Dark
Light
Dark
Light

Asesmen Psikososial untuk Pemulihan Penyintas Bencana

Asesmen Psikososial untuk Pemulihan Penyintas Bencana

Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga dampak psikologis dan sosial yang serius bagi masyarakat terdampak. Gangguan seperti Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), kecemasan berlebihan, hingga tekanan sosial kerap dialami penyintas bencana dan dapat menghambat mereka kembali menjalani kehidupan normal.

Artikel jurnal berjudul Penggunaan Layanan Dukungan Psikososial sebagai Sarana Trauma Healing pada Korban Bencana Alam menyebutka bahwa dukungan psikososial menjadi elemen penting untuk memulihkan kondisi mental dan emosional mereka yang terdampak.

Para peneliti dan penulis artikel yakni M Rizky (Universitas Budi Luhur, Jakarta); Hayatul Khairul Rahmat (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati, Cirebon); dan A Said Hasan Basri (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta) mengungkapkan bahwa para ahli menilai, gangguan psikologis akibat bencana dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi pra bencana, pengalaman saat bencana berlangsung, hingga situasi pascabencana.

Karena itu, penanganan korban bencana tidak cukup hanya dengan pemulihan fisik dan infrastruktur, tetapi harus dibarengi dengan layanan dukungan psikososial yang memadai.

Dukungan psikososial terhadap korban bencana dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan. Beberapa di antaranya adalah Psychological First Aid (PFA), intervensi psikososial, pendekatan berbasis komunitas, pendampingan khusus bagi kelompok rentan, serta asesmen psikososial. Berbagai pendekatan tersebut telah diterapkan dalam sejumlah kasus bencana alam di Indonesia dan terbukti efektif membantu pemulihan trauma penyintas.

Asesmen psikososial
Salah satu langkah penting dalam penanganan psikososial adalah asesmen atau penilaian psikologis terhadap korban bencana. Asesmen psikososial diperlukan untuk menentukan kebutuhan khusus individu maupun komunitas terdampak sebagai dasar penanganan lanjutan.

Tujuan utama asesmen ini adalah memulihkan kondisi mental, sosial, dan fisik penyintas agar mereka dapat kembali beraktivitas secara normal secepat mungkin.

Asesmen psikososial dilakukan melalui dua tahapan, yakni pre-test dan post-test. Pre-test bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kondisi psikologis masyarakat penyintas bencana. Tahap ini dilaksanakan melalui wawancara yang menggali pengalaman kejadian bencana serta dampak psikologis yang dirasakan setelah peristiwa tersebut. Sementara itu, post-test dilakukan setelah penyintas mendapatkan bantuan yang dibutuhkan, guna melihat hasil asesmen serta efektivitas dukungan yang diberikan.

Penelitian yang dilakukan Aditya et al. (2021) menunjukkan bahwa asesmen psikososial memberikan dampak positif bagi korban bencana. Studi tersebut dilakukan terhadap penyintas banjir bandang di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, yang terjadi pada 13 Mei 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban merasa lebih tenang dan memiliki semangat baru untuk menjalani hari-hari mereka setelah mengikuti proses asesmen dan pendampingan psikologis.

Hasil ini menegaskan bahwa dukungan psikososial merupakan bagian penting dalam penanggulangan bencana. Pendekatan yang tepat dan berkelanjutan tidak hanya membantu penyintas pulih dari trauma, tetapi juga mempercepat proses mereka kembali ke kehidupan sosial dan aktivitas sehari-hari secara normal.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo