Berlin, Arina.id—Elif Eralp, politikus Partai Kiri (Die Linke) Jerman, mencuri perhatian setelah membawa partainya meraih kemenangan dalam pemilu negara bagian Berlin. Perempuan keturunan Turki itu kini berpeluang menjadi wali kota pertama Berlin dengan latar belakang migran.
Die Linke meraih 25,7 persen suara dalam pemilu yang berlangsung pada Minggu (20/9/2026). Perolehan tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan hasil partai itu tiga tahun sebelumnya. Kemenangan tersebut menjadi hasil terbaik Die Linke dalam pemilu Berlin dan menempatkan Eralp sebagai kandidat utama untuk memimpin pemerintahan negara kota tersebut.
Nama Eralp semakin banyak diperbincangkan karena kemiripannya dengan politikus New York, Zohran Mamdani. Sejumlah media menjulukinya Mamdani dari Jerman. Media publik Jerman Tagesschau bahkan menggunakan istilah Die Spree-Mamdani merujuk pada Sungai Spree yang mengalir di Berlin.
Perbandingan itu bukan sekadar datang dari pendukung Eralp. Ia sendiri mengakui Mamdani menjadi salah satu inspirasi kampanyenya.
"Saya berharap apa yang mungkin terjadi di Manhattan, New York, juga akan mungkin terjadi di Berlin,” kata Eralp dikutip media Anadolu Agency, Selasa 22 September 2026.
Ia mengatakan kampanyenya memiliki kesamaan dengan Mamdani karena sama-sama menempatkan persoalan sosial sebagai perhatian utama dan berupaya menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
"Mamdani fokus pada tuntutan sosial dan itulah yang juga kami lakukan. Dan dia menyatukan berbagai komunitas, itu adalah kesuksesan besar, dan itulah yang juga kami coba lakukan," ujar Eralp.
Kritik terhadap kebijakan Israel di Gaza
Eralp dikenal karena sikapnya terhadap perang di Gaza. Ia mengkritik keras pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mengecam tindakan yang menurutnya merupakan kejahatan perang di Gaza. Dalam wawancara sebelum pemilu, Eralp mengatakan kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel tidak seharusnya disamakan dengan antisemitisme.
Eralp juga mengkritik kebijakan pemerintah Berlin terhadap aksi pro-Palestina. Menurutnya, pemerintah sebelumnya gagal mendengarkan persoalan yang disampaikan komunitas Palestina di Berlin.
"Wali kota Berlin tidak pernah mendengarkan persoalan masyarakat Palestina di sini di Berlin, dan itu merupakan kesalahan besar,” kata Eralp.
Ia juga mengatakan kebebasan berbicara dan kebebasan berkumpul perlu dijaga, termasuk bagi masyarakat yang melakukan aksi solidaritas terhadap Palestina. Ia menilai sejumlah aksi pro-Palestina mengalami kekerasan dan tindakan represif.
Dalam wawancara tersebut, Eralp menyatakan dirinya mendukung hak Israel untuk tetap ada sekaligus hak Palestina untuk memiliki negara. Ia juga mengatakan bahwa dirinya dan partainya mendukung upaya melawan antisemitisme.
"Eralp menolak tuduhan antisemitisme terhadap partainya dan mengatakan kritik terhadap kejahatan perang yang dilakukan pemerintah Netanyahu di Gaza bukanlah antisemitisme," tegasnya
Dalam kesempatan lain, Eralp mengatakan dirinya akan mendukung penegakan proses hukum internasional terhadap Netanyahu. Ia merujuk pada proses di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sikap tersebut menjadi salah satu isu yang cukup sensitif dalam politik Berlin. Reuters melaporkan bahwa calon mitra koalisi Eralp dari Partai Sosial Demokrat (SPD) dan Partai Hijau meminta persoalan tuduhan antisemitisme di sejumlah bagian Die Linke Berlin ditangani. Eralp sendiri menegaskan keselamatan warga Yahudi, Muslim, dan seluruh kelompok masyarakat di Berlin menjadi prioritasnya serta mengecam glorifikasi kekerasan dan terorisme.
Putri keluarga migran asal Turki
Eralp lahir di Munich pada 1981. Orang tuanya meninggalkan Turki setelah kudeta militer 1980 dan kemudian menetap di Jerman. Ia tumbuh di Dortmund dan Hamburg sebelum pindah ke Berlin.
Orang tuanya merupakan akademisi, sosialis, dan aktivis serikat pekerja. Pengalaman keluarga tersebut turut membentuk keterlibatan politik Eralp sejak usia muda.
Eralp mengatakan dirinya memutuskan mempelajari hukum setelah menyaksikan ketidakadilan dan diskriminasi sejak kecil. Ia juga mengingat pengalaman masa sekolah dasar ketika Jerman mengalami gelombang kekerasan ekstremis sayap kanan yang menyasar masyarakat berlatar belakang migran pada 1990-an.
Setelah menyelesaikan pendidikan hukum, Eralp bekerja dalam bidang kebijakan hukum dan hak asasi manusia. Ia kemudian bergabung dengan Die Linke pada 2017 dan terpilih menjadi anggota parlemen negara bagian Berlin pada 2021.
Karier politik tersebut membuat Eralp dikenal melalui isu diskriminasi, hak masyarakat migran, dan hak politik kelompok yang selama ini kurang terwakili.
Kini, kemenangan Die Linke membuatnya berada di ambang sejarah. Jika berhasil membentuk pemerintahan, Eralp dapat menjadi pemimpin pemerintahan Berlin pertama yang berasal dari latar belakang migran.
Jalan menuju Balai Kota Berlin
Meski Die Linke menjadi pemenang pemilu Berlin, kemenangan tersebut belum otomatis menjadikan Eralp sebagai wali kota.
Partai tersebut masih harus membentuk pemerintahan dan memperoleh dukungan mayoritas di parlemen negara bagian. SPD dan Partai Hijau menjadi calon mitra dalam pembentukan koalisi, tetapi proses negosiasi dapat menghadapi sejumlah persoalan, termasuk kebijakan perumahan dan isu antisemitisme.
Eralp sendiri mengatakan hasil pemilu menunjukkan warga Berlin menginginkan perubahan kebijakan dan Berlin yang lebih terjangkau.
Kemenangan tersebut sekaligus memperkuat perbandingan antara Eralp dan Mamdani. Keduanya sama-sama muncul dari politik kiri di kota besar, mengangkat persoalan harga hunian dan biaya hidup, serta membangun kampanye dengan menjangkau kelompok masyarakat dari berbagai latar belakang.
Namun, Eralp memiliki agenda yang lebih luas. Selain isu ekonomi perkotaan, ia membawa isu hak migran, anti-diskriminasi, kebebasan berkumpul, serta sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah Israel di Gaza ke dalam perjalanan politiknya.
Kini, perhatian beralih pada apakah Eralp dapat mengubah kemenangan elektoral Die Linke menjadi pemerintahan baru Berlin. Jika berhasil, perempuan keturunan Turki itu akan menjadi salah satu figur politik kiri paling menonjol di Jerman sekaligus pemimpin pertama Berlin dengan latar belakang migran.
Editor: Suci


