Salah seorang kawan guru mengisahkan suasana pembelajaran di kelasnya dan kelas lain yang ia amati. Pengakuannya, banyak ruang kelas pembelajaran, menggambarkan kondisi belajar yang kaku dan sepi inisiatif. Anak-anak tak ada yang mengajukan pertanyaan. Di antara mereka tak ada yang berani berbeda untuk membantah argumen guru, dan sekadar untuk memberitahu bagian mana yang masih sulit saja. Mereka lebih baik diam. Anak-anak lebih memilih duduk rapi, menatap guru, mencatat, lalu menunggu instruksi berikutnya.
Semua berjalan tertib, tapi juga terasa beku. Kadang, tak sebutirpun gagasan untuk mencoba sesuatu di luar kebiasaan. Cericau yang muncul hanya keluhan ingin segera jam pelajaran berakhir atau candaan yang mengarah pada saling mengejek. Sesekali salah satu atau dua mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan guru, namun setelahnya padam.
Masalahnya, apakah ini fenomena umum yang terjadi karena generasi kiwari lebih malas? Menurut penulis, keadaan demikian bukan semata-mata bertumpu pada siswa. Ada cermin yang patut untuk diresapi bahwa kondisi yang demikian itu merupakan pantulan dari cara guru mengajar di dalam kelas.
Sebagai pendidik, apakah kita tipe guru yang ingin didengarkan atau guru yang mau mendengar. Apakah kita termasuk guru yang inisiatif meramu materi pembelajaran sendiri atau hanya mengekor pada buku paket pelajaran? Atau, apakah kita adalah tipe pendidik yang kritis dan membaca atau hanya pasif menunggu kebijakan dari atas?
Pertanyaan-pertanyaan di atas layak diajukan pada diri sendiri sebelum menunjuk dan menghakimi bahwa anak-anak zaman ini tak punya inisiatif.
Inisiatif adalah akar dari semangat belajar sejati. Dalam proses belajar, diharapkan timbul keinginan untuk menemukan, mencoba, dan memperbaiki diri tanpa harus menunggu disuruh. Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence menyebutkan inisiatif adalah bagian dari kecerdasan emosional yang berperan besar dalam kesuksesan seseorang. Anak yang memiliki inisiatif cenderung proaktif, mampu melihat peluang, dan tidak mudah menyerah saat menghadapi hambatan. Dalam konteks pendidikan, inisiatif menjadi dasar dari pembelajaran yang bermakna. Anak yang berinisiatif akan mencari tahu lebih jauh, mempraktikkan ide-ide baru, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap proses belajarnya.
Namun, sayangnya, model pembelajaran yang banyak dipraktikkan oleh guru lebih sering bersifat instruktif daripada akomodatif. Guru seringkali menilai hal-hal yang bersifat seragam alih-alih menyambut ide-ide yang berbeda. Misalnya, setiap kali ada agenda kegiatan di sekolah, sebagian besar guru menghendaki acara berjalan sempurna sehingga banyak sekali rambu-rambu yang kadang justru mengekang pemikiran kreatif anak murid. Contoh lain misalnya, dalam pembelajaran guru lebih senang menagih hasil ketimbang proses.
Pertanyaan yang diajukan biasanya, “Apakah tugas kamu sudah selesai?" Padahal, suasana kelas akan lebih seru jika guru menanyakan, “Ada yang mau bercerita tentang tugas yang kemarin? Apakah kalian mengalami kebingungan? Ada bagian yang sulit, atau masih memerlukan petunjuk mengerjakannya?”
Jadi, kehadiran guru bukan layaknya debt collector yang sigap menagih hutang melainkan sahabat yang siap menawarkan bantuan. Hadirnya guru yang empatik ini akan menumbuhkan sikap inisiatif ketimbang kepatuhan yang kosong.
Selain itu, sikap inisiatif lahir dan tumbuh melalui keteladanan. Guru yang berani mencoba hal baru akan menulari keberanian kepada siswanya. Saya misalnya, dalam pembelajaran ada satu hari yang sepenuhnya milik siswa. Jadi, ada momen untuk anak-anak untuk satu kali, bergiliran menjadi pembicara di kelas. Ia boleh menjelaskan materi pelajaran yang lalu atau bisa juga berbagi informasi baru yang mereka baca dari berbagai media. Siswa yang lain memberikan umpan balik, bisa pertanyaan, tanggapan, atau kritik atas informasi yang disampaikan.
Ada satu momen berharga yang menarik terkait pembelajaran yang melahirkan sikap inisiatif berdasarkan pengalaman pribadi. Kebetulan ketika itu saya sedang membaca tulisan-tulisan RA Kartini, buku terjemahan Wardiman Djojonegoro. Terpikir oleh saya untuk mengajak anak murid membuat catatan harian (diary). Siswa mencatat peristiwa yang ia jumpai dan mengandung makna hidup yang berharga. Tulisan tersebut nanti dikirim ke saya via chat WhatsApp, saya berjanji untuk bersedia membuat balasan."
Akhirnya ada satu anak murid yang tertarik, meski tidak rutin setiap hari, ia menulis catatan harian dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, sejumlah tulisan terkumpul, tulisan si murid dan balasan dari saya. Kami seperti menikmati pengalaman Kartini yang berkorespondensi dengan sahabat penanya di Belanda.
Seorang kawan guru IPS salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Tegal pernah berkisah ke saya. Biasanya, tugas materi pelajaran yang topiknya peta, anak-anak diminta mengerjakan tugas yang seragam, yakni menggambar peta. Namun suatu ketika, tercetus ide mengajak anak-anak berkeliling desa lalu membuat sketsa peta desa yang mereka kelilingi. Mereka bebas menentukan simbol untuk menggambarkan posisi perumahan, jalan, tanah kosong, sungai, sumber mata air, pos siskamling, peternakan, dan lain-lain.
Alhasil, saat dibuat kelompok untuk menggambarkan sketsa itu, masing-masing kelompok memiliki hasil yang berbeda-beda. Suasana belajar jadi lebih hidup. Setiap gagasan diapresiasi. Tak ada siswa yang merasa takut untuk salah.
Dengan demikian, sikap berani memulai dan berinisiatif mengutarakan pemikiran akan lahir jika pembelajaran di kelas memberikan ruang kepada siswa untuk bebas mengemukakan apa yang diyakininya sebagai kebenaran versi pribadi siswa. Inisiatif tidak akan tumbuh di dalam ruang yang membuat anak takut salah.
Guru boleh memiliki ekspektasi, namun anak boleh tidak mengarah ke sana. Anak yang selalu disalahkan saat ide atau tindakannya tidak sesuai harapan akan memilih diam. Guru perlu menciptakan suasana kelas yang aman untuk gagal. Bukan berarti menoleransi kesalahan tanpa koreksi, tetapi menjadikan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.
Dalam teori konstruktivisme, belajar terjadi ketika anak membangun pengetahuannya sendiri dari pengalaman. Tugas guru bukan menjejalkan pengetahuan, melainkan memantik rasa ingin tahu. Jika anak dilatih berpikir dan berpendapat, lambat laun ia akan terbiasa mengambil inisiatif.
Inisiatif tidak tumbuh di jika guru otoriter. Ia butuh suasana dialogis, di mana anak merasa dihargai dan didengarkan. Kelas yang kolaboratif memungkinkan setiap anak merasa punya peran. Selain contoh-contoh pembelajaran di atas, guru bisa memulainya dengan memberi kesempatan siswa menentukan aturan kelas, memilih tema proyek, atau menilai hasil kerja mereka sendiri. Cara ini, dapat menumbuhkan rasa kepemilikan (ownership). Saat anak merasa memiliki proses belajarnya, inisiatif akan datang secara alami.
Menumbuhkan inisiatif adalah tentang menguatkan karakter anak-anak. Dunia kerja dan kehidupan sosial menuntut individu yang mampu mengambil keputusan, berpikir kritis, dan bertindak proaktif. Jika sekolah gagal menanamkan itu sejak dini, anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang mungkin saja pintar, tapi pasif. Sikap pasif bisa berbuntut pada hilangnya rasa empati.
Oleh karena itu, tugas guru bukan hanya mengajar agar anak paham, tetapi agar mereka mau dan berani melakukan sesuatu. Pendidikan sejati, seperti kata Ki Hadjar Dewantara, adalah “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Dan salah satu kekuatan kodrat itu adalah inisiatif, keberanian untuk memulai sesuatu tanpa menunggu diperintah.
Menumbuhkan inisiatif pada anak didik bukanlah pekerjaan sehari dua hari. Ia memerlukan perubahan budaya belajar yang radikal, dari guru yang memberi semua jawaban, menjadi guru yang menuntun dengan pertanyaan. Dari siswa yang hanya menunggu perintah, menjadi siswa yang berani mencoba.
Jika di setiap ruang kelas kita, guru memberi kesempatan anak berpikir, bertanya, menemukan, dan menceritakan pengalaman-pengalamannya, maka impian generasi unggul itu bukanlah omon-omon. Selalu ada buah manis yang akan kita petik, jika kita mampu merawat benih-benih pemikiran dan imajinasi yang lahir dari peserta didik.
Editor: Kendi Setiawan


