Jakarta, Arina.id – Aturan dibuat untuk menata kehidupan manusia agar bisa tertib, adil, dan sejahtera. Aturan memungkinkan setiap orang bisa mendapatkan haknya. Idealnya begitu. Namun sayang, acap kali aturan di Indonesia justru terasa membuat greget. Ketetapan yang diturunkan sering menabrak dinding-dinding ketidakadilan bahkan mendekati arah diskriminasi.
Informasi terbaru menyangkut tinggi badan. Kumparan (20/2/2025) mengabarkan bahwa Tri Cahyaningsih gagal lulus seleksi CPNS Kemenkumham karena tinggi badannya kurang 0,5 cm dari syarat yang ditentukan. Padahal, skor Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) Tri meraih nilai tertinggi se-Jawa Tengah pada tahun 2024. Kecerdasan pikiran harus kalah di hadapan fisik.
Tak hanya itu, media sosial kini dibanjiri kisah Rosita Aruan Orchid Baptiste, mantan wartawati asal Indonesia yang membagikan kisah perjalanan hidupnya sebagai Letnan Kolonel di kemiliteran Amerika. Dalam wawancara dengan VOA Indonesia (1/2/2025), Rosita menuturkan keinginannya untuk menjadi Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia. Namun, ia mengaku tak mungkin bisa menjadi anggota militer atau polisi di Indonesia. Tinggi Rosita tidak mencukupi persyaratan yang berlaku di negara asalnya.
Takdir berkata lain. Di Amerika, ia mengalami nasib berbeda. Rosita mengisahkan perjuangannya berkarir di militer. Ia menceritakan bahwa di AS, tinggi badan tidak terlalu dipersoalkan seperti halnya di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan posisi yang ditempati Rosita saat ini. Dalam wawancara tersebut, ada satu ucapan yang dapat disoroti, yaitu menyoal fisik dan kemampuan.
"Dari tinggi badan saya sudah distop, enggak bisa berkarier jadi polwan, jadi tentara. Tapi di sini (Amerika) saya kecil mungil begini, lewat ujian tertulis, lewat ujian fisik, mereka kan lihat kemampuan di otak ya, ada kemampuan mau jadi apa lu ada opportunity," ucapnya.
Kalimat itu boleh ditafsirkan mengandung maksud kekecewaan para negara asal yang tidak memberikan ruang lebih luas bagi rakyatnya. Aturan yang dibuat kerap kali justru menjadi pembatas. Persyaratan dalam pekerjaan kerap disandingkan pada hal-hal yang mengarah pada tindakan diskriminatif: tinggi badan, batasan umur, status pernikahan, hingga berat tubuh.
Saya jadi teringat pada biografi Stephen Hawking. Beruntunglah ia lahir di Inggris. Negara itu punya kebijakan yang lebih manusiawi dalam melihat potensi rakyatnya. Jika aturan di Inggris begitu eksklusif, mungkin dunia akan kehilangan sosok seperti Stephen Hawking, fisikawan teoritis, kosmologi, pengarang, dan direktur penelitian yang banyak memberikan sumbangsih pengetahuan bagi dunia.
Inklusivitas dalam Serial Game Of Thrones
Game Of Thrones (2011) adalah karya terbaik sepanjang masa. Serial ini mengandung banyak nilai dan pembelajaran yang sesuai dengan kenyataan. Karya ini diciptakan oleh David Benioff dan D.B Weiss untuk saluran HBO. Meski sudah berumur lebih dari sewindu, Game Of Thrones masih diminati oleh banyak penonton dan mendapatkan skor amat tinggi di Internet Movie Database (IMDb), salah satu sumber informasi hiburan terpopuler di dunia.
Serial ini bercerita tentang perebutan takhta kerajaan yang melibatkan berbagai keluarga bangsawan, politik, intrik, perang, dan unsur-unsur fantasi seperti naga dan sihir. Berlatar di dunia fiksi Westeros dan Essos yang amat menakjubkan, serial ini mempersembahkan berbagai konflik internal dan eksternal yang menguji loyalitas, moralitas, dan kekuasaan.
Pengarang berhasil memunculkan karakter-karakter yang amat kuat menempel dalam ingatan. Penonton bisa tersihir untuk mempercayai setiap tokoh adalah pemeran utama. Salah satu nama yang sangat perlu disebut adalah Tyrion Lannister, karakter terbaik dalam film.
Tyrion Lannister adalah anak bungsu dari keluarga Lannister. Ia memiliki tubuh yang kerdil, berbeda dari saudara lainnya. Kondisi itu membuatnya kerap diperlakukan tidak adil. Namun, ia memiliki kecerdasan dan kecakapan di atas rata-rata. Kemampuan bicaranya amat tajam. Ia sering kali menunjukkan kecerdasan yang luar biasa dalam mengatasi tantangan yang dihadapinya.
Kondisi tubuh yang berbeda dari lainnya, tidak membuat Tyrion Lannister terbuang. Pada akhirnya, ia berhasil menduduki tempat-tempat yang amat strategis. Ayahnya, meski kerap memperlakukannya dengan sinis mempercayakan jabatan sebagai tangan kanan raja pada diri Tyrion. Saat bersama Daenerys Targaryen, musuh klan Lannister, ia juga mendapatkan kedudukan serupa.
Kita membayangkan jika pengarang bersikap rasis persoalan tubuh, nasib Westeros dan Essos akan berubah. Kebahagiaan dan kemenangan pada pihak yang menginginkan damai akan sulit terwujud. Sekuat apa pun tokoh yang dimunculkan, tetap menunduk di hadapan pengetahuan dan kebijaksanaan. Penentuan berbagai keputusan penting banyak diilhami oleh pikiran Tyrion Lannister.
Kembali ke kisah Tri Cahyaningsih dan Rosita Aruan Baptiste, Indonesia tidak memberikan kesempatan bagi kemampuan intelektual untuk melampaui tubuh. Aturan yang dibuat masih amat berbau rasis. Jika terus dibiarkan, masalah ini bisa meningkatkan jumlah brain drain, yaitu fenomena ketika orang-orang terpelajar atau professional meninggalkan negaranya untuk menetap di luar negeri.
Pada akhirnya, Brain drain bisa merugikan negara asal karena putra putri terbaik bangsa akan berpindah ke negeri lain. Kita mungkin tidak bisa menyalahkan apalagi meragukan kecintaan mereka pada NKRI. Bukan karena tidak nasionalis, tapi negara yang tidak inklusif dalam menyediakan ruang perkembangan bagi rakyatnya.
Editor: Kendi Setiawan


