Hari Kartini tak selalu mesti dirayakan dengan kebaya, masakan, bacaan, dan kutipan. Kegembiraan bisa dilakukan dengan menonton film. Sinema tak melulu hanya memuat soal perempuan, kita boleh mengambil tema lain. Perjuangan yang digagas Kartini menjangkau isu kebudayaan, anak, agama, pendidikan, dan ekonomi.
Untuk memeriahkan hari kelahiran Kartini, berikut berbagai rekomendasi judul film yang tidak hanya menghibur tetapi lekat dengan permasalahan yang dituangkan dalam surat-surat miliknya.
1. Kartini
Kartini (2017) karya Hanung Bramantyo merupakan film biografi yang menggambarkan perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan emansipasi perempuan Jawa di tengah budaya patriarki. Diperankan oleh Dian Sastrowardoyo, film ini menyoroti pemikiran Kartini yang revolusioner tentang pendidikan dan kesetaraan gender.
Dengan visual yang indah dan akting kuat, film ini menyajikan inspirasi dari tokoh pahlawan nasional Indonesia. Meski beberapa kritikus menilai alurnya terlalu dramatis dan banyak part penting dalam hidup Kartini yang tidak ditampilkan, film ini tetap bisa dijadikan rujukan untuk mengenal kehidupan Kartini.
2. Nyai Ahmad Dahlan
Film Nyai Ahmad Dahlan merupakan sebuah drama biopik asal Indonesia yang dirilis pada 24 Agustus 2017, sutradara Olla Atta Adonara. Ceritanya mengangkat kisah hidup Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, seorang tokoh emansipasi perempuan sekaligus istri dari pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan.
Siti Walidah ialah seorang tokoh emansipasi perempuan yang sejak kecil memiliki hasrat kuat untuk menempuh pendidikan, hingga akhirnya menikah dengan KH Ahmad Dahlan. Ia dikenal dengan keberaniannya menolak praktik kawin paksa. Sebagai pelopor, ia menjadi perempuan pertama yang memimpin Kongres Muhammadiyah pada tahun 1926 dan mendirikan organisasi perempuan Sopo Treno, yang kemudian berganti nama menjadi Aisyiyah.
3. Mary Kom
Film Mary Kom (2014) adalah sebuah biografi olahraga yang mengisahkan perjalanan inspiratif Mangte Chungneijang Mary Kom, seorang petinju wanita legendaris asal India. Disutradarai oleh Omung Kumar, film ini dibintangi oleh Priyanka Chopra yang memerankan Mary Kom dengan penuh dedikasi.
Cerita dimulai dengan masa kecil Mary di Manipur yang menemukan minatnya pada tinju meskipun menghadapi penolakan dari ayahnya. Dengan tekad yang kuat, ia berlatih di bawah bimbingan pelatih Narjit Singh dan mulai memenangkan berbagai kejuaraan. Film ini menggambarkan perjuangan Mary menghadapi tantangan sosial, finansial, dan emosional, termasuk saat ia harus menyeimbangkan kariernya sebagai atlet dengan perannya sebagai seorang ibu.
Puncak cerita menyoroti kemenangan Mary di Kejuaraan Tinju Dunia 2008, yang mengukuhkan posisinya sebagai salah satu atlet wanita terbaik di dunia. Film ini tidak hanya menampilkan semangat juang Mary tetapi juga memberikan pesan tentang keberanian, ketekunan, dan pengorbanan.
4. Taare Zameen Par
Film Taare Zameen Par (2007) disutradarai oleh Aamir Khan mengangkat kisah tentang Ishaan Awasthi, seorang anak yang kerap dipandang bodoh dan nakal oleh lingkungan sekitarnya. Akibat prestasi yang terus menurun, Ishaan terpaksa masuk sekolah asrama dan berpisah dari keluarganya.
Kehidupannya mulai berubah ketika Ram Shankar Nikumbh, seorang guru seni yang diperankan oleh Aamir Khan, menyadari bahwa Ishaan mengalami disleksia. Dengan pendekatan penuh empati dan metode pengajaran yang inovatif, Ram membantu Ishaan menemukan bakat luar biasa dalam seni lukis sekaligus membangun kembali kepercayaan dirinya.
Film ini menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya memahami anak-anak dengan kesulitan belajar dan memberikan mereka ruang untuk tumbuh sesuai potensi unik mereka. Dengan cerita yang menyentuh dan akting yang luar biasa, Taare Zameen Par berhasil menjadi karya yang inspiratif dan mengesankan banyak penonton.
5 Sokola Rimba
Sokola Rimba, sebuah film Indonesia karya Riri Riza yang diadaptasi dari buku Butet Manurung, menceritakan perjuangan Butet, seorang antropolog, dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak Orang Rimba di pedalaman Jambi. Dalam prosesnya, ia dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti penolakan dari masyarakat adat, tekanan dari pihak luar, hingga benturan antara pendidikan modern dan tradisi suku.
Namun, dengan ketekunan dan ketulusan, Butet berhasil meraih kepercayaan masyarakat setempat dan membantu anak-anak Rimba memahami dunia luar tanpa kehilangan jati diri mereka. Film ini mengangkat pesan mendalam tentang pentingnya pendidikan, keberagaman budaya, serta perlawanan terhadap ketidakadilan sosial.
Dengan sinematografi yang indah dan akting yang alami, Sokola Rimba menjadi karya yang inspiratif dan membuka wawasan tentang arti pendidikan bagi komunitas terpencil, khususnya anak-anak.
6. The Chorus
The Chorus (Les Choristes), sebuah film drama musikal dari Prancis yang disutradarai oleh Christophe Barratier. Film ini rilis pada tahun 2004 yang menceritakan kisah Clément Mathieu, guru musik di sebuah sekolah asrama untuk anak-anak laki-laki bermasalah pada tahun 1949. Dalam sistem disiplin yang keras dan tidak berperasaan, para siswa sering kehilangan semangat dan harapan.
Namun, Mathieu melihat sisi lain dari para muridnya. Ia menemukan bakat tersembunyi di balik kenakalan mereka dan memutuskan untuk membentuk paduan suara. Inisiatif ini membawa perubahan besar dalam kehidupan siswa, terutama seorang anak berbakat bernama Pierre Morhange.
Film ini menyoroti tema pendidikan, kasih sayang, dan kekuatan transformasi melalui musik. Dengan cerita yang menggugah hati dan musik yang memikat, The Chorus menjadi tontonan yang inspiratif, khususnya bagi pecinta pendidikan dan seni musik.
7. Three Idiots
Three Idiots, sebuah film Bollywood yang dirilis pada tahun 2009 dan disutradarai oleh Rajkumar Hirani, menceritakan kisah tiga sahabat – Rancho, Farhan, dan Raju – yang menjalani kehidupan sebagai mahasiswa teknik di sebuah perguruan tinggi ternama di India. Mereka menghadapi beragam tantangan, mulai dari tekanan akademis hingga masalah keluarga, asmara, dan keuangan.
Rancho, tokoh utama dalam cerita ini, memiliki pandangan unik tentang pendidikan. Ia menolak sistem pendidikan konvensional yang hanya berorientasi pada nilai dan persaingan, karena dianggapnya hanya memicu tekanan serta depresi bagi mahasiswa. Menurutnya, pendidikan seharusnya menjadi perjalanan untuk menemukan kebahagiaan, passion, dan pembelajaran dari kesalahan.
Film Three Idiots menghadirkan dialog-dialog yang lucu, satir, sekaligus inspiratif. Dengan kritik sosial yang tajam dan penyampaian yang cerdas, film ini berhasil menghibur sekaligus mengajak penontonnya untuk berpikir kritis tentang sistem pendidikan. Hingga kini, film ini tetap relevan bagi siapa saja yang ingin menggali kembali makna sejati dari ‘sekolah’.
8. Dead Poet Society
Dead Poets Society (1989) adalah film drama klasik yang disutradarai Peter Weir dan dibintangi oleh Robin Williams sebagai John Keating, seorang guru sastra yang menginspirasi para murid untuk keluar dari pemikiran yang kaku dan seragam. Keating mengajarkan para muridnya untuk melihat kehidupan secara berbeda dengan filosofi carpe diem (raih hari ini) dan menekankan pentingnya berpikir kritis serta keberanian untuk mengikuti passion mereka.
Ia memperkenalkan klub rahasia Dead Poets Society, yang memotivasi para siswa untuk mengeksplorasi puisi, seni, dan impian mereka. Namun, ide-ide revolusioner Keating membawa konflik dengan nilai-nilai tradisional sekolah dan keluarga siswa, yang berujung pada tragedi.
Film ini mendorong penonton untuk berpikir kembali mengenai tema-tema kebebasan, individualisme, dan keberanian di hadapan sistem pendidikan. Dead Poets Society adalah karya yang berkesan dan relevan hingga kini.
9. Peekay
Peekay (2014) adalah film India yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani. Sinema ini dibintangi oleh Aamir Khan sebagai PK, seorang alien yang terdampar di Bumi. Dengan pandangannya yang naif, PK mempertanyakan tradisi dan agama manusia, serta cara orang memandang Tuhan. Film ini mengangkat tema kritik terhadap agama dan perbedaan dengan cara yang lucu dan menyentuh.
Aamir Khan berhasil memerankan PK dengan cerdas, mengajak penonton untuk merenung tentang keyakinan dan kehidupan. Peekay menggabungkan humor, drama, dan pesan sosial yang mendalam, menjadikannya film yang menghibur sekaligus reflektif.
Editor: Kendi Setiawan


