Dark
Light
Dark
Light

Hari Ibu di Gaza Tak Lagi sama Bagi Em Rami dan Maram yang Kehilangan Putranya

Hari Ibu di Gaza Tak Lagi sama Bagi Em Rami dan Maram yang Kehilangan Putranya

Jakarta, Arina.id—Di saat banyak negara merayakan Hari Ibu dengan bunga dan hadiah, suasana berbeda justru terasa di Gaza City. 

Bagi banyak warga Gaza, terutama para ibu, momen tersebut berubah menjadi pengingat menyakitkan atas kehilangan orang-orang tercinta akibat perang.

Di sebuah tenda pengungsian di Kota Gaza, Em Rami Dawwas mengenang tiga putranya yang tewas dalam serangan Israel. Dua di antaranya bahkan belum dimakamkan karena jenazahnya masih ditahan pihak berwenang.

"Aku merindukan anak-anakku di Hari Ibu. Dulu mereka selalu membawakan hadiah, bunga, permen, dan menanyakan kebutuhanku. Mereka adalah cahaya hidupku," ujar jurnalis Hind Khoudary dari Al Jazeera dikutip, Minggu (22/3).

Penderitaan serupa dialami banyak keluarga di Gaza. Anak-anak menjadi kelompok paling terdampak dalam konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023. Data UNICEF pada Oktober tahun lalu mencatat sekitar 64.000 anak tewas dan terluka akibat serangan yang terjadi.

Laporan jurnalis menyebutkan, Dawwas bahkan menyimpan foto anak-anaknya di bawah bantal dan melihatnya setiap hari untuk menjaga kenangan mereka tetap hidup.

Banyak ibu lainnya memilih menghabiskan Hari Ibu di pemakaman—satu-satunya tempat yang membuat mereka merasa dekat dengan anak-anak yang telah tiada.

Kisah pilu juga datang dari Maram Ahmed, remaja 14 tahun yang kini menjalani Hari Ibu kedua tanpa sang ibu. Ia kehilangan seluruh keluarganya dalam serangan udara Israel.

"Dulu, meskipun tidak punya uang, saya tetap membelikan ibu hadiah dari uang saku saya. Saya hanya ingin membuatnya bahagia,” katanya. Ia mengaku menahan kesedihan saat melihat anak-anak lain masih bisa bersama ibu mereka.

Situasi ini turut disorot oleh Amnesty International dalam laporan terbarunya. Lembaga tersebut menilai perempuan dan anak perempuan di Gaza membayar “harga brutal” selama konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun.

Laporan itu menyoroti dampak serius yang dihadapi perempuan, mulai dari perpindahan massal, runtuhnya layanan kesehatan reproduksi, hingga meningkatnya risiko penyakit dan kondisi hidup yang tidak layak.

Selain itu, kerugian fisik dan mental yang mendalam disebut semakin memperparah situasi kemanusiaan.

Meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Palestina Hamas, kondisi di lapangan tetap rapuh dan berulang kali dilaporkan mengalami pelanggaran.

Bagi para ibu di Gaza, Hari Ibu bukan lagi perayaan, melainkan hari penuh duka, hari untuk mengenang, meratap, dan bertahan di tengah kehilangan yang belum usai.


Editor: Suci
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo