Tangannya tidak kuat lagi menggengam kunci yang semula didekap di dadanya. Kunci berukuran besar itu terlalu berat untuk tangannya yang renta. Amenah Mohamad Bostanjy memang sudah tua. Usianya, 80 tahun.
Dia juga tak dapat lagi berbicara panjang tentang perjalanannya hingga sampai di Amman, Yordania. Bersama Ibrahim -- suaminya, pada 1972, dia pergi meninggalkan tanah kelahirannya di dekat Hebron, Palestina.
Banyak memori yang telah tanggal. Namun tidak dengan kunci itu. Besi itu adalah kunci rumah berdinding batu, tempat Amenah dan keluarganya tinggal. Rumah yang selalu dirindukannya.
Pulang menjadi mimpi mereka, orang-orang Palestina -- yang kini tercerai berai di berbagai tempat pengungsian. Di Yordania saja terdapat sekitar dua juta pengungsi sekitar 370 ribu di antaranya masih tinggal di kamp pengungsian.
Mereka datang bergelombang. Pertama sekali ketika Naqba pecah. Orang Palestina menyebut peristiwa pengusiran pada 1948 – bersamaan dengan berdirinya negara Israel, sebagai malapetaka atau naqba.
Gelombang berikutnya ketika Perang Tujuh Hari pecah pada 1967, yang menyebabkan tanah Israel makin meluas. Tragedi lanjutan ini menurut orang Palestina merupakan kekalahan atau naqsa.
Selain dua gelombang besar itu, mereka pun datang ke Yordania ketika mereka terdesak dan terancam. Amenah termasuk di dalamnya.
Toh begitu bukan berarti cerita Amenah lebih baik. Seperti ditulis Aljazeerah, mereka menempuh perjalanan yang berbahaya. Bahkan mereka harus berlindung di sebuah gua selama dua bulan sebelum mencapai Jabal Amman, di ibu kota Yordania. Berpuluh tahun tinggal di Amman dan beranak pinak di sana, tak mengurangi keinginannya untuk pulang.
Kunci besar juga menjadi obat penawar rindu yang juga menyalakan api harapan bagi Ihsan Mohamad Yaseen, 58 tahun. Besi tebal yang tak lain kunci rumah milik kakek-nenek di Salamah, lima kilometer di timur Jaffa, yang sekarang menjadi bagian dari Tel Aviv di Israel.
Salamah merupakan wilayah tenang. Di sana para penduduknya sering melewatkan malam dengan berkumpul bersama keluarga di halaman rumah mereka. Bernyanyi dan menari sambil menikmati buah-buahan, termasuk jeruk Jaffa yang terkenal di dunia, yang tumbuh subur di iklim Mediterania.
Namun semua itu berubah menjadi kenangan buruk setelah Haganah, pasukan paramiliter Zionis, menyerbu desa itu. Rumah keluarga Yaseen tak luput dari keganasan itu. Rumah keluarga itu dibakar selama perang Arab-Israel pada 1948- 1949.
Bagi Ihsan, kunci menjadi pusaka sekaligus simbol perlawanan mereka. Kunci itu dirawatnya dengan baik-baik dan dipajang di papan berdampingan dengan pasir dan tanah dari Gaza dan Jaffah. Pelanggan toko kacamata miliknya bisa dengan mudah melihatnya.
Ali Al-Mashayekh, 54 tahun, juga menyimpan kunci rumah milik kakek dan neneknya. Kunci itu dia pajang di restoran yang menyajikan makanan tradisional Palestina di Al-Balad, pusat komersial Amman yang ramai.
Besi tua itu kunci sebuah rumah sederhana yang terbuat dari batu bata di dekat kota Hebron di Tepi Barat. Sekarang, kata al-Mashayekh, daerah itu menjadi rumah karyawan sebuah perusahaan Israel.
Di antara sekian banyak dari mereka, hanya Anas al-Abdullah yang terbilang beruntung. Dia – yang menyimpan dua kunci tua untuk pintu rumah dan toko suvernir milik kakeknya menyebutkan dua bangunan itu masih utuh. Itu disaksikannya lewat Google Earth. Hanya saja keadaannya sudah sangat menyedihkan. Tak terurus dan tak bertuan.
Mereka terus menyimpan kunci-kunci tua itu seperti harapan mereka untuk kembali ke Tanah Airnya.
***
Setahun setelah Negara Israel didirikan, Perdana Menteri pertama negeri David Ben-Gurion dengan lantang menyatakan bahwa semua yang mereka lakukan terhadap penduduk Palestina – negeri yang mereka duduki, akan segera dilupakan orang. Termasuk oleh mereka orang Palestina yang menjadi korban keganasan Israel.
Ben-Gurion teramat yakin seiring waktu dan dengan banyak perginya orang Palestina mengungsi ke negara lain, dengan sendirinya akan menghapus memori tentang Nakba. "Yang tua akan mati dan yang muda akan lupa," katanya.
Upaya membuat bangsa Palestina lupa terus dilakukan Israel. Mereka sengaja dibuat sulit untuk kembali. Otoritas Israel mengendalikan tiga penyeberangan perbatasan Yordania, yang mencakup penyeberangan Sheikh Hussein di utara negara itu dan Penyeberangan Wadi Araba di dekat kota Aqaba di Laut Merah. Jadi, tak ada pintu terbuka bagi mereka.
Alasan lain yang membuat bangsa Palestina enggan pergi ke tanah leluhurnya, mereka diharuskan berurusan dengan kedutaan besar Israel. Di sana, mereka – yang telah mendapat paspor Yordania, harus meminta visa masuk dan, jika disetujui, menerima stempel Israel pada dokumen identitasnya. “Jika saya melakukan itu, saya melegitimasi pendudukan mereka, dan saya tidak dapat melakukan itu," kata Ali Al-Mashayekh.
Dengan begitu, mayoritas warga Palestina di Yordania pun tidak pernah memasuki wilayah Palestina. Mereka yang telah menghabiskan seluruh hidup mereka di kamp-kamp ini, menganggap hal itu sebagai solusi sementara sebelum keluarganya dapat kembali ke tanah air mereka. Bagi mereka, meski hidup lebih tenang dan nyaman toh semua itu tak ubahnya "tidur lelap".
"Kita semua menanggung rasa sakit ini; saya bahkan menanggungnya," kata Anas al-Abdullah. "Namun saya mengajarkan kepada anak-anak bahwa suatu hari nanti bahwa kita akan kembali ke tanah air kita."
Kamp-kamp yang ada di Yordania itu jauh berbeda dari desa indah Palestina yang digambarkan oleh orang tua mereka, tetapi semangat komunitas dan identitas Palestina yang kuat memastikan bahwa mereka akan selalu membuktikan bahwa Ben-Gurion salah. "Kami bersatu, kami tetap kuat bersama," katanya.
Anak-anak muda, yang disebut Ben-Guiron, akan melupakan sejarah tragis itu pun bersuara. Omer Ihsan Yaseen, anak muda berusia 20 tahun, berujar, "Kami akan kembali, aku yakin itu," katanya tegas.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor: Fajar WH


