Dark
Light
Dark
Light

Belajar Mencintai di Tengah Penderitaan dari Maulana Rumi

Belajar Mencintai di Tengah Penderitaan dari Maulana Rumi

Jakarta, Arina.id — Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus pemerhati filsafat Fahruddin Faiz mengajak masyarakat mengolah kesedihan, kegalauan, dan patah hati menjadi energi positif. Menurutnya, pengalaman emosional yang menyakitkan dapat menjadi sumber kreativitas sekaligus jalan untuk membebaskan diri dari belenggu ego.

Faiz menjelaskan, pemikiran tersebut dapat dipahami melalui ajaran Maulana Jalaluddin Rumi, penyair sekaligus sufi yang dikenal dengan gagasan-gagasannya tentang cinta Ilahiah.

Dalam pandangan Rumi, seseorang yang mencintai dengan sungguh-sungguh tidak semestinya terlalu terikat pada penilaian orang lain.

“Biarlah sang pecinta menjadi tercela, menjadi gila, menjadi linglung. Orang yang sadar akan khawatir tentang hal-hal buruk,” kata Faiz mengutip pemikiran Rumi dalam tayangan Ruang Sinau diakses Kamis (8/10/2026).

Menurut Faiz, ungkapan tersebut menggambarkan keteguhan seseorang yang mencintai Allah. Ia tidak mudah goyah hanya karena dianggap aneh, tidak masuk akal, atau berbeda dari kebanyakan orang. Dalam konteks yang lebih luas, pengalaman cinta juga dapat menghadirkan kegelisahan dan pergulatan batin yang perlu dihadapi dengan kedewasaan.

Ia menambahkan, bagi seorang pecinta, kesedihan dan patah hati bukan semata-mata pengalaman yang harus dihindari. Pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan batin yang membantu seseorang memahami dirinya dan memperdalam makna cinta.

“Termasuk kegalauan, kegelisahannya, patah hati itu bagi seorang pecinta adalah sesuatu yang biasa. Tidak akan terlalu merisaukannya karena dia tidak kehilangan dan tidak kekurangan apa pun dari cintanya,” jelasnya.

Menari di Tengah Penderitaan
Faiz kemudian menguraikan gagasan Rumi tentang bagaimana seseorang menghadapi penderitaan. Ia mengutip ungkapan yang menggambarkan ajakan untuk tetap menari ketika terluka, di tengah pertempuran, bahkan saat tubuh seolah bersimbah darah.

“Menarilah saat lukamu terbuka. Menarilah saat kamu telah merobek perbannya. Menarilah di tengah pertempuran. Menarilah dalam darahmu. Dan menarilah pula saat kamu benar-benar bebas,” tuturnya, mengutip pemikiran Rumi.

Menurut Faiz, ungkapan tersebut menggambarkan terjalnya perjalanan cinta. Seseorang bisa mengalami luka dan kesedihan berulang kali, tetapi pengalaman itu tidak harus membuatnya berhenti menjalani kehidupan. Sebaliknya, penderitaan dapat diolah menjadi kekuatan untuk bertumbuh.

Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan tarian darwis berputar yang identik dengan tradisi spiritual Rumi. Faiz menceritakan bahwa Rumi mengalami kesedihan mendalam setelah berpisah dengan gurunya, Syekh Syamsuddin At-Tabrizi. Dalam penjelasannya, gerakan tari yang muncul di tengah pergulatan batin itu menjadi ilustrasi bagaimana kesedihan dapat diekspresikan dan diarahkan menuju pengalaman spiritual.

“Rumusnya, kalian menghadapi kesedihan, menghadapi patah hati itu akan sangat tangguh kalau bisa sampai di level menikmati kesedihan, bisa menikmati kegalauan,” ungkapnya.

Faiz menilai, kemampuan mengelola kesedihan dapat membantu seseorang menemukan potensi yang sebelumnya tidak disadari. Ia bahkan menyebut kesedihan dan kegalauan dapat menjadi bahan lahirnya karya-karya besar, asalkan energi emosional tersebut diarahkan secara tepat.

Mengubah Energi Cinta Menjadi Kreativitas
Faiz menegaskan, energi emosional yang muncul ketika seseorang jatuh cinta maupun mengalami patah hati dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang produktif. Persoalannya bukan semata-mata seberapa kuat perasaan itu, melainkan bagaimana seseorang mengelolanya.

Ia mencontohkan seseorang yang sedang jatuh cinta bisa menjadi lebih puitis, bersemangat, dan terdorong melakukan banyak hal demi orang yang dicintainya. Energi tersebut, menurutnya, dapat diarahkan untuk mengembangkan kreativitas, menyelesaikan pendidikan, atau menghasilkan karya.

“Orang jatuh cinta itu kan energinya juga besar. Tinggal mampu atau tidak kalian mengelolanya,” jelasnya.

Karena itu, Faiz mengajak masyarakat tidak membiarkan energi cinta habis untuk hal-hal sepele. Perasaan yang kuat seharusnya dapat menjadi dorongan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Ia menambahkan, puncak perjalanan cinta bukan sekadar memperoleh kebahagiaan atau terbebas dari penderitaan.

Lebih dari itu, cinta dapat mengantarkan seseorang pada kebebasan batin, terutama kebebasan dari belenggu ego yang membuat manusia terus berpusat pada dirinya sendiri.

“Pada puncaknya cinta akan membuatmu bebas. Yang paling jelas, bebas dari belenggu ego, dirimu sendiri,” ujarnya.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo