Dark
Light
Dark
Light

Dakwah Profetik Ekoteologis Berbasis Cinta ala Asep Shodiqin Maulana UIN Bandung

Dakwah Profetik Ekoteologis Berbasis Cinta ala Asep Shodiqin Maulana UIN Bandung

Asep Shodiqin Maulana, seorang figur yang lahir dari tradisi pesantren, kini memegang peran strategis sebagai Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Ia juga mencoba berkontribusi lewat pengembangan konsep ekoteologi yang digagas oleh Kemenag dengan mengimplementasikannya dalam formulasi unik, yakni Dakwah Profetik Ekoteologis Berbasis Cinta.

Pengembangan ini bukan sekadar teori akademik, melainkan sebuah seruan untuk merevitalisasi peran dakwah di tengah krisis multidimensi yang melanda umat dan semesta akhir-akhir ini.

Perbincangan dengannya pada pertengahan Oktober 2025 pagi bermula di Ruang Kantor Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Di ruangan yang sarat buku dan semangat pengabdian inilah, ia memaparkan secara mendalam gagasannya tentang bagaimana cinta harus menjadi energi spiritual untuk menyelamatkan bumi dan mengembalikan ghiroh kemanusiaan.

Pria yang akrab disapa Pak Asep itu mengungkapkan bahwa problematika keumatan dewasa ini dapat diselesaikan melalui pendekatan keagamaan. Sebab, di tengah meningkatnya kerusakan ekologis dan menguatnya kepekaan sosial umat beragama, muncul kebutuhan untuk meninjau ulang hakikat dakwah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Akar dan Dedikasi: Jejak Sang Akademisi
Lahir di Subang pada 27 Desember 1975, perjalanan pendidikan Pak Asep diwarnai oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam yang sarat nilai dan tradisi. Fondasinya dibentuk mulai dari MI Miftahul Ulum Subang, berlanjut ke MTsN Ciwaringin Cirebon, dan mencapai kematangan di MAN Tambakberas Jombang.

Jalur pendidikan yang ditempuh di pesantren dan madrasah tersebut memberikan basis spiritual dan keilmuan yang kokoh. Ia kemudian melanjutkan studi di Bandung: menyelesaikan S1 dan S2 di IAIN Bandung, dan mencapai puncak akademik dengan meraih gelar S3 dari UIN Bandung.

Dedikasi Asep Shodiqin Maulana di dunia akademik dimulai sejak tahun 2003, dengan pengalaman mengajar di STAIN Cirebon dan UNWIM Jatinangor. Sejak 2008, ia fokus berkarier di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan dipercaya memegang sejumlah jabatan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, antara lain Sekretaris Pustaka Referensi Dosen tahun 2011–2015, Ketua Perpustakaan tahun 2015–2019, Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) tahun 2019–2023.

Saat ini, dirinya diberi amanah sebagai Wakil Dekan III di fakultas tersebut dan anggota Satgas P2KS. Kehadirannya tidak hanya mengurusi administrasi, tetapi juga membumikan gagasan-gagasan transformatifnya melalui sejumlah jabatan yang sedang diemban olehnya.

Dakwah Profetik Berbasis Cinta
Di tengah riuh pembangunan dan deru industri, bumi yang kita huni kini mengeluarkan rintihan. Banjir, polusi, dan perubahan iklim seolah menjadi pesan keras bahwa ada yang retak dari tatanan kosmos.

Pak Asep mengungkapkan bahwa dalam kacamata Al-Qur’an, alam raya adalah sebuah orkestra agung, sebuah keseimbangan kosmos yang menjadi tanda kebesaran Ilahi. Ia bukan sekadar pemandangan, melainkan jaringan kehidupan yang saling berdenyut. Ketika keseimbangan itu hancur, yang menderita bukan hanya hutan dan lautan, tetapi juga batin manusia.

“Inilah paradoks terbesarnya yaitu krisis ekologis kita sesungguhnya berakar dari krisis cinta. Kita mencintai dengan cara yang salah, cinta yang menumpuk pada kepemilikan, kekuasaan, dan konsumsi yang tak pernah puas, alih-alih pada kasih sayang sejati terhadap kehidupan itu sendiri,” tuturnya.

Lalu, bagaimana Islam merespons keretakan hati dan kerusakan bumi ini? Jawabannya terletak pada dakwah profetik ekoteologis berbasis cinta.

Pak Asep menyebutkan bahwa bukan sebuah kebetulan jika Nabi Muhammad Saw diutus untuk menyempurnakan akhlak dan menebar rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin). Sebab, cinta dalam pandangan sufistik adalah inti dari seluruh ajaran kenabian. Ia adalah energi spiritual yang melahirkan kepedulian, keadilan, dan keberlanjutan.

“Dalam kerangka dakwah, cinta bukanlah sekadar perasaan sentimental. Ia adalah praksis yang membebaskan, bukan memaksa, menghidupkan, bukan menghakimi. Dakwah berbasis cinta artinya mengajak manusia menyayangi bumi sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri, ia mentransformasi aktivitas menjaga sungai, menanam pohon, atau mengelola sampah dari sekadar kegiatan sosial menjadi ibadah ekologis, sebuah ekspresi tauhid yang hidup,” paparnya.

Menurutnya, para dai dan pemuka agama hari ini ditantang untuk meneladani sifat kenabian (fathanah, tabligh, amanah, ‘adl) dalam konteks ekologis. Berjuang untuk keadilan berarti berjuang untuk keadilan bumi.

“Bukankah umat Islam disebut ummatan wasathan (umat penengah) yang adil dan menjadi saksi? Tugas kesaksian ini menuntut kita untuk hadir dalam penderitaan dunia, termasuk ketika hutan ditebangi korporasi dan laut tercemar limbah. Dakwah profetik tak boleh diam di balik mikrofon masjid ketika makhluk Tuhan yang lain sekarat,” tegasnya.

Ekoteologi: Cinta Mengubah Paradigma Dakwah
Konsep ini semakin dikuatkan oleh Ekoteologi Islam, kesadaran bahwa alam adalah bagian integral dari realitas teologis. Setiap ciptaan adalah ayat-ayat Tuhan (ayat kauniyah) yang harus dibaca dengan hati dan akal. Di sinilah spiritualitas bertemu ekologi: memahami Tuhan melalui keindahan ciptaan-Nya, dan menjaga ciptaan sebagai bentuk syukur.

“Cinta bertindak sebagai jembatan antara iman yang kokoh dan tindakan ekologis yang konkret. Tanpa cinta, teologi bisa menjadi kering dan dogmatis. Tanpa teologi, tindakan ekologis bisa kehilangan makna spiritualnya,” jelasnya.

Maka, sambung pria yang saat ini juga diberi amanah sebagai Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat, dakwah ekoteologis berbasis cinta bergerak melampaui retorika, di mana hal tersebut mengubah paradigma dari sekadar ‘mengislamkan’ menjadi ‘menginsankan’, dari penyeragaman menuju penyadaran.

"Di lapangan, ini diwujudkan lewat pesantren hijau yang mengajarkan konservasi, atau khutbah Jumat yang membahas daur ulang dan solidaritas terhadap korban bencana iklim. Dakwah tidak lagi hanya berbicara kepada manusia, tetapi juga berbicara untuk bumi,” tuturnya.

Dari Spiritual Menuju Gerakan Sosial: Memperluas Tanggung Jawab Ibadah
Pak Asep juga menyebutkan bahwa tantangan terbesar dakwah profetik-ekoteologis berbasis cinta adalah menjadikannya gerakan sosial yang sistematis. Dakwah cinta tidak boleh berhenti pada level individu; ia harus masuk ke ranah kebijakan dan pendidikan.

“Masjid-masjid perlu menjadi pusat gerakan ekoteologi seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menanam pohon di halaman, mengelola sampah, hingga memanfaatkan energi surya. Pesantren dan madrasah dapat menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan sejak dini, menjadikan ibadah tidak terpisah dari tanggung jawab ekologis,” tuturnya.

“Termasuk juga para dai, ustadz, dan kiai perlu memperluas horizon dakwahnya yang semula dari ceramah moral menuju kesadaran ekologis. Ketika umat diajak mencintai Tuhan, mestinya mereka juga diajak mencintai ciptaan-Nya. Karena, dalam cinta itu ada tanggung jawab, dan dalam tanggung jawab itu ada ibadah. Nah, dakwah profetik berbasis cinta sejatinya adalah panggilan untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya: menjadi penjaga kehidupan, bukan perusaknya,” tambahnya.

Baginya, dakwah profetik-ekoteologis berbasis cinta ini bukanlah gagasan baru, melainkan kebangkitan kembali semangat kenabian dalam konteks zaman yang terluka. Di tengah dunia yang semakin materialistik dan terpolarisasi, cinta menjadi bahasa universal yang melampaui sekat agama dan ideologi.

“Cinta mengajarkan bahwa berbicara tentang Tuhan berarti berbicara tentang kasih terhadap seluruh ciptaan," kata Pak Asep.

"Jika dakwah profetik adalah dakwah yang menegakkan kebenaran dan keadilan, maka dakwah ekoteologis berbasis cinta adalah wajah lembutnya yakni dakwah yang merangkul bukan memukul, menanam bukan menebang, dan menghidupkan bukan menghakimi,” paparnya.

“Dalam cinta yang demikianlah bumi menemukan kembali harapannya, dan manusia menemukan kembali kemanusiaannya,” tandasnya.

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo