Dark
Light
Dark
Light

Mewaspadai Child Grooming: Modus Pelecehan pada Anak-Anak

Mewaspadai Child Grooming: Modus Pelecehan pada Anak-Anak

Dunia digital membuat segalanya seolah-olah tak berjarak. Perbedaan wilayah, budaya, dan umur melebur dalam dunia baru berbasis online. Siapa pun bisa dengan mudah menjalin komunikasi dengan orang lain. Hanya bermodalkan internet dan gawai. Dalam beberapa hal, pola ini menguntungkan karena efektif memangkas waktu dan biaya. Tapi di lain hal, membuka banyak peluang terjadinya tindakan kriminal, utamanya kekerasan berbasis gender atau KBGO. 

KBGO tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak turut menjadi kelompok yang paling rentan dari kemajuan teknologi komunikasi. Sepanjang tahun 2024, SAFEnet mendapat laporan kasus KBGO pada anak sebanyak 442, anak perempuan menjadi korban paling rentan. Angka ini sangat mengkhawatirkan karena mengalami peningkatan 2 kali lipat dari tahun sebelumnya. Mengingat karakter kasus KBG seperti gunung es, angka sesungguhnya di lapangan sangat mungkin lebih besar. 

Kekerasan berbasis gender online pada anak sering dikenal dengan istilah child grooming. Istilah itu merujuk pada upaya orang dewasa membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan anak di bawah umur melalui perhatian, hadiah, atau komunikasi yang “tampak” peduli, padahal sebenarnya bertujuan untuk mengendalikan dan mengeksploitasi anak secara seksual. Child grooming biasanya terjadi lewat media sosial, aplikasi chatting, dan game online, selain secara langsung.

Modus yang digunakan pelaku umumnya dilakukan bertahap sebelum akhirnya melakukan manipulasi untuk tujuan eksploitasi seksual. Beberapa modus yang perlu dicermati yang biasanya digunakan pelaku:

Pendekatan emosional
Pelaku sering kali membangun kedekatan emosional dengan anak dengan berusaha menjadi teman dekat. Upaya itu dimulai dengan mendengarkan curhat anak dengan penuh empati, memberi perhatian, dan memvalidasi perasaan anak.

Biasanya pada tahap pendekatan, pelaku akan menggali informasi tentang kondisi keluarga sang anak. Jika korban berasal dari keluarga broken home atau kurang mendapatkan kasih sayang dari keluarga, pelaku akan berusaha untuk mengisi ruang kosong itu dalam hati anak. 

Memberi perhatian dan hadiah
Membuat anak merasa dihargai dan aman umumnya dilakukan pelaku dengan cara memberikan hadiah dan pujian. Pelaku biasanya sering memberi hadiah berupa pulsa, voucher game, kuota internet, uang jajan, atau benda-benda kesukaan anak agar anak merasa berhutang budi. Nantinya ketika pola sudah terbangun, pelaku akan meminta imbalan pada anak berupa foto pribadi.

Manipulasi psikologis
Manipulasi psikologis dilakukan pelaku kepada anak agar mereka merasa terikat secara emosional. Ini dilakukan agar anak mudah dikendalikan. Modus pelaku biasanya membuat anak merasa bersalah atau takut kehilangan ‘hubungan’ jika tidak menuruti permintaan.

Misalnya, ia akan mengatakan “Kalau kamu benar-benar sayang aku, kamu pasti mau kirim foto itu” atau “Kalau kamu enggak mau kirim foto itu, aku sedih, aku kecewa, aku gak semangat hidup”. 

Normalisasi perilaku berbahaya
Secara bertahap pelaku akan memperkenalkan percakapan dan tindakan yang tidak pantas hingga anak menganggapnya sebagai hal yang normal. Misalnya dimulai dari mengajak pacaran, lalu memulai obrolan tentang tubuh dan seksualitas dengan dalih bercanda, mengirim foto atau video privat, hingga akhirnya meminta untuk bertemu secara langsung.

Eksploitasi melalui media online
Banyak kasus child grooming terjadi lewat platform digital. Pelaku memanfaatkan ruang privat percakapan online untuk membangun kedekatan. Misalnya di ruang obrolan gim, pelaku mengajak anak bermain bersama setiap hari lalu perlahan mengalihkan obrolan ke hal pribadi dan intim.

Menyasar Keluarga atau Lingkungan Anak
Selain lewat anak, pelaku kadang juga berusaha mendekati orang tua atau keluarga korban untuk menciptakan citra positif agar dapat lebih mudah mengakses kedekatan dengan sang anak secara langsung. Modus ini biasanya dilakukan pelaku dengan menawarkan bantuan mengajari anak pelajaran sekolah, menemani bermain, hingga pengasuh sehari-hari. 

Catatan paling penting dari child grooming adalah pelaku tidak akan langsung melakukan pelecehan, ia akan membangun kepercayaan secara bertahap lewat perhatian, hadiah, dan manipulasi. Membangun ikatan yang kuat pada emosi anak adalah tujuan prioritas dari para pelaku, karena jika berhasil ia akan lebih mudah melakukan pelecehan pada anak.

Apa yang bisa dilakukan orang tua? 
Sangat mungkin untuk mengantisipasi terjadinya child grooming, ini bisa dimulai dari orang tua atau orang terdekat dari anak. Antisipasi itu bisa dilakukan dengan membangun komunikasi yang hangat dan terbuka, mengedukasi anak tentang keamanan digital, mengawasi aktivitas online anak, mengenalkan batasan pribadi hingga menanamkan keberanian untuk menolak dan marah jika batasan pribadinya dilanggar orang lain.

Langkah konkretnya bisa dilakukan dengan membiasakan anak untuk bercerita tentang aktivitas online maupun offline.

Orang tua perlu mendengarkan tanpa menghakimi agar anak merasa nyaman dan aman. Lalu mengajarkan anak untuk tidak memberikan informasi pribadi (alamat, nomor telepon, nama sekolah) di media sosial atau aplikasi pesan. Menanamkan pemahaman bahwa tubuh dan privasi anak adalah hak mereka, tidak ada orang dewasa yang boleh meminta foto, sentuhan, atau informasi pribadi yang membuat mereka tidak nyaman. 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo