Jakarta, Arina.id — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyoroti kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang kembali memicu perdebatan global terkait stabilitas tatanan internasional.
Gus Yahya menilai pendekatan Trump yang mengusung slogan "America First” kerap mengabaikan kesepakatan multilateral, mulai dari Piagam PBB hingga mekanisme veto di Dewan Keamanan.
"Dia menuntut keadilan bagi AS, tetapi caranya justru memaksa dunia mengubah konstruksi yang sudah ada," ujarnya dalam acara Syawalan Bersama Sahabat Media di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (22/4/2025),
Meski begitu, Gus Yahya mengakui bahwa tidak semua kritik Trump tak berdasar. Misalnya soal ketimpangan perdagangan global atau isu gender, ada poin-poin yang relevan.
"Namun, eksekusinya sering kali kontraproduktif, bahkan merugikan pelaku ekonomi domestik AS sendiri,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahaya kekuatan aktor non-negara, seperti korporasi raksasa yang bisa melampaui kekuatan negara.
“Jika ini terus dibiarkan, dunia bisa kembali ke era homo homini lupus, di mana hukum rimba mengatur hubungan internasional," tegasnya.
Peringatan ini dianggap relevan dengan kebijakan proteksionis Trump, seperti perang tarif dengan China, yang memicu ketidakstabilan ekonomi global.
“Indonesia harus waspada karena gejolak semacam ini berdampak langsung pada negara-negara berkembang,” tambahnya.
Gus Yahya menegaskan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang berdiri di atas prinsip kemerdekaan dan keadilan sosial, harus konsisten menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai panduan dalam diplomasi.
“Visi kita jelas, mendorong tatanan dunia yang berdasar pada perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga bagi seluruh masyarakat global,” tuturnya.
Ia juga menyarankan agar Indonesia aktif menjalin aliansi dengan negara-negara dan kelompok yang memiliki visi serupa.
“Bahkan di AS sendiri, tidak semua pihak sepakat dengan kebijakan Trump. Kita perlu membangun dialog dengan mereka yang menjunjung nilai-nilai multilateralisme,” ujarnya.
Gus Yahya menekankan pentingnya memperkuat peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan forum-forum internasional lainnya.
“Konsensus pasca-Perang Dunia II adalah harga mati. Jika diabaikan, kita berisiko kembali ke era konflik tanpa aturan,” pungkasnya.
Editor: Kendi Setiawan


