Dark
Light
Dark
Light

Yahya Sinwar Tewas: Akankah Hamas Tumpas dan Bagaimana Prospek Palestina Merdeka?

Yahya Sinwar Tewas: Akankah Hamas Tumpas dan Bagaimana Prospek Palestina Merdeka?

Pemimpin gerakan perlawanan Palestina Hamas, Yahya Sinwar, tewas dalam sebuah serangan militer Israel di Gaza pada Kamis, 17 Oktober 2024. Pria yang paling diburu oleh rezim Zionis itu dihabisi oleh tentara Israel ketika dia berpapasan dengan tentara musuh yang sedang berpatroli rutin melalui Kota Rafah.

Segera setelah pengumuman kematian Sinwar, militer Israel mengeklaim telah melakukan pengujian DNA bersama dengan pemeriksaan gigi dan penyelidikan forensik lainnya yang membantu mengonfirmasi identitas Sinwar.

Hamas tak langsung merespons pengumuman militer Israel. Baru esok harinya, Hamas secara resmi mengonfirmasi bahwa pemimpinnya, Yahya Sinwar, tewas dalam pertempuran di Gaza dengan militer Israel.

Khalil Hayya, kepala Hamas di Gaza, mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi pada Jumat, bahwa pemimpin berusia 62 tahun itu adalah pribadi yang teguh, berani, dan tak kenal takut. Sinwar juga, katanya, mengorbankan hidupnya demi pembebasan rakyat Palestina.

Sinwar ditunjuk menjadi Kepala Biro Politik Hamas pada 6 Agustus 2024, menggantikan posisi Ismail Haniyeh yang juga tewas di tangan militer Israel ketika dia bertandang ke ibu kota Iran, Teheran, pada 31 Juli 2024.

Yahya Sinwar merupakan perencana utama serangan Hamas kepada Israel pada 7 Oktober 2023 yang membuat Israel, Hamas, Gaza, hingga Iran berseteru saat ini.

"Jagal dari Khan Younis"

Yahya Sinwar menghabiskan waktu 22 tahun di penjara Israel dan pengalaman itu telah memantapkan tekadnya terhadap Palestina dan mengubahnya menjadi pemimpin Hamas.

Dia juga dicap sebagai "Penjagal Khan Younis" oleh Israel karena menyiksa dan membunuh puluhan orang yang menjadi mata-mata Israel.

Pada September 2024, Amerika Serikat, sekutu Israel, mendakwa Sinwar dan pemimpin Hamas lainnya dengan tuduhan mendanai, mengarahkan, dan mengawasi kampanye selama puluhan tahun untuk membunuh warga negara Amerika dan membahayakan keamanan nasional Amerika Serikat.

Sinwar lahir di kamp pengungsi di Khan Younis, sebuah kota yang terletak di bagian selatan Gaza, pada tahun 1962. Gaza saat itu berada di bawah pendudukan Israel.

Masa kecil yang miskin dan 22 tahun di penjara Israel memberinya toleransi yang tinggi terhadap penderitaan. Ia ditangkap pada tahun 1988 dan dijatuhi empat hukuman seumur hidup atas penculikan dan pembunuhan dua tentara Israel dan empat mata-mata Palestina.

Di penjara, ia juga menulis novel semi-autobiografi berjudul The Thorn and the Carnation dan menggambarkan pasukan Israel menghancurkan rumah-rumah warga Palestina seperti monster yang meremukkan tulang mangsanya.

Sebuah harian Israel, Maariv, bahkan melaporkan bahwa selama di penjara, Sinwar mengambil lima belas mata kuliah di Universitas Terbuka Israel dalam tujuh tahun. Sebagian besar mata kuliahnya adalah tentang sejarah orang Yahudi, Holocaust dan Zionisme, serta tentang demokrasi Israel.

Sebagai perancang utama serangan Hamas terhadap Israel, dilansir Associated Press, Yahya Sinwar, di Gaza, tak ada figur yang lebih berpengaruh dalam menentukan arah perang selain dia. Dia digambarkan sebagai sosok yang obsesif, disiplin, dan diktator, militan veteran yang jarang terlihat, belajar bahasa Ibrani selama bertahun-tahun di penjara Israel dan mempelajari musuhnya dengan cermat.

Juru bicara kepala militer Israel Laksamana Muda Daniel Hagari menyebut SInwar sebagai pembunuh yang membuktikan kepada seluruh dunia bahwa Hamas lebih buruk daripada ISIS.

Sinwar juga dikenal selalu menantang Israel. Dalam salah satu dari sedikit pidato publiknya, Sinwar secara terbuka mengundang Israel untuk membunuhnya, dengan menyatakan di Gaza, "Saya akan pulang berjalan kaki setelah pertemuan ini". Dia kemudian benar-benar melakukannya, bersalaman dan berswafoto dengan orang-orang di jalan.

Di antara orang Palestina, dia dihormati karena berdiri melawan Israel dan tetap berada di Gaza yang miskin, berbeda dengan pemimpin Hamas lainnya yang hidup lebih nyaman di luar negeri. Namun, dia juga sangat ditakuti karena cengkeramannya yang kuat di Gaza dengan ketidakpuasan publik ditekan.

Berbeda dengan citra ramah media yang dikembangkan oleh beberapa pemimpin politik Hamas, Sinwar tidak pernah berusaha membangun citra publik. Karena itu pulalah, Sinwar dikenal dikenal sebagai "Jagal dari Khan Younis" karena pendekatannya yang brutal terhadap warga Palestina yang dicurigai berkolaborasi dengan Israel.

Akankah Hamas tumpas?

Sebagian analis menyebut kematian Sinwar, dan Ismail Haniyeh dua bulan sebelumnya, merupakan pukulan telak terhadap Hamas. Mereka memprediksi Hamas akan melemah, atau bahkan tumpas, setelah dua pemimpin utama kelompok militan itu meninggal dunia.

Namun, Hamas segera mendeklarasikan bahwa mereka tidak dapat dimusnahkan atau dilenyapkan. "Hamas adalah gerakan pembebasan yang dipimpin oleh orang-orang yang mencari kebebasan dan martabat. Ini (Hamas) tidak dapat dihilangkan," kata Basem Naim, pejabat senior Hamas yang juga anggota senior biro politik kelompok itu, Kamis, dikutip dari AFP.

Naim justru menyebut kematian para pemimpin Hamas makin meningkatkan popularitas kelompok tersebut dan mendekatkan mereka pada tujuan Palestina yang merdeka.

"Tampaknya Israel percaya bahwa membunuh para pemimpin kami berarti akhir dari gerakan kami dan perjuangan rakyat Palestina," ujar Naim. Tetapi, dia menekankan, "Hamas makin kuat dan populer dari waktu ke waktu, dan para pemimpinnya menjadi ikon bagi generasi mendatang untuk melanjutkan perjalanan menuju Palestina yang merdeka."

Sebagai isyarat tak akan mengendurkan perlawanan terhadap Israel, Hamas menegaskan tidak akan membebaskan orang-orang Israel yang mereka sandera. Hamas menyebut sandera baru akan dibebaskan jika perang di Gaza dihentikan.

"Para sandera tidak akan kembali, kecuali agresi terhadap rakyat kami di Gaza dihentikan, ada penarikan diri sepenuhnya darinya, dan tahanan heroik kami dibebaskan dari penjara pendudukan," kata pejabat Hamas yang berkantor di Qatar, Khalil al-Hayya, dalam sebuah pernyataan rekaman video, dilansir AFP, Jumat.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa terbunuhnya pemimpin Hamas Yahya Sinwar tidak akan melemahkan perlawanan terhadap Israel.

Iran, sekutu utama Hamas, menganggap kematian Sinwar tak mengganggu perjuangan rakyat Palestina. "Tidak diragukan lagi, pemusnahan fisik para pejuang tidak akan merusak perjuangan jalan perlawanan," demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran, dilansir Iran International, Sabtu.

Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri (SCFR) Iran, yang melapor langsung kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa pembunuhan pemimpin Hamas itu tidak akan melemahkan Poros Perlawanan maupun menghalangi perjuangan Palestina melawan pendudukan Israel.

"Sama seperti para pemimpin ini bangkit dari antara orang-orang Palestina dan Lebanon yang tertindas, pihak lain akan bangkit untuk menggantikan mereka," bunyi pernyataan SCFR.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tak lama setelah menerima laporan akan kematian Sinwar, memuji para tentara Israel dan menegaskan bahwa betapapun besarnya kemenangan, ini bukanlah akhir dari perang.

"Hari ini kita kembali memperjelas apa yang terjadi pada mereka yang menyakiti kita. Hari ini kita sekali lagi menunjukkan kepada dunia kemenangan kebaikan atas keburukan," katanya. "Namun, saudara-saudara terkasih, ini belum berakhir. [Perang] ini sulit dan sangat merugikan kita."

Netanyahu berulangkali mengungkapkan secara terbuka tujuannya, yakni menghancurkan Hamas sebagai kekuatan militer dan politik dan membawa pulang para sandera. Hingga kini, sandera yang tersisa belum berhasil dibebaskan, sementara Hamas terus melawan dan kerap kali membunuh tentara Israel.

Sejumlah warga Palestina di Khan Younis—tempat kelahiran Sinwar—menegaskan perang akan terus berlanjut meski Sinwar telah tiada. "Perang ini tidak bergantung pada Sinwar, Haniyeh, atau Mishal, atau pada pemimpin atau pejabat mana pun," kata Dr. Ramadan Faris, dikutip dari BBC.

"Ini adalah perang pemusnahan terhadap rakyat Palestina, seperti yang kita semua tahu dan pahami," Ramadan menambahkan. "Masalahnya jauh lebih besar daripada Sinwar atau siapa pun."

Adnan Ashour, warga lainnya, mengatakan sebagian orang bersedih, sebagian lainnya acuh tak acuh terhadap Sinwar. Dia menganggap Israel tak hanya mengincar Palestina tetapi seluruh Timur Tengah. "Ini adalah perang antara kita dan orang-orang Yahudi sejak 1919, lebih dari 100 tahun," katanya.

Ketika ditanya apakah kematian Sinwar akan memengaruhi Hamas, dia menjawab: "Saya harap tidak, insyallah. Biar saya jelaskan: Hamas bukan hanya Sinwar... Hamas adalah perjuangan rakyat."

Kandidat pengganti Sinwar

Salah satu pemimpin Hamas, Khaled Meshaal, menurut saluran televisi Lebanon LBCI yang mengutip sejumlah sumber, mengambil alih peran sebagai kepala sementara kelompok tersebut setelah Yahya Sinwar dikabarkan meninggal akibat serangan Israel.

Meshaal, yang memimpin gerakan Hamas di luar Palestina, kini bertanggung jawab atas semua kegiatan komunikasi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi dan masalah tahanan.

Meski termasuk petinggi Hamas, Meshaal tampaknya bukan kandidat yang diunggulkan untuk menggantikan Sinwar. Ada sedikitnya lima tokoh Hamas, selain Meshaal, yang disebut-sebut potensial menggantikan Sinwar, di antaranya Mahmud Al-Zahar, Muhammad Sinwar, Musa Abu Marzouk, Muhammad Deif, dan Khalil Al Hayya.

Bagaimana prospek kemerdekaan Palestina?

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yang dipimpin oleh Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, menyampaikan belasungkawa atas kematian Yahya Sinwar. Abbas menyebut Yahya Sinwar sebagai "pemimpin nasional yang hebat" dan dia mendesak persatuan nasional Palestina.

Beberapa faksi konstituen PLO juga menyampaikan belasungkawa atas kematian Sinwar, termasuk partai Fatah yang sekuler pimpinan Abbas, yang mengatakan bahwa "pembunuhan dan terorisme Israel tidak akan berhasil menghancurkan keinginan rakyat kami".

Di antara ucapan belasungkawa yang dikutip oleh kantor berita Palestina, WAFA, terdapat pesan dari Inisiatif Nasional Palestina dan Persatuan Demokratik Palestina, anggota sayap kiri PLO yang, seperti Fatah, telah menyatakan penentangan terhadap perjuangan bersenjata melawan Israel.

Amerika Serikat mengakui membantu Israel memburu Sinwar sejak serangan Hamas kepada Israel pada 7 Oktober 2023. Sang presiden Joe Biden mengatakan Sinwar bertanggung jawab atas kematian ribuan warga Israel, Palestina, Amerika Serikat, dan warga negara dari lebih dari 30 negara, juga menuduhnya sebagai dalang serangan 7 Oktober.

"Ini adalah hari yang baik bagi Israel, bagi Amerika Serikat, dan bagi dunia," kata Biden, dikutip dari ANews, Jumat.

Penasihat Keamanan Nasional Biden Jake Sullivan, berbicara di dalam Air Force One dalam perjalanan ke Jerman bersama Biden, AS mendukung Israel untuk melenyapkan kepemimpinan dan struktur militer Hamas dengan mengatakan bahwa Hamas tidak lagi mampu melaksanakan serangan 7 Oktober lagi.

"Sekarang ada peluang untuk 'hari setelah' di Gaza tanpa Hamas berkuasa, dan untuk penyelesaian politik yang memberikan masa depan yang lebih baik bagi warga Israel dan Palestina," katanya.

"Yahya Sinwar merupakan hambatan yang tidak dapat diatasi untuk mencapai semua tujuan tersebut. Hambatan itu tidak ada lagi. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan," pungkasnya.

Di tempat terpisah, Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta Israel untuk menghentikan operasi militernya di Gaza dan Lebanon dan menggantinya dengan dialog politik.

"Prancis meminta Israel untuk menghentikan operasi militernya di Lebanon, agar tidak melakukan operasi darat dan menghormati kedaulatan negara itu, sesuai komitmen dengan PBB, terutama mengenai penjaga perdamaian UNIFIL," kata Macron dalam konferensi pers setelah KTT Uni Eropa di Brussels.

"Gugurnya pemimpin Hamas Yahya Sinwar," kata Macron, "seharusnya dapat menjadi alasan untuk mengakhiri perang. Kita harus menghentikan operasi militer, terapkan gencatan senjata di Gaza dan buka perspektif politik yang andal bagi rakyat Israel dan Palestina."


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo