Dark
Light
Dark
Light

Dakwah Ramadhan di Ottawa, Guru Besar UIN KHAS Jember Ungkap Tingkatan Tertinggi Sikapi Perbedaan

Dakwah Ramadhan di Ottawa, Guru Besar UIN KHAS Jember Ungkap Tingkatan Tertinggi Sikapi Perbedaan

Ottawa, Arina.id—Salah satu agenda dakwah Ramadhan 1447 H yang dilakukan Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember lalu menyebut level selanjutnya adalah berbeda, tapi bersatu, Prof HM Noor Harisudin di Kanada adalah mengisi pengajian dan buka puasa bersama di KBRI Ottawa.

Pada kesempatan itu, Prof Haris menyampaikan bahwa level tertinggi bersikap terhadap perbedaan adalah persaudaraan. Bukan peminggiran ataupun pemusnahan pada mereka yang berbeda.

Menurut Prof Haris pernyataan tersebut sangat relevan dengan negara Kanada yang dikenal dengan multikulturalisme.

"Di Kanada, penganut agama hidup berdampingan dengan damai. Ada masjid, gereja, sinagoge, kuil, dan rumah ibadah yang lain. Jutaan penduduknya yang berasal dari berbagai negara juga hidup rukun dan damai. Mereka memegang teguh akan multukultarisme yang menjadi nilai utama warga Kanada,” ujarnya kepada Arina,id, Kamis (5/3/2026).

Lebih lanjut, Prof Haris menjelaskan bahwa perbedaan adalah sunnatulah. Kapan pun dan di manapun, pasti ada perbedaan.

“Jangankan kita berbeda dengan orang lain. Dalam diri kita pun, kita seringkali berbeda. Buktinya, pagi hari tempe, malam hari kedelai. Pagi A, siang B dan malam C. Ini bukti kalau diri kita juga sering berbeda. Oleh karena itu, jangan takut dengan perbedaan,” ujar Prof Haris yang juga Direktur World Moslem Studies Center (Womester) itu.

Prof Haris menceritakan anekdot seorang yang tertabrak di Indonesia di rel kereta api. Orang itu sudah berlumuran darah.

“Seorang yang mau menolong ini banyak tanya. Kamu agama apa? Islam jawab yang tertabrak. Islam apa? NU atau Muhammadiyah? NU jawabnya lagi. NU nya apa? PKB atau PPP? PKB jawabnya lagi. Masih ditanya lagi PKB nya siapa? Gus Dur atau Muhaimin? Akhirnya sebelum menjawab dia meninggal duluan,” cerita Prof Haris yang disambut gelak ratusan tawa hadirin pada sore itu.

Islam, kata Prof Haris, memberikan guidance bagaimana menghadapi perbedaan. Bukan dengan cara pemusnahan terhadap mereka yang berbeda, melainkan dengan bersikap toleran terhadap perbedaan.

“Laula mukhalafata lama musaamahata. Seandainya tidak ada perbedaan, maka tidak akan ada toleransi. Makanya, sungguh Indah, level pertama adalah berbeda, tapi toleran atau menghargai perbedaan tersebut,” ujar Prof Haris.

Prof Haris lalu menyebut level selanjutnya adalah berbeda, tapi bersatu.

“Tentu hal yang tidak mudah. Namun, kita bisa menaikkan levelnya. Seseorang bukan hanya toleran, namun juga bersatu –misalnya--menjadi bagian dari nation atau bangsa. Demikian juga bersatu menjadi bagian dari umat Islam dunia," kata Prof Haris yang sudah berkunjung ke 23 negara dunia.

Dan level paling tinggi adalah berbeda, namun bersaudara. “Inilah yang diajarkan Islam. Kita berbeda, namun kita bersaudara. Islam mengajarkan Trilogi Ukhuwah: persuadaran berdasarkan keislaman (Ukhuwah Islamiyah), persaudaraan berdasarkan kebangsaan (Ukhuwah Wathaniyah) dan persadauraan berdasarkan kemanusiaan (Ukhuwah Basyariyah),” urainya.

“Dengan Trilogi Ukhuwah ini, umat Islam akan mudah bergaul di manapun dan kapanpun juga, khususnya di Kanada ini,” kata Prof Haris yang juga Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat.

Buka puasa bersama KJRI Ottawa dihadiri Muhsin Syihab (Dubes RI Kanada), Rahmania Maryam Syihab (Ibu Dubes RI Kanada), Rezal Akbar Nasrun (Minister Consuler), Ust. Bani (Ketua Pengajian Muslim Ottawa), dan sekitar 100 diaspora Muslim.

Selain buka bersama dengan makanan khas Indonesia yang memikat, juga ada doa bersama untuk umat Islam di Iran dan penggalangan dana untuk umat Islam di Palestina. Acara diakhiri dengan shalat tarawih berjamaah mulai pukul 7.30 hingga 8.30 malam waktu Kanada.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo