Jakarta, Arina.id - Israel memang berdalih menargetkan Situs Nuklir Iran di Fordow dalam keterangan mereka baru-baru ini untuk meyakinkan sekutunya, Amerika Serikat (AS) agar ikut menyerang Teheran. Seperti disampaikan Penasihat Keamanan Nasional Israel, Tzachi Hanegbi, bahwa perang itu sepenuhnya merupakan kampanye Israel, tetapi "tidak akan berakhir tanpa merusak Fordow".
Pernyataan tersebut disampaikan Hanegbi dalam sebuah wawancara dengan televisi Channel 12 Israel. Jika AS tidak bergabung, kata dia, Israel mungkin masih memiliki opsi militer. Tetapi opsi itu akan lebih berisiko dan lebih rumit. Israel dan Amerika dapat menerbangkan pasukan khusus untuk operasi khusus di darat, seperti operasi yang menargetkan pabrik rudal di Suriah tahun lalu, atau melumpuhkan Fordow dengan menyerang sistem pendukung penting seperti pasokan listriknya.
The Guardian melaporkan, dalih Israel melancarkan perang memang untuk membela diri, untuk menghancurkan program nuklir Iran. Akan tetapi Netanyahu dan beberapa menteri tidak merahasiakan keinginan mereka untuk mengganti rezim Ayatollah Ali Khamenei.
Donald Trump dilaporkan sempat memveto rencana Israel membunuh Khamenei. Di sisi lain para kritikus juga mempertanyakan mengapa Israel menargetkan lembaga sipil seperti lembaga penyiaran negara, bukannya fokus menyerang titik-titik lokasi situs nuklir Iran. Dalam beberapa hari terakhir, ketika kritik terhadap narasi penggulingan rezim mendapat sorotan, Israel beralih dengan membangun narasi soal ancaman eksistensi Situs Nuklir Fordow.
Menurut mereka, kerusakan fasilitas pemerintah dan sipil di Iran akibat serangan Israel bisa diperbaiki dalam beberapa bulan. Akan tetapi, kata pejabat militer dan pakar nuklir Israel yang tidak disebut namanya itu, menghancurkan atau melumpuhkan Fordow akan memiliki dampak jangka panjang lebih besar.
Lalu apa itu Situs Nukli Fordow? Fordow merupakan salah satu fasilitas pengayaan uranium paling rahasia dan terlindungi milik Iran; Fordow Fuel Enrichment Plant (FFEP). Lokasinya ada di pegunungan Desa Fordow wlayah Kota Suci Qom, sekitar 30 kilometer dari Ibu Kota Teheran. Fasilitas ini dibangun di wilayah bekas pangkalan Korps Pengawal Revolusi Islam secara tersembunyi dan baru diketahui publik pada 2009 setelah diungkap intelijen Barat.
Berada di bawah tanah, bunker FFEP ini disebut-sebut memiliki kedalaman sekitar 80 hingga 90 meter di bawah tanah. Fordow dirancang agar tahan terhadap serangan udara, bahkan dari bom penghancur bunker paling canggih sekalipun. Situs ini berada di bawah kendali Organisasi Energi Atom Iran (AEOI). Fordow merupakan fasilitas pengayaan uranium Iran kedua setelah Natanz.
Tujuan utama Fordow sebagai tempat pengayakan uranium, yaitu proses meningkatkan kadar isotop uranium-235 untuk bahan bakar reaktor atau dalam level lebih tinggi, untuk senjata nuklir. Menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Fordow mengoperasikan sekitar 2.700 sentrifugal dan mampu mengayak uranium hingga kemurnian 60 persen—selangkah teknis dari 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.
Karena potensi militernya itulah, Fordow menjadi pusat perhatian dalam ketegangan geopolitik, terutama antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Bahkan, dalam beberapa laporan terbaru, fasilitas ini disebut sebagai target utama serangan militer terhadap program nuklir Iran. Intelijen Amerika sebenarnya sudah melaporkan tidak ada rencana produksi senjata nuklir Iran, namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump agaknya masih bimbang.
Baru-baru ini, dalam sebuah rapat gabungan bersama pejabat pertahanan Amerika, Donald Trump mengatakan masuk akal bagi AS untuk meluncurkan serangan terhadap Iran hanya jika bom yang disebut "bunker buster" dijamin akan menghancurkan Fordow.
Trump, dalam laporannya The Guardian, diberitahu bahwa dengan menjatuhkan "Bungker Buster Bom" GBU-57 sebesar 13,6 ton (30.000 paun) secara efektif akan menghancurkan Fordow. Namun ia tampaknya tidak sepenuhnya yakin. Di sisi lain, efektivitas GBU-57 untuk menghancurkan Fordow justru diragukan pejabat pertahanan, bahkan menjadi topik pembahasan mendalam di Pentagon sejak awal masa jabatan Trump.

Menurut dua sumber pejabat pertahanan, seperti mustahil menggunakan GBU-57 untuk menghancurkan bunker Iran yang memiliki kedalaman 80 hingga 90 meter. Sementara kemampuan GBU-57 paling kuat menembus kedalaman 60 meter. Keduanya menyinggung hanya senjata nuklir taktis yang bisa menghancurkan Fordow. Namun dalam rapat gabungan di Gedung Putih, Trump tidak menyinggung penggunaan senjata nuklir taktis tersebut.
Kedua sumber tadi menduga, usulan penggunaan nuklir taktis tidak mengemuka kemungkinan karena Trump tidak diberitahu oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Kepala Staf Gabungan Gen Dan Caine. Tapi pejabat pertahanan yang menerima briefing diberitahu bahwa, untuk menghancurkan Fordow dibutuhkan kombinasi dukungan bom konvensional, menjadikannya paket serangan bersama GBU-57.
Kombinasi itupun tidak akan menembus cukup dalam hingga pusat bunker di bawah tanah, melainkan hanya akan menyebabkan kerusakan yang cukup untuk menguburnya. Dalam briefing, intelijen Israel menyarankan, untuk menembus 90 meter di bawah tanah mengharuskan AS melunakkan tanah terlebih dahulu menggunakan bom konvensional, lalu terakhir menjatuhkan nuklir taktis dari bom B2 untuk menghapus seluruh fasilitas Fordow.
Editor: Muhammad Taufiq


