
Virdi mengungkapkan dari sisi militer, Rusia menunjukkan perkembangan signifikan usai pengalaman pahit di Ukraina. Doktrin militer asimetris mereka semakin berkembang dan terbukti mampu beradaptasi cepat di medan perang modern.
"Modernisasi senjata mereka seperti rudal hipersonik yang sangat cepat, sistem pertahanan udara berlapis seperti S-400 dan S-500 serta revitalisasi armada kapal selam itu semua bukan sekadar pamer otot,” jelasnya.
Menurutnya, kekuatan militer tersebut merupakan bagian dari strategi Anti-Access/Area Denial (A2/AD) Rusia di wilayah vital. Tujuannya, agar lawan tidak bisa dengan mudah masuk atau bermanuver.
Sementara itu, Tiongkok berada di jalur modernisasi militer yang belum pernah terjadi dalam sejarah negara tersebut. Virdi menyebut modernisasi itu jauh melampaui kebutuhan pertahanan wilayah.
"Pembangunan Angkatan Laut mereka masif, kemampuan memproduksi jet tempur generasi kelima, dan pengembangan rudal balistik jarak menengah hingga antarbenua, itu semua fundamental banget untuk mengubah keseimbangan kekuatan di Pasifik,” katanya.
Ia menambahkan, doktrin A2/AD Tiongkok bertujuan menunda dan mengganggu proyeksi kekuatan AS, khususnya di Laut Cina Selatan dan Selat Taiwan.
"Jadi ini bukan cuma soal bertahan, tapi juga soal bikin perhitungan risiko buat intervensi asing jadi jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Menurut Virdi, Iran telah puluhan tahun hidup di bawah sanksi dan ancaman, justru berhasil mengembangkan kapasitas militer yang sangat adaptif.
"Doktrin pertahanan asimetris mereka yang mengandalkan rudal presisi, armada drone, dan jaringan proksi regional yang terintegrasi, terbukti efektif untuk membuat kekacauan dan menaikkan biaya bagi musuh potensial, khususnya Israel," papar Virdi.
Kemampuan Iran dalam menampilkan kekuatan non-konvensional, lanjutnya, menjadi kunci dari ketahanan luar biasa negara itu. Ia juga menegaskan bahwa latihan militer gabungan antara Rusia, China, dan Iran bukan sekadar seremoni.
"Itu usaha nyata buat meningkatkan interoperabilitas dan koordinasi operasional, yang penting banget kalau sewaktu-waktu ada konflik,” ujarnya.
Virdi juga menyoroti upaya ketiga negara dalam membangun ketahanan ekonomi yang lebih independen dari dominasi Barat. Rusia, misalnya, agresif menjalankan dedolarisasi ekonomi, meningkatkan cadangan emas, serta mengembangkan sistem pembayaran alternatif seperti SPFS agar tak mudah terkena sanksi SWIFT.
Sementara itu, Tiongkok, yang telah menjadi episentrum ekonomi global, kini memimpin upaya menciptakan tatanan moneter multipolar lewat inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI).
"Ini enggak cuma nyambungin pasar, tapi juga nguatin perdagangan pakai mata uang lokal, yang jelas-jelas ngurangin ketergantungan sama dolar AS,” terangnya.
Menurut Virdi, Iran yang telah lama bergelut dengan sanksi ketat justru tampil sebagai pionir dalam mengembangkan ekonomi yang tahan terhadap tekanan eksternal. Negara itu, kata dia, aktif melakukan diversifikasi mitra dagang serta mendorong sektor-sektor ekonomi yang tidak terlalu rentan terhadap pembatasan global.
"Usaha mereka membuat rantai pasok yang lebih kuat dan kerja sama di sektor energi dan teknologi itu langkah konkret buat mitigasi risiko," katanya.
Secara politik dan diplomatik, lanjut Virdi, saat ini tengah berlangsung konsolidasi kekuatan anti-unilateralisme. Hal itu terlihat dalam berbagai forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), hingga BRICS. Ketiganya, secara konsisten mendorong terciptanya tatanan dunia multipolar yang dianggap lebih adil dan berimbang.
Mereka juga saling dukung di isu-isu sensitif, contohnya kedaulatan Tiongkok atas Taiwan, kepentingan keamanan Rusia di Ukraina, atau hak Iran atas program nuklir sipilnya.
"Solidaritas ini bukan cuma omongan doang, tapi pondasi buat koordinasi strategis yang dalam banget, baik di intelijen maupun diplomasi. Ini semua usaha nyata buat nantang hegemoni Barat dan nguatin posisi mereka sebagai pilar kekuatan di tatanan global yang baru," jelasnya.
Bagi Virdi, siap atau tidaknya ketiga negara tersebut dilihat dari seberapa jauh mereka sudah menyiapkan diri buat membentuk ulang keseimbangan kekuatan global, bahkan dengan risiko eskalasi yang mungkin terjadi.
Menurutnya, persiapan komprehensif mereka ini adalah bagian integral dari strategi pencegahan (deterrence) yang lebih besar. Dengan menunjukkan kapasitas untuk memberi kerugian substansial ke lawan, mereka berharap bisa menaikkan ambang batas tindakan agresif dari Barat.
"Ini wujud keyakinan mereka bahwa tatanan global yang selama ini cuma didominasi satu kekuatan itu sudah nggak relevan lagi. Dan mereka siap jadi arsitek sekaligus penopang tatanan multipolar yang lagi terbentuk sekarang, meskipun prosesnya pasti bakal penuh gejolak dan tantangan," pungkasnya.
Editor: Muhammad Zunus


