Dark
Light
Dark
Light

Perlunya Mencintai dengan Jiwa, Bukan Sekadar Hati atau Pikiran

Perlunya Mencintai dengan Jiwa, Bukan Sekadar Hati atau Pikiran

Jakarta, Arina.id — Suatu hubungan yang sejati tidak cukup dibangun hanya dengan perasaan atau pikiran. Hubungan antarmanusia seharusnya berakar pada dimensi yang lebih dalam, yakni jiwa.

Hal itu disampaikan oleh Fahrudin Faiz saat mengulas salah satu gagasan sufistik dari Jalaluddin Rumi sebagaimana dalam tayangan video Channel Ngaji Filsafat.diakses Sabtu (13/3/2026).

Faiz meenjelaskan pandangan spiritual tentang cinta dan persahabatan. Dalam paparannya, ia mengutip pemikiran sufi besar Jalaluddin Rumi yang menekankan pentingnya mencintai sahabat dengan jiwa.

Rumi pernah berkata, “Aku mencintai teman-temanku tidak dengan hati atau pikiranku untuk berjaga-jaga. Karena hati bisa berhenti, karena pikiran bisa lupa. Aku mencintai mereka dengan segenap jiwa, karena jiwa tidak pernah mati atau lupa.”

Menurut Faiz, pesan tersebut menunjukkan bahwa sumber cinta tidak seharusnya berhenti pada hati atau pikiran. Hati manusia bersifat berubah-ubah, sementara pikiran mudah lupa dan terdistraksi.

Ia menjelaskan bahwa hati sering kali tidak stabil. Seseorang bisa sangat menyukai orang lain pada satu waktu, tetapi perasaannya bisa berubah pada waktu yang lain. Sementara itu, pikiran juga tidak selalu dapat diandalkan karena mudah tergoda oleh hal-hal baru.

“Hati itu bolak-balik. Sekarang senangnya luar biasa, besok bisa saja bencinya luar biasa. Pikiran juga bisa lupa dan mudah terdistraksi,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak untuk mencintai dengan jiwa, yakni dengan melihat hakikat terdalam dari diri seseorang.

Menurutnya, pada tingkat terdalam manusia terdapat dimensi spiritual yang berasal dari Tuhan. Setiap manusia memiliki ruh yang menjadi bagian dari anugerah Ilahi.

“Manusia itu siapa pun dia, di level terdalamnya ada roh dari Allah. Jadi pertemuannya bukan hanya pertemuan dua akal atau dua hati, tetapi juga pertemuan dua jiwa,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa konsep tersebut sering dikenal dalam istilah soulmate atau belahan jiwa. Pada level pikiran, manusia bisa berbeda pandangan. Pada level perasaan, selera juga bisa berbeda. Bahkan pada level fisik, perbedaan semakin tampak.

Namun, pada tingkat jiwa, manusia pada hakikatnya memiliki kesamaan.

 

“Di level pikiran kita bisa beda-beda, di level hati juga bisa beda-beda. Tapi begitu masuk level jiwa, kita sebenarnya satu,” katanya.

Faiz menilai banyak orang sering mengabaikan dimensi rohani tersebut. Akibatnya, hubungan antarmanusia sering kali hanya didasarkan pada penilaian fisik atau kepentingan sesaat.

Padahal, jika seseorang mampu melihat sisi terdalam dari orang lain, hubungan yang terjalin akan lebih tulus dan mendalam.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk membangun persahabatan yang tidak sekadar berlandaskan perasaan, tetapi juga kesadaran spiritual.

“Cintailah sahabatmu dengan jiwa. Jadi tidak lagi sekadar sepenuh hati, tetapi sepenuh jiwa,” ungkapnya.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo