Jakarta, Arina.id—Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap kasus anak yang berakhir hidup di Indonesia peringkat pertama di Asia Tenggara. Ada berbagai faktor yang memicunya mulai dari perundungan (perundungan) hingga ekonomi.
Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah mencatat, pada tahun 2023 tercatat 46 kasus anak mengakhiri hidup, tahun 2024 sebanyak 43 kasus, tahun 2025 ada 26 kasus, dan sepanjang Januari–Februari 2026 sudah terdapat tiga kasus.
"Satu tahun 463 kasus itu bisa luar biasa. Faktor penyebab macam-macam. Beberapa yang masuk dalam KPAI kaitannya dengan bullying, pengasuhan, ekonomi, dan asmara," tutur Margaret dalam Program Rosi di Kompas TV beberapa waktu lalu.
Margaret menyebut perundungan ini menjadi perhatian utama KPAI karena kasusnya terjadi setiap hari (day to day) dan mengakibatkan banyak anak tidak tertolong nyawanya.
"Dalam konndisi tertentu bisa memunculkan sisi anak ingin membalas dendam terkait dengan kondisi situasi bully (perundungan) yang dialami," kata Margaret.
Salah satu kasus akibat bullying terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Anak berkonflik dengan hukum (ABH) yang menjadi tersangka dalam kasus ledakan sekolah ini mengaku aksinya dilatarbelakangi rasa sakit hati yang dipendam sejak lama.
"Karena faktor itu dan sedang ingin membuktikan bahwa dia tidak selemah yang teman-temannya katakan," ungkap Ketua Umum PP Fatayat NU itu.
Peran Pengasuhan Orang Tua dan Sekolah sebagai Support System
Margaret menekankan pentingnya pengasuhan yang berkualitas sebagai sistem pendukung (support system) utama bagi anak.
Sayangnya, tidak semua keluarga mampu memenuhinya seperti yang terjadi dalam kasus anak yang mengakhiri hidup di Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Yang keluarganya lengkap saja belum tentu mampu menghadirkan pengasuhan berkualitas kepada anak," imbuh Margaret.
Psikolog keluarga dan anak, Alissa Wahid menilai support system sangat penting untuk membuka ruang aman bagi mereka (anak-anak) untuk menyampaikan yang ada dalam hatinya.
Hal ini mengingat tidak semua orang punya kepribadian ekstrovert, cenderung lebih spontan dalam berbicara. Ada orang-orang yang sebetulnya sehat tetapi lebih suka menyimpan semuanya dalam dirinya sehingga tidak akan kelihatan bermasalah.
"Tetapi ada juga anak yang kelihatan riang gembira namun sebetulnya dalam hatinya menyimpan beban psikologis besar," kata Alissa.
Oleh karena itu, menurut Alissa, sekolah sebagai rumah kedua anak harus menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk berbagi perasaan.
"Misalnya ketika di Sekolah, Apakah kepala sekolah itu atau tenaga pendidikan, gurunya membuat anak-anak merasa bisa mendekati mereka dan bercerita? Apakah introvert atau ekstrovert ketika merasa ada yang tidak nyaman dia bisa bercerita?" kata Alissa.
"Kalau tanpa itu, kita sering luput sering tidak terlalu memperhatikan. Kita menganggap seringkali anak-anak diam dianggap anak baik, enggak ada masalah. Padahal dia sebenarnya membutuhkan bantuan," imbuh Alissa.
Alissa menekankan perlunya ekosistem pengasuhan yang peka dan empatik terhadap perkembangan anak, terutama di tengah situasi kemiskinan yang masih banyak dialami keluarga.
“Misalnya anak mengeluhkan sesuatu respon kita bagaimana? Jadi memang tidak mudah membangun ekosistem bagi seorang anak apalagi anak yang banyak dalam kondisi kemiskinan,” kata Alissa.
“Jadi itu menjadi PR kita saat ini untuk memahami kesadaran dan pemahaman orang tua mengasuh anak-anak di dunia seperti sekarang,” imbuhnya.
Kegagalan Struktural Negara
Sosiolog UGM Andreas Budi Widyanta atau kerap disapa Ab menilai peristiwa anak mengkhiri hidup di NTT tidak dapat dilihat sebagai persoalan individu semata, melainkan sebagai tanda kegagalan struktural negara dalam melindungi anak-anak.
Menurut Ab, fenomena anak dan remaja yang mengakhiri hidup menunjukkan adanya persoalan sosial yang kompleks dan dihilangkan pada ketimpangan struktural.
Ia menegaskan, kasus tersebut merupakan puncak akumulasi tekanan sosial akibat kegagalan negara dalam menyediakan layanan dasar yang merata.
Fenomena ini harus dilihat sebagai masalah sosial yang bersifat struktural. Ketimpangan ekonomi yang semakin menyebabkan sebagian masyarakat hidup dalam kondisi lebar ekstrem, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan paling mendasar, katanya dikutip laman resmi UGM .
Ia menjelaskan, kekerasan struktural negara tampak dalam pelaksanaan pembangunan yang dinilai lebih menguntungkan kelompok elit, sementara masyarakat miskin mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
“Kondisi tersebut, menurutnya, menciptakan keputusasaan yang meresap ke dalam dunia batin anak,” jelasnya.
Ab menilai keputusan anak mengakhiri hidup merupakan bentuk ekspresi kebuntuan akibat hilangnya harapan terhadap masa depan.
Ia menekankan bahwa anak-anak belum memiliki kemandirian penuh untuk mengambil keputusan eksistensial, sehingga tindakan tersebut mencerminkan tekanan sosial yang berat.
“Pilihan bunuh diri menjadi bahasa kegelapan ketika anak tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan, kecemasan, dan harapannya. Ini menunjukkan hilangnya ekspektasi terhadap masa depan,” jelasnya.
Sebelumnya, Indonesia kembali gempar karena peristiwa tragis yang menimpa seorang anak berusia 10 tahun, YBR, siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada Kamis, (29/1/2026), YBR ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Ia tiba-tiba mengakhiri hidup dengan cara menggantungkan diri di pohon cengkeh di kebun milik neneknya.
Peristiwa yang memilukan ini pertama kali diketahui oleh seorang Saksi, KD, yang saat itu sedang mengikat hewan ternak di sekitar pondok kebun. Ketika mendekati lokasi, KD terkejut saat menemukan YBR yang sudah dalam keadaan tergantung di pohon cengkeh. Peristiwa tersebut tepat pukul 11.00 WITA, di Dusun IV, Desa Nenowea, kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT.
Editor: Suci


