Jakarta, Arina.id—Innalillahi, Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno meninggal dunia pada usia 91 tahun tahun Senin (2/3/2026). Sosok yang pernah menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ini meninggal di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta pada pukul 06.58 WIB. Kabar kepergian tokoh bangsa tersebut menyebar luas melalui pesan singkat.
“Telah meninggal dunia ayah/kakek/buyut/kakak kami, Jenderal TNI (Purn) H Try Sutrisno bin Subandi, Wapres ke 6 RI pada hari ini Senin 02 Maret 2026 di RSPAD jam 06.58 WIB,” tulis pesan singkat diterima Arina.id.
Almarhum Try Sutrisno akan dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6 Menteng Jakarta Pusat. Upacara pemakaman akan berlangsung secara militer.
Wakil Presiden Republik Indonesia itu lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Ia merupakan putra dari Subandi, seorang sopir ambulans, dan Mardiyah, yang merupakan ibu rumah tangga.
Majalah Tempo edisi Sabtu, 13 Maret 1993, melaporkan sejak kecil, Try anak ketiga dari enam bersaudara dari pasangan Subandi dan Mardliyah hidup seadanya.
Sempat putus sekolah ia berjualan air bersih pakai kendi, berjualan koran di kereta api dan berjualan rokok.Try tertarik bergabung dengan Batalyon Poncowati untuk ikut berjuang melawan penjajah. Meski belum diterima sebagai prajurit, ia dipercaya menjalankan tugas sebagai kurir. Perannya meliputi mengumpulkan informasi di wilayah pendudukan Belanda serta mengambil obat untuk tentara Indonesia.
Ketika Mojokerto diduduki Belanda, Try kembali berpindah bersama ayahnya ke Kediri. Untuk bertahan hidup, ia bekerja sebagai pesuruh di Batalyon Poncowati, mulai dari membersihkan sepatu hingga mengantar makanan.
Selain itu, ia juga menjalankan tugas sebagai kurir sekaligus anggota penyelidik dalam, dengan tanggung jawab mencari informasi di wilayah pendudukan Belanda dan menyampaikannya kepada para pejuang kemerdekaan.
"Saya diperintahkan membawa dokumen yang harus melewati garis batas antara Indonesia dan Belanda. Saat usia saya yang masih kecil itu, saya sudah punya siasat, tidak mungkin saya lewat jalan besar karena pasti tertangkap. Akhirnya saya putuskan dengan menyusuri sawah," paparnya.
Dilansir Tempo, Pertemuannya dengan Soeharto dalam Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962 menjadi awal dari moncernya karier Try. Saat itu, Soeharto ditunjuk oleh Presiden Sukarno menjadi Panglima Komando Mandala yang ditempatkan di Sulawesi. Kala Soeharto jadi presiden, Try kemudian menjadi ajudannya pada 1974.
Try mengawali karier militernya ketika diterima menjadi taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) dan lulus pada 1959. Try berkesempatan turut dalam perang melawan Pemberontak PRRI pada 1957. Dia juga terlibat dalam Operasi 17 Agustus, Operasi Trikora, Konfrontasi Indonesia–Malaysia, Operasi Seroja, dan Pemberontakan di Aceh.
Perkenalan Try dengan Soeharto yang membuat kariernya melambung itu. Meski telah bertemu pada 1962, perkenalan intens keduanya sesungguhnya terjadi pada 1972 atau sepuluh tahun setelahnya. Ketika itu, dalam sebuah seminar tentang “Pewarisan Nilai-Nilai ‘45” di Seskoad, Bandung, Mayor Try Sutrisno tampil memukau.
Membawakan makalah berjudul “Masalah Pewarisan dalam TNI AD dan Integrasi TNI-Rakyat”, anak muda berwajah segar dan berperawakan gagah itu rupanya cukup tangkas.
Sejak itu, perwira lulusan Atekad 1959 ini mulai naik bintangnya. Dari Komandan Batalyon Zipur 10, Letkol Try dinaikkan menjadi kepala biro di Suad Mabes Angkatan Darat. Tahun 1974, Try ditarik ke Istana. Sejak itu ia menjadi ajudan Presiden Soeharto. Adalah Letjen Sayidiman Suryohadiprojo, ketika itu sebagai Deputi KSAD, yang mengajukan nama Try sebagai ajudan presiden.
Try menjadi ajudan empat tahun, hingga 1978. Dalam periode itu, Try selain pangkatnya naik jadi kolonel juga merasa dididik dan dimatangkan oleh Pak Harto. Berbagai pengalaman kenegaraan besar dialaminya dari dekat pemegang keputusan, yakni Presiden sendiri.
Kemudian, pada bulan Februari 1993, bulan yang sama ketika Try berhenti dari posisinya sebagai Pangab dan sebulan sebelum MPR dijadwalkan bertemu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden baru, anggota MPR dari fraksi ABRI mencalonkan Try Sutrisno untuk menjadi Wakil Presiden atau Wapres.
Namun menjelang reformasi 1998, hubungan mereka merenggang. Soeharto disebut tidak senang dengan Try dan tidak banyak berkonsultasi dengannya dalam pembentukan kabinet pada tahun 1998, yang berakhir pada digantikannya Try oleh BJ Habibie.
Editor: Suci


