Dark
Light
Dark
Light

Patungan Beli Lahan untuk Hutan, Ide bagi Gen Z yang Ingin Selamatkan Masa Depan Lingkungan

Patungan Beli Lahan untuk Hutan, Ide bagi Gen Z yang Ingin Selamatkan Masa Depan Lingkungan

Banjarnegara, Arina.id – Suasana aula Kampung Ilmu Serayu Banjarnegara, Jawa Tengah pagi akhir Desember 2025 itu lain dari biasanya. Ratusan pelajar, mahasiswa, dan aktivis lingkungan telah berkumpul di kompleks kafe yang terletak di utara gerbang Waduk Panglima Besar Jenderal Soedirman, atau lebih dikenal Waduk Mrica. Aroma kopi lokal yang khas menguar memenuhi udara. Sejumlah panitia bersiap menyambut kehadiran dua sosok yang sangat dinanti, Farid Gaban dan Benaya Harobu.

Komunitas ‘Serayu Network’ bersama ‘Jegongan Manfaat’ Banjarnegara hari itu berhasil mengundang kedua penulis kondang tersebut melalui bedah buku Reset Indonesia karya mereka. 

Kegiatan itu sekaligus sebagai ruang temu dan dialog terbuka untuk memperbincangkan kembali arah masa depan bangsa. Terutama kegelisahan yang tengah dirasakan para peserta atas rusaknya alam, banjir yang datang berulang, tanah longsor, serta gurita korporasi besar dalam perusaka alam yang telah berlangsung lama.

Patungan beli hutan lewat koperasi
Tak lama kemudian, sosok yang dinanti  hadir disambut antusiasme peserta. Blacara bedah buku pun dibuka.

Dalam forum tersebut, baik Farid maupun Benaya sebenarnya melemparkan gagasan yang  sederhana, namun kontra logika dengan pembangunan selama ini. Mereka manggagas untuk pembelian hutan dan mengelolanya bersama-sama melalui koperasi.

Farid mengajak peserta menengok kondisi negeri dari sudut pandang jurnalis lintas generasi yang selama lebih dari 15 tahun melakukan ekspedisi ke berbagai pelosok Indonesia itu. Buku Reset Indonesia pun sebagian besar ditulis dari perjalanan panjangnya keliling Nusantara. 

Tentang gagasan membeli hutan, Farid tidak menyebutnya sebagai bentuk frustrasi generasi muda, melainkan sebagai upaya realistis di tengah kebuntuan kebijakan. 

"Masa depan Indonesia bukanlah tambang, melainkan biodiversitas alias keanekaragaman hayati," ujarnya. 

Gagasan tersebut masuk akal. Farid bukanlah sosok baru dalam rimba jurnalisme Indonesia. Ia pernah berkarier sebagai wartawan Tempo, menjadi Pemimpin Umum Republika. Dalam dua dekade terakhir, namanya lebih sering muncul sebagai jurnalis independen yang melakukan perjalanan panjang menyusuri wilayah-wilayah pinggiran Indonesia. Ia dikenal kritis terhadap kebijakan negara, vokal di media sosial, dan konsisten membela kebebasan berekspresi.

Farid tercatat terlibat dalam berbagai ekspedisi, mulai dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa hingga Ekspedisi Indonesia Baru (EIB) pada 2022.

Dalam EIB, Farid, juga bersama Benaya  Harobu berkeliling Indonesia selama setahun penuh. Tujuannya bukan hanya merekam kerusakan alam dan konflik sosial, tetapi juga mencari karya-karya imajinatif masyarakat lokal dalam mengelola sumber daya alam secara arif.

Adapun Benaya Harobu hadir sebagai generasi penerus. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang, asal Sumba, Nusa Tenggara Timur, ini disamping seorang jurnalis, ia adalah filmmaker yang bekerja di Agropolitan TV, media yang berfokus pada isu pertanian. 

Pelibatan anak muda
Bagi keduanya, melibatkan anak muda bukan sekadar simbol regenerasi. Para penguasa yang sekarang memegang jabatan banyak yang tak amanah dan tak cukup waktu mengubah dirinya sendiri. Karena itu, EIB sejak awal dirancang sebagai ruang belajar sekaligus eksperimen organisasi. Manajemennya dikembangkan dalam bentuk Koperasi Indonesia Baru, yang memproduksi foto, video, tulisan, dan film dokumenter sebagai modal bersama.

Pengalaman itulah yang kemudian dirawat dan dibawa ke berbagai forum diskusi, termasuk di Banjarnegara. Di hadapan para pelajar dan mahasiswa, mereka mengajak generasi Z untuk mulai beraksi nyata, tidak berhenti pada kemarahan atau keluhan di media sosial. 

“Sudah ada contoh di Kalimantan. Anak-anak muda patungan membeli hutan, menjadikannya habitat owa, membangun penginapan kecil, bahkan sekolah. Tantangannya memang kolaborasi, tapi itu jauh lebih mungkin daripada menunggu negara sadar,” ujar Farid.

Koperasi vs Korporasi
Skema koperasi yang ditawarkan tersebut sangat dimungkinkan akan berhadapan dengan korporasi besar yang selama ini menguasai lahan, modal, dan akses kebijakan. Farid menyebut data ketimpangan agraria dengan nada getir, dimana ada satu persen orang Indonesia menguasai hampir 60 persen tanah, sedang petani kecil rata-rata hanya memiliki setengah hektar lahan. Bahkan kawasan konservasi dan suaka margasatwa pun tak luput dari jarahan.

Jika korporasi dikuasai oleh segelintir orang berduit, maka koperasi justru mengandalkan kepercayaan, partisipasi, dan simpati publik, terutama dari generasi muda dan netizen yang semakin sadar lingkungan.

Banjarnegara menjadi contoh kongkret dari persoalan yang mereka bicarakan. Daerah ini memiliki Waduk Mrica, salah satu sumber listrik penting di Indonesia. Namun di balik fungsinya, waduk ini menghadapi ancaman serius berupa sedimentasi yang menggila. Endapan lumpur yang terus menumpuk telah berlangsung puluhan tahun, berasal sejak dari wilayah hulu di Dieng.

Penggundulan hutan, alih fungsi lahan, serta praktik pertanian yang mengeksploitasi alam membuat struktur tanah rapuh. Air hujan dengan mudah menggerus tanah, membawanya ke sungai-sungai kecil, lalu bermuara di Sungai Serayu dan mengendap di Waduk Mrica. Dampaknya tidak hanya pada penurunan kapasitas waduk, tetapi juga  risiko banjir dan rusaknya ekosistem.

Suara pegiat lingkungan
Menurut Heru, peserta diskusi dari penggiat konservasi Banjarmangu berpendapat, gagasan membeli hutan melalui koperasi sebagai jalan alternatif yang patut dicoba. 

“Selama ini kita terlalu berharap pada proyek besar. Padahal pendekatan yang melibatkan anak muda lebih menjanjikan karena tidak terikat pada siklus politik,” ujarnya.

Keluhan serupa datang dari Aji, pemuda asal Kalibening, wilayah pegunungan yang kerap dilanda banjir. Hampir setiap tahun, genangan merendam sebagian besar persawahan di Desa Sindu. Ironisnya, tempat pembuangan sampah akhir berada di bantaran sungai, menambah beban ekologis yang sudah berat. 

“Kami orang gunung, tapi desa kami kebanjiran. Ini logika yang selama ini dibiarkan. Baru saja kemarin ada Balai Sungai yang turun menangani normalisasi Kali Brukah. Itu pun setelah kita laporkan berkali-kali,” cetus Aji.

Farid dan Benaya tidak menjanjikan solusi instan. Mereka fokus pada edukasi dan literasi kepada generasi muda. Menurutnya, jika tidak disadarkan sejak sekarang, kerusakan ekologis akan diwariskan sebagai beban generasi berikutnya. 

Buku Reset Indonesia bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi tawaran gagasan untuk “mengatur ulang” cara kita memahami Indonesia dari pinggiran. Mulai dari pendidikan, politik, ekonomi, dan lingkungan, serta dorongan untuk membangun masa depan yang lebih adil dan manusiawi.

Vibrasi positif
Aksi Farid dan para penggiat lingkungan menggaungkan vibrasi positif di Banjarnegara. Baru-baru ini, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Banjarnegara (Kembara) melakukan penanaman seribu pohon di Dusun Karangtunon, Desa Glempang, Kecamatan Mandiraja, yang termasuk dalam "zona merah" rawan longsor di Kabupaten Banjarnegara. 

Berbagai jenis bibit mulai dari pohon Aren, Balsa, Trembesi, hingga Kopi disebar di titik-titik strategis untuk memperkuat struktur tanah sekaligus memulihkan sumber mata air.

Kader dan relawan konservasi terus bersemi seiring kesadaran bersama menjaga alam. Namun seiring dengan itu, musuh bersama yang dihadapi masih kokoh berdiri: pembalakan hutan dan lahan yang menggila, penambangan liar tak bertanggung jawab, serta perburuan satwa yang nyata.

Jika masih seperti, patungan membeli lahan untuk dijadikan hutan lestari seperti yang ditawarkan Farid layak untuk diwujudkan.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo