Jakarta, Arina.id—Dunia Islam kembali berduka. Ulama ahli usul fikih dan akademisi terkemuka asal Suriah, Prof. Dr. Syaikh Muhammad Hasan Hitou, wafat pada Selasa, 24 Februari 2026.
Kabar wafatnya menyebar luas melalui jejaring ulama dan institusi pendidikan Islam lintas negara, disertai ungkapan duka dan doa dari para murid, kolega, serta lembaga yang pernah menjadi bagian dari pengabdiannya.
Syaikh Muhammad Hasan Hitou lahir di Suriah pada 1362 H/1943 M. Ia dikenal sebagai ulama Azhari yang mendalami bidang ushul fikih, fikih, akidah, dan ilmu hadits. Pendidikan tingginya ditempuh di Universitas Al-Azhar hingga meraih gelar doktor.
Dalam perjalanan akademiknya, pernah mengabdi sebagai dosen di Universitas Kuwait antara lain di Fakultas Syariah pada 1981–1995 dan di Fakultas Hukum pada 1979–1981. Sebelumnya, ia juga mengajar di Ma’had Pendidikan Guru (Kulliyat at-Tarbiyah al-Asasiyah) pada periode 1975–1979.
Kiprahnya meluas hingga ke Eropa. Bahkan ia pernah mengajar di sejumlah perguruan tinggi yang berafiliasi dengan Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, serta dipercaya menjadi Direktur Syariah pada sebuah lembaga keuangan di Jerman. Ia juga mendirikan dan memimpin Markaz Ad-Duwali lil Ulum al-Islamiyyah di Jerman sebagai pusat pengembangan studi Islam bagi komunitas Muslim Eropa.
Di Indonesia, perannya turut tercatat dalam penguatan pendidikan tinggi Islam, termasuk kontribusinya dalam proses pendirian dan pembinaan akademik STAI Imam Syafi‘i Cianjur.
Keterlibatan tersebut menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi ulama dan akademisi yang kokoh dalam metodologi ushul fikih serta berpegang pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah berakidah Asy‘ariyyah.
Secara khusus, pengaruh keilmuannya juga sangat terasa di lingkungan Ma’had Aly Andalusia. Sebagian besar dosen di lembaga tersebut merupakan murid langsung Prof. Dr. Syaikh Muhammad Hasan Hitou. Bahkan, dalam mata kuliah ushul fikih yang dikaji secara resmi di Ma’had Aly Andalusia, digunakan karyanya berjudul Al-Wajiz fi Ushul at-Tasyri‘ al-Islami sebagai rujukan utama.
Karya dan Warisan Keilmuan
Sepanjang perjalanan hidupnya, banyak karyanya yang dijadikan bahan kajian keilmuan di berbagai pesantren. Di antaranya: Al-Hadits al-Mursal Hujjiyyatuhu wa Atsaruhu fi al-Fiqh al-Islami, membahas tentang kedudukan hadis dalam ilmu ushul fikih.
Al-Wajiz fi Ushul at-Tasyri‘ al-Islami, karya penting di bidang usul fikih, dan Fiqh Shiyam, salah satu karya monumental yang hingga kini masih dikaji oleh masyarakat luas.
Selain itu, ia memiliki proyek besar dalam menyusun ensiklopedia fikih Syafi‘i dan fikih perbandingan bertajuk Asy-Syamilah yang terdiri dari 160 jilid. Proyek ilmiah besar ini dijadikan sebagai proyek hidupnya.
Hingga akhir hayat, Syaikh Hasan Hitou telah menyelesaikan bagian pembahasan al-Furu‘ wa al-Masāil, yang direncanakan mencapai 140–600 halaman per jilid.
Editor: Suci


