Jakarta, Arina.id – Bagi para penggemar sandiwara radio era 1980-1990an, Petrus Urspon adalah salah satu nama yang melekat dalam ingatan mereka. Tokoh-tokoh seperti Patih Gotawa dan Raden Bentar dalam Saur Sepuh, Sakapalwaguna (Babat Tanah Leluhur), Rakuti (Mahkota Mayangkara), Jail Singgih (Misteri Nini Pelet), Rakai Mahisa (Mantra Naga Bumi), Prabangkara (Sungging Prabangkara) adalah beberapa peran yang diisi Petrus Urspon dalam sandiwara radio.
Tak hanya dalam sandiwara radio, Petrus Urspon yang kadang disebut juga Kris Urspon, mengisi suara beberapa suara artis film layar lebar, pengisi suara iklan, narator, hingga announcer untuk continuity program stasiun televisi nasional.
Di dunia film layar lebar, ia antara lain mengisi suara artis Bary Prima dalam beberapa judul. Saat Saur Sepuh diangkat ke layar lebar, Petrus juga yang diberi kepercayaan mengisi suara artis Fendy Pradana pemeran Brama Kumbara.
Era sinetron laga seperti yang diproduksi PT Genta Buana Pitaloka, Petrus tak ketinggalan berperan mengisi beberapa tokoh di antaranya Mondosiyo (Kaca Benggala, 1994), Batik Madrim (Angling Dharma, 2000).
Pertengahan era 1990, bermunculan stasiun televisi swasta nasional. Ia dipercaya sebagai continuity announcer untuk antv, Space Toon, dan AXN.
Sementara di dunia iklan, ia kerap mengisi suara berbagai produk komersial. Sempat pada masanya, "Iklan-iklan yang diproduksi sebanyak 70 persennya saya yang mengisi,” kata Petrus Urspon dalam sebuah wawancara.
Dengan pencapaian-pencapaian tersebut, dapat dikatakan, Petrus Urspon adalah salah satu artis suara andalan di Indonesia.
Siapa yang menyangka, di balik kesuksesan itu, ia memiliki pengalaman dan perjuangan hidup—perjalanan berkarya—yang menarik untuk diikuti. Pasalnya Petrus mencapai semua yang diraihnya bukan dengan mudah dan bukan tanpa hambatan.
Dalam perbincangan dengan Anes Wibowo di akun YouTube SOS with Anes Wibowo, Petrus menceritakan awal perjuangan masuk sebagai pemain sandiwara radio hingga perkembangan karier pengisi suaranya yang sangat signifikan hingga saat ini.
Berawal dari Imajinasi
Petrus menceritakan, saat itu tahun 1970-an, ia masih tinggal di Tanjung Karang, Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Ia masih belajar di Sekolah Dasar (SD). Dari siaran radio yang ditangkap di daerahnya, ia menyimak sandiwara radio antara lain Nagasasra dan Sabuk Inten. Serial ini diproduksi Sanggar Prathivi Jakarta diangkat dari novel silat karya SH Mintardja.
Seperti siaran sandiwara radio kala itu, pembawa cerita menyebut nama para pemeran dan tokoh yang dimainkannya. Kemudian pemeran memerankan suatu tokoh serta dialog sesuai alur cerita yang disusun penulis naskah. Akting suara pemeran dilengkapi pula dengan musik ilustrasi dan efek-efek tertentu seperti berjalan, langkah kaki, berkelahi, menaiki kuda, angin berhembus dan sebagainya.
"Imajinasi saya: Kok ada suara di dalam suatu tabung? Bayangan saya suara saya ada di situ dan nama saya disebut. Sangat sederhana sebetulnya,” tutur Petrus.
Meneruskan pendidikan SMA, Petrus pindah ke Palembang Sumatera Selatan. Dia turut serta dalam latihan teater. Beberapa perlombaan seperti membaca puisi dan pentas drama pun diikutinya. Tak jarang dia berhasil meraih juara.
"Di Palembang saya menggeluti dunia teater, ikut lomba membaca puisi, pentas drama. Hasilnya tidak mengecewakan,” kata Petrus rendah hati.
Lulus SMA, aktivitas seni masih sesekali dilakukannya. Sampai muncul dorongan dari teman-temannya bahwa jika ingin mengembangkan diri sebaiknya mengembangkan diri di Jakarta. Ini dapat dimaklumi sebab pada saat itu, Jakarta masih dipandang sebagai tempat yang bisa memfasilitasi banyak hal termasuk karier berkesenian. Petrus lalu memutuskan untuk berangkat ke Jakarta.
Berbekal Rp80 Ribu Usai Gerhana Matahari Total
Hal yang unik dan selalu diingat Petrus, ia berangkat ke Jakarta setelah peristiwa gerhana matahari total 11 Juni 1983.
Berangkat ke Jakarta dari Tanjungkarang, Petrus dibekali dengan uang Rp80 ribu oleh ayahnya. Tidak ada sanak saudara ataupun teman yang ia kenal di Jakarta, namun tekadnya begitu kuat.
"Kamu laki-laki, kalau memang enggak sanggup, pulang saja," pesan ayahnya membuat ia semakin tertantang.
Titik tujuan Petrus adalah Sanggar Prathivi, sebuah sanggar tempat berlatih peran suara, sandiwara radio, iklan, drama panggung, dan peran televisi bahkan layar lebar. Petrus teringat, setiap akhir seri sandiwara radio kala itu pembawa cerita menyampaikan: Kesan, kritik dan saran dapat dikirimkan melalui surat ke Jalan Pasar Baru Timur Jakarta Pusat. Ini adalah alamat Sanggar Prathivi yang memproduksi berbagai sandiwara radio kala itu.
Setiba di Jakarta, Petrus segera mencari alamat Sanggar Prathivi tersebut. Ternyata Sanggar Prathivi juga membuka pelatihan untuk memunculkan bakat-bakat baru di bidang pengisi suara dan pemain sandiwara radio. Sesi pelatihan ini diberi nama Talent Scouting.
Petrus pun segera mendaftar untuk mengikuti pelatihan ini.
Untuk menghemat pengeluaran, sementara ia belum memiliki penghasilan, Petrus tidur di peron-peron stasiun kereta api. Paling sering ialah di Stasiun Senen. Dengan alasan: "Jika ditegur petugas bisa beralasan: Akan perjalanan ke Cirebon," kata Petrus dalam perbincanga lainnya di akun YouTube KMCI Channel
Masa-masa itu, sedang ramai penembakan misterius (petrus), sehingga sebenarnya cukup rawan bagi orang-orang saat itu jika hidup menggelandang.
"Itu terjadi sekitar tahun 80-an, masa-masa masih musim petrus (penembakan misterius). Banyak kejadian waktu itu. Saya tidur di proyek Senen, tidur di tangga-tangga, ya tangga Novasta, tempat kosmetik itu. Tapi kemudian ada pembersihan besar-besaran," kata Petrus.
Keteladanan Ibu dan Nilai Religiusme
Keberanian dan tekad Petrus juga terinspirasi dari sang ibu.
"Dulu ibu saya sering menampung anak-anak yang tersesat dalam perantauan di Tanjungkarang, Lampung. Ibu bilang ke saya, “Kamu laki-laki, kalau enggak berani keluar dari rumah, bukan laki-laki.” Itu jadi pemicu, jadi tantangan buat saya," tuturnya.
Nilai agama juga berperan menambahkan semangatnya. Ini berlandaskan ajaran Katolik yang diimaninya.
"Sebenarnya saya tidak terlalu fanatik, hanya abangan saja. Saya pegang satu ayat yang jadi semangat hidup saya: "Carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan; mintalah, maka kamu akan diperhitungkan,” tutur Petrus lagi-lagi merendah.
"Saya berangkat dari Tanjungkarang, ke Jakarta. Saya cuma bawa tas kecil berisi salinan ijazah, KTP, dan data kontak darurat. Saya sempat tidur di emperan, di tritisan toko. Kalau enggak dapat tempat, kadang sama petugas keamanan dikasih tidur sampai jam 07.00 pagi, nanti jam 10.00 (malam) baru boleh balik lagi," kisahnya.
Soal makan, Petrus biasa ke warteg. Lagi-lagi karena uangnya terbatas, dia tidak mengatakan apa makanan apa yang dipesannya.
"Saya bilang (ke pemilik atau pegawai warteg), “Bu, saya punya uang segini, saya mau makan, dapat apa saja terserah.” Tapi justru karena itulah kadang ia dikasih daging, kadang lauk lain.
Beberapa tahun kemudian ketika sudah sukses dan berkeluarga, Petrus mengajak keluarganya menemui pemilik warteg tersebut. Ini dilakukan sebagai rasa terima kasih dan menyambung silaturahim.
Saat awal perjalanan, kata Petrus, pernah juga ia tidur di emperan gedung Sanggar Prathivi. Namun oleh seorang Romo ia diingatkan agar jangan tidur di situ. Mungkin agar tidak memancing orang lainnya. Jika ia terlihat diizinkan tidur di sanggar, bisa jadi peserta lain akan ikut-ikutan.
Namun teguran itu tidak membuat Petrus patah arang. Oleh seorang senior ia diingatkan bahwa itulah perjalanan yang harus dilalui.
Untuk keperluan mandi, ia pun memanfaatkan kamar mandi umum.
Di Sanggar Prathivi, Petrus mengikuti Talent Scouting bersama total 50 peserta. Ia pun berkesempatan mengikuti tes untuk peran Sketsa Remaja dan mendapat peran kecil di sandiwara radio Bende Mataram.
Karena tinggal meggelandang seperti itu, Petrus pun bertekad, “Kalau saya punya uang, saya harus bisa tinggal di kost yang lebih bagus dari ini. Dan akhirnya saya kost di belakang STM Penerbangan, Kebayoran," imbuhnya.
Walaupun saat itu belum punya penghasilan tetap, dia mengumpulkan rezeki sedikit-sedikit buat bisa bertahan satu-dua bulan, yang penting tempat tidunya nyaman.
Dari perjalanan awal 'Raden Bentar' ini, ternyata perjuangan tidak seindah yang kita bayangkan.
"Tokoh seperti Raden Bentar dengan suara yang menggelegar itu pun pernah mengalami penderitaan dan kesengsaraan—sama seperti kebanyakan orang," timpal Anes Wibowo dalam perbincangannya.
"Kadang saat flashback, rasanya masih perih. Tapi itulah perjalanan hidup. Ini belum bicara karier ya, ini baru soal bagaimana bertahan hidup di Jakarta," kata Petrus Urspon.
Editor: Kendi Setiawan


