Arina.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sepertinya benar-benar marah dengan India yang memutuskan membeli minyak Rusia. Ia pun memperluas ancamannya kepada negara-negara lain yang ngeyel membeli minyak dari Moskow.
Trump mengancam bakal menghukum negara lain pembeli minyak Rusia dengan hukuman pemberian tarif impor tambahan. Seperti halnya kepada India penerima hukuman pertama, dimana Trump telah menerbitkan sanksi penambahan tarif sebesar 25%.
"Anda akan melihat semakin banyak sanksi sekunder," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu 06 Agustus 2025 mengomentari kemitraan dagang minyak antara Rusia-India.
Perintah eksekutif Trump ini diberikan kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Keuangan Scott Bessent agar segera mengidentifikasi negara-negara yang mengimpor minyak ari Rusia baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sebelumnya, tarif tambahan kepada India sebesar 25% sebagai hukuman sikap ngeyelnya yang masih tetap membeli minyak Rusia diberikan Trump berlaku selama 21 hari.
Menurut peraturan yang diteken Trump itu, jika Menteri Perdagangan mendapati sebuah negara masih mengimpor minyak dari Rusia, maka Menteri harus menyarankan langkah yang perlu diambil presiden terhadap negara tersebut, dengan nasihat dari pejabat terkait.
"Termasuk apakah perlu menjatuhkan tarif bea ad valorem tambahan sebesar 25 persen terhadap barang-barang yang diimpor dari negara tersebut," menurut perintah eksekutif itu.
Pada Selasa, Trump mengatakan AS akan mengambil keputusan terkait sanksi terhadap negara-negara yang membeli minyak dari Rusia setelah pembicaraan antara Duta Khusus AS Steve Witkoff dan pejabat Rusia di Moskow.
Dikutip dari Anadolu, Donald Trump menuduh New Delhi meraup keuntungan besar dari menjual ulang minyak produksi Rusia. Merespons keputusan itu, India menyayangkan bahwa Trump menaikkan tarif hingga 50 persen untuk produk India.
Padahal, menurut Kementerian Luar Negeri India, tindakan membeli minyak Rusia juga dilakukan negara lain demi kepentingan nasionalnya. Hukuman Trump kepada India disebut sebagai "tindakan tidak adil, tak dapat dibenarkan, dan tidak masuk akal".
New Delhi juga menyatakan akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya. India sebagai salah satu kekuatan ekonomi global yang baru, bersama China merupakan pendiri BRICS (Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan).
Dalam beberapa Waktu belakangan ini AS memang menerapkan strategi tarif kepada negara-negara lain dalam situasi perang dagang sekarang ini. Trump bahkan menggunakan tarif untuk menekan sejumlah negara yang tidak sefrekuensi dengan arah kebijakan negaranya.
Terkait tarif Trump ini, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengatakan negaranya akan menggunakan semua sumber daya yang tersedia, termasuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), untuk mempertahankan kepentingannya terhadap tarif baru AS.
"Pada tahun 2025, kami akan menggunakan semua langkah yang memungkinkan, dimulai dengan WTO, untuk membela kepentingan kami," ujar Lula, berbicara di sebuah acara di Brasilia, Selasa 05 Agustus 2025.
"Bahkan, pemerintah telah mengambil tindakan untuk memperkuat perdagangan luar negeri dan menciptakan peluang baru bagi perusahaan-perusahaan domestik sebelum pergantian pemerintahan di Amerika Serikat."
Lula mengatakan ia tidak akan menghubungi Donald Trump membahas masalah ini karena mitranya "tidak mau bicara." Namun, ia mengumumkan akan menghubungi Trump untuk mengundangnya ke COP30, konferensi perubahan iklim PBB, pada November 2025 yang akan diselenggarakan di Belem, Para.
"Anda bisa yakin, saya akan menelepon Trump untuk mengundangnya ke COP30 dan menanyakan pendapatnya tentang isu iklim. Saya akan berbaik hati untuk meneleponnya."
Dalam pertemuan Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Berkelanjutan yang diadakan di istana kepresidenan, Lula menambahkan bahwa jika Trump tidak hadir, "itu karena dia tidak mau, tetapi bukan karena kurangnya pendidikan, keramahan, atau demokrasi. Saya akan mengundangnya!" ujarnya.
Mulai Jumat 08 Agustus 2025, produk yang diimpor Brasil ke AS akan dikenakan tarif sebesar 50%. Lula telah menyatakan kesediaannya untuk bernegosiasi dengan pemerintah AS mengenai tarif tersebut, tetapi ia menekankan bahwa setiap dialog harus dilakukan dengan prinsip kesetaraan dan saling menghormati.
Selain itu, negosiasi juga akan dilakukan dengan tetap berkomitmen terhadap kedaulatan nasional. Ketegangan antara AS memang terjadi dalam beberapa waktu belakangan ini dengan sejumlah negara BRICS. Dimulai perang tarif dengan China, Rusia, India, lalu Brasil.
Editor: Muhammad Taufiq


