Minggu malam 15 Februari 2026 tepatnya pukul 23.00 WIB, saya berangkat dari Bandara Soetta Jakarta. Tujuan dakwah kali ini adalah beberapa kota di Kanada. Saya harus transit ke Hong Kong via Garuda Indonesia. Dari Hong Kong, saya naik pesawat Cathay menuju Tokyo, Jepang. Kurang lebih lima jam sampailah saya di Jepang.
Selanjutnya dari Jepang, saya menuju Kanada melalui maskapi Canada Airlines yang ditempuh hampir 12 jam. Perjalanan pesawat jika ditotal sekitar 22 jam. Saya sampai di Kanada pukul 6 sore, padahal berangkat dari Tokyo Jepang juga pukul 6 sore.
Mungkin Anda bertanya. Jam 6 ke jam 6. Mengapa? Karena selisih waktu antara Jepang dan Kanada adalah 12 jam.
Kanada adalah negara paling ujung utara dengan kutub utara. Sementara, Indonesia ada di ujung selatan, sehingga ini merupakan perjalanan panjang dari ujung selatan ke ujung utara dunia.
Namun, perjalanan serasa mengasyikkan. Kanada adalah negara paling utara di Amerika Utara. Dengan ibu kota Ottawa, negar itu memiliki 10 provinsi dan 3 teritori dengan populasi penduduk kurang lebih 41 juta. Kota-kota besar yang terkenal di Kanada adalah Toronto, Montreal, dan Vancouver. Bahasa resmi yang digunakan di negara ini adalah Inggris dan Perancis. Khususnya di Provinsi Quebec, Bahasa Perancis lebih mendominasi karena daerah ini dulu pernah dijajah Perancis.
Di Montreal Airport, saya sudah ditunggu Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istemewa Nahdlatul Ulama AS-Kanada, Sigit Afrianto. Kiai Sigit, begitu kami selanjutnya memanggil dia, adalah seorang tokoh NU Kanada yang saat ini bekerja di perusahaan Airbus Kanada. Menjemput saya, dia bersama istri dan mobil sedan Marcedes.
Dari Bandara, kami membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke rumahnya, sebuah rumah yang menurut saya tergolong mewah eksotik berlantai tiga yang bersih dan menawan. Apalagi saat musim dingin di Kanada. Salju di halaman rumah Kiai Sigit sampai ketinggian satu meter. Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah ini juga dipenuhi salju. Suhu 0,2 derajat Celcius hari itu.
“Masih untung, Kiai. Di sini sudah 0. Kemarin sampai minus 32," kata Kiai Sigit.
Saya dipersilakan masuk kamar yang sudah Kiai Sigit dan keluarganya persiapan. Saya mengingat perjalanan 22 jam yang baru saya lakukan, dan sengaja mengamati peta dunia. "Dari ujung selatan ke ujung utara dunia. Makanya, saya sebut the tiring trip. Perjalanan yang asyik, meski melelahkan. Selisih waktu dengan Indonesia 12 jam," gumam saya.
Saya teringat, sepanjang jalan tadi, rumah dan halaman ndipenuhi hamparan salju menggunung. Maklum, musim dingin (winter). Musim dingin di Kanada terjadi pada Desember hingga Maret. Suhu udara bisa turun hingga -30°C di beberapa daerah. Pada musim ini, orang Kanada mengadakan festival musim dingin yang meriah seperti Winterlude di Ottawa dan Carnaval de Québec di Quebec City.
Salju adalah fase saat masih berupa serpihan atau pasrahan es, yang lembut dan kalau di injak ambles. Salju akan mengeras jadi es jika terkena matahari dengan temperature dibawah 0 derajat Celcius.
Sementara, musim semi (spring) dimulai bulan Maret dan diakhir Mei. Musim semi adalah musim transisi di mana salju mulai mencair, suhu mulai menghangat, dan alam mulai tumbuh kembali. Pada musim semi, suhu udara yang mulai naik, berkisar antara 0°C hingga 15°C. Hari-hari juga menjadi lebih panjang. Salju mulai mencair, bunga-bunga mulai bermekaran, dan alam kembali hidup. Tak hanya bunga-bunga yang kembali bermekaran, musim ini juga menjadi waktu bagi burung-burung untuk bermigrasi.
Musim panas (summer) terjadi pada bulan Maret hingga Mei. Musim panas sangat menyengat. Suhu udara pada musim ini rata-rata berkisar antara 20°C hingga 30°C. Pada musim panas umumnya digunakan untuk menjelajah Kanada. Pada musim ini pula, Kanada mengadakan berbagai festival musik, budaya, hingga makanan. Beberapa diantaranya adalah Festival Jazz Montreal, Festival Fringe Toronto, dan Celebration of Light di Vancouver.
Terakhir, musim gugur (autumn) terjadi pada bulan September hingga Nopember. Pada musim ini pemandangan terlihat indah. Daun-daun yang hijau berubah menjadi warna-warni (oranye, kuning, dan merah) sebelum berguguran. Daun-daun pohon maple, oak, dan birch berubah menjadi kuning, oranye, dan merah, menciptakan pemandangan yang memukau. Daun ini semakin terlihat indah ketika mengunjungi Algonquin Provincial Park di Ontario dan Cape Breton Highlands National Park di Nova Scotia. Pada ghalibnya, orang Kanada pada musim ini mengadakan festival musim gugur seperti Festival Oktoberfest di Kitchener-Waterloo dan Festival Celtic Colours di Cape Breton.
Orang Kanada sudah terbiasa dengan empat musim tersebut. Ketika musim dingin misalnya. Hamparan salju setinggi satu hingga dua meter tetap dapat diatasi dengan baik. Jalanan tetap dapat digunakan untuk lalu Lalang transportasi karena salju sudah dibersihkan dengan baik. Namun salju yang ada di genteng rumah dan halaman rumah tetap dibiarkan.
"Kalau di Jerman, salju tidak setinggi ini, Kiai," kata Kiai Sigit Afrianto pada saya.
Bagaimana hewan tetap hidup dan pohon tetap tumbuh? Nah ini menariknya. Air yang membeku di sungai dan danau membeku menjadi es setebal lebih dari 30 cm sehingga bisa dilalui orang atau kendaraan.
Namun anehnya, ikan-ikan tidak mati. Ikan-ikan terhibernasi sampai pada waktunya nanti akan “hidup kembali”. Demikian juga tanaman dan pohon-pohon akan 'hidup kembali' setelah musim semi. Siklus kehidupan—laiknya manusia—ciptaan Tuhan yang menarik bukan?
Wallahu’alam.
M Noor Harisudin, Direktur Womester dan Guru Besar UIN KHAS Jember
M Noor Harisudin
Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Sidiq Jember, Direktur World Moslem Studies Center
Editor: Kendi Setiawan


