Jakarta, Arina.id – Industri penerbangan tengah berduka. Setidaknya, ada empat kecelakaan pesawat di seluruh dunia dalam sepekan terakhir menjelang penutupan tahun 2024 mulai dari penerbangan Air Canada 2259 hingga pesawat terbang maskapai Jeju Air 7C101 di Korea Selatan (Korsel).
Beberapa pihak bahkan mengaitkan kejadian-kejadian ini dengan fenomena kecelakaan pesawat yang sering terjadi di akhir tahun. Hal ini tentunya menyimpan duka mendalam serta perhatian khusus bagi dunia aviasi dalam hal keamanan serta tingginya risiko yang dihadapi saat bepergian dengan pesawat terbang.
Pengamat penerbangan Alvin Lie menyebutkan meskipun data dari Badan Keselamatan Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) menunjukkan bahwa tingkat kecelakaan pesawat komersil jauh lebih rendah dibandingkan dengan mode transportasi lain, serangkaian kecelakaan belakangan ini memunculkan kekhawatiran.
"Jadi mengenai statistik kecelakaan sangat rendah kita harus melakukan jutaan penerbangan setiap hari selama bertahun-tahun untuk mengalami kecelakaan. Apa yang terjadi kemarin, 29 Desember 2024, betul-betul hari kelam, di luar kewajaran dalam 24 jam ada tiga kecelakaan pesawat walaupun fatalitasnya hanya di Korea. Ini sejarah baru ada kecelakaan tiga pesawat dalam sehari," kata Alvin.
Ia juga membandingkan kecelakaan pesawat dengan kecelakaan di jalan raya di Indonesia. Setiap tahun terdapat lebih dari 30.000 kecelakaan jalan raya, dengan rata-rata lebih dari 100 orang tewas setiap hari, namun tidak ada geger besar. Sementara itu, satu kecelakaan pesawat bisa langsung mengguncang dunia.
"Ketika terjadi kecelakaan pesawat, itu menjadi perhatian internasional dan harus dicari penyebabnya supaya tidak terjadi peristiwa serupa," jelas Alvin.
Menurut Alvin adanya pesawat yang tergelincir seperti yang terjadi di Kanada, tidak ada pengaruh signifikan dari faktor musim tetapi lebih kondisi psikologis para pilot. Ia menduga adanya peningkatan jumlah penerbangan dan traffic yang padat membuat pilot kelelahan.
"Pilot mungkin juga ingin berlibur juga sehingga saya tidak mengesampingkan faktor stres pada penerbangnya," ujar Alvin.
Alvin juga menyoroti bahwa penyebab kecelakaan bisa berbeda-beda kadang terjadi kebakaran mesin setelah lepas landas. Pertanyaannya, apakah teknisinya benar-benar melakukan tugasnya dengan seksama?
"Ingat sebuah pesawat itu bisa diterbangkan setelah mendapat clearance dari teknisi pesawat. Apakah engineernya benar-benar melakukan tugasnya dengan seksama atau padatnya pekerjaan terjadi ketelodoran, kita tidak tahu," tuturnya.
Satu hal yang perlu menjadi perhatian, lanjut Alvin, adalah kelangkaan komponen dan suku cadang pesawat yang masih terjadi usai pandemi Covid-19. "Saya khawatir, apakah kelangkaan ini berdampak pada pesawat di seluruh dunia. Tetapi, yang aneh adalah kenapa dalam 24 jam terjadi tiga kecelakaan. Ini tidak wajar," tandasya.
Berikut adalah 4 kecelakaan pesawat terparah yang pernah terjadi di dunia menjelang akhir 2024
1. Pesawat Jeju Air Terbakar
Kecelakaan paling tragis terjadi di Korea Selatan, ketika pesawat Jeju Air dengan nomor penerbangan 7C2216 dan kode HL8088, mengalami kecelakaan saat mendarat di Bandara Internasional Muan.
Pesawat tersebut terbakar setelah gagal melakukan pendaratan, menewaskan 179 orang di dalamnya. Dua orang berhasil selamat dan sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Kecelakaan pesawat Jeju Air dikonfirmasi setelah layanan darurat menerima panggilan di Bandara Internasional Muan yang berlokasi di Provinsi Jeolla Selatan. Ini terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Penyebabnya mesin pesawat mengalami kerusakan akibat menabrak kawanan burung. Di lain sisi, pesawat juga tidak mengeluarkan roda pendaratan saat akan mendarat sehingga kehilangan kendali di landasan pacu.
2. Pesawat Air Canada Tergelincir
Sebuah pesawat maskapai Air Canada terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Halifax Stanfield, Kanada setelah mengalami kerusakan pada roda pendaratan pada Sabtu, 28 Desember 2024 malam waktu setempat.
Melansir dari Antara, penerbangan pesawat Air Canada 2259 yang berangkat dari Bandara Internasional St. John’s, mengalami masalah pendaratan pada pukul 9:30 AST (0130 GMT Minggu) yang menyebabkan pesawat tergelincir dan terjadi kebakaran pada mesin.
Insiden ini memicu respons cepat dari tim darurat untuk memastikan keselamatan seluruh penumpang di dalam pesawat, menurut laporan beberapa media. Setelah mendarat, semua penumpang dievakuasi dan dipastikan selamat. Para penumpang kemudian dibawa ke hanggar untuk diperiksa oleh paramedis. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
3. KLM Royal Dutch Airlines Tergelincir di Norwegia
Pesawat Boeing KLM Airlines tergelincir keluar dari landasan pacu di Norwegia pada Sabtu (28/12/2024). Insiden ini terjadi akibat kerusakan hidrolik yang membuat pesawat tersebut mendarat darurat. Pesawat Boeing 737-800 ini sedang dalam perjalanan dari Oslo, Norwegia menuju Amsterdam. Namun rutenya dialihkan dan mendarat di Bandara Oslo Torp Sandefjord setelah terdengar suara yang cukup keras.
Dikutip dari New York Post, asap terlihat keluar dari mesin sebelah kiri, pilot melakukan panggilan darurat dan mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengendalikan pesawat. Setelah mendarat di landasan pacu, pesawat tiba-tiba berbelok sepenuhnya keluar dari landasan ke rerumputan dengan kecepatan rendah.
Maskapai mengatakan seluruh 176 penumpang dan enam awak pesawat tidak mengalami luka-luka. Setelah kecelakaan tersebut, bandara ditutup dan semua jadwal penerbangan dialihkan ke Bandara Oslo Gardemoen.
4. Pesawat Ringan Jatuh di UEA
Sebuah pesawat ringan milik Jazirah Aviation Club jatuh ke laut di lepas pantai Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab (UEA), Minggu waktu setempat. Kejadian mengakibatkan dua orang tewas yakni pilot dan kopilot.
Mengutip Kantor Berita Emirates, WAM, Otoritas Penerbangan Sipil Umum (GCAA) menyatakan bahwa Bagian Investigasi Kecelakaan Udara menerima laporan tentang insiden pertama kali. Tim kerja dan otoritas terkait melanjutkan investigasi mereka untuk menentukan penyebab kecelakaan tersebut.
"GCAA menyampaikan belasungkawa dan simpati yang tulus kepada keluarga dan kerabat kedua korban," ujar badan itu, dikutip Senin (30/12/2024).
Editor: Kendi Setiawan


