Dark
Light
Dark
Light

Kaum Perempuan di balik 17 Agustus 1945: Bendera, Berita, Lagu

Kaum Perempuan di balik 17 Agustus 1945: Bendera, Berita, Lagu

Kesaksian diberikan Gadis Rasjid. Ia mula-mula bekerja sebagai wartawan di Semarang. Bekerja di Sinar Baru. Surat kabar itu dipimpin Parada Harahap. Sosok serius dan bergairah di jalan pers. Di majalah Intisari, 1 Agustus 1968, ia mengenang: “Pada bulan Djuli 1945, saja berlibur ke Djakarta, dan sekalian mengundjungi surat-surat kabar dan kantor berita di sana.”

Bulan itu menjelang sejarah terpenting di Indonesia. Ia tak lama di Jakarta. Bekerja lagi di Semarang. Berita berita penting terus diperoleh dari Jakarta. Pada suatu hari, ia berada dalam situasi menegangkan. Gadis Rasjid mengisahkan kejadian 17 Agustus 1945. Ia berada di Semarang, mendapat kabar dari petugas Domei. Di tangan, gagang telepon mendengar suara terputus-putus: “Zus Gadis, zus Gadis, ini ada berita penting. Ambil kertas, harap tjatat. Mari saja batjakan…”

Kita diajak melihat sosok-sosok di Semarang dalam arus sejarah 1945. Tangan bergerak cepat, mencatat teks Proklamasi. Gadis Rasjid mengisahkan: “Mendengar berita Proklamasi itu, saja begitu gugup hingga lupa mengembalikan gagang telepon dan saja berdiri terpaku dengan mulut menganga dan kaki gemetar. Melihat sikap saja jang aneh, Hetami terus bertanja ‘ada apa?’ Dan, tanpa berkata apa-apa saja tundjukkan kepadanja kertas dimana telah saja tulis berita jang dibatjakan pegawai Domei tadi.”

Gadis Rasjid dan Hatemi memutuskan untuk membuat buletin khusus, tak harus menanti untuk edisi terbitan Sinar Baru. Keputusan cepat dan menentukan: “Sebuah bulletin dapat ditjetak lebih tjepat pada mesin Heidlberger jang ketjil, dan dapat segera dibagi-bagikan.” Berhasil! Hetami pun mengumpulkan murid-murid untuk membagikan buletin. Berita telah datang dari sejarah dibuat di Jakarta tapi orang-orang di Semarang terjebak ragu dan bingung.

Kenangan dari Gadis Rasjid berbeda dari pengakuan sosok penting di Jakarta. Kita membuka buku Fatmawati berjudul Catatan Kecil Bersama Bung Karno (1983). Ia berada di tempat bersejarah dan memiliki peran besar. Ingatan-ingatan dibuka dan disampaikan agar sejarah itu hidup.

Fatmawati menceritakan peristiwa 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta:

“Pagi ini aku tak sempat mandi. Kami hanya cuci muka di wastafel dan bersembahyang dalam kamar. Di kediaman kami, sudah penuh tamu menunggu sesuatu. Rumah itu membentuk sejarah. Kita mengerti sejarah disusun tanpa kewajiban mandi."

Menit-menit mendebarkan dan menentukan nasib Indonesia. Fatmawati mengungkapkan adegan keluar dari kamar untuk menuju serambi:

“Ketika akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu, terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada. Kemudian, aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah seorang yang hadir di tempat di depan kamar tidurku.”

Fatmawati tercatat dalam sejarah Indonesia dengan bendera. Di kota berbeda, Gadis Rasjid menggerakkan berita. Dua perempuan dalam arus sejarah, berbeda peran dan alamat tapi memastikan Indonesia mulia. Kita sengaja ingin mengenang para perempuan dalam arus sejarah, dimulai dari titik sejarah: 17 Agustus 1945.

Kesaksian diberikan Fatmawati setelah Soekarno selesai membaca teks Proklamasi:

“Aku lihat Bung Karno dan Bung Hatta bersalaman, sementara itu Pak Latief Hendraningrat mempersiapkan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih. Aku bersama-sama dengan SK Trimurti menuju ke tiang bendera. Upacara bendera dipimpin oleh Pak Latief dengan diiringi lagu Indonesia Raya tanpa musik. Semua tertib dan khusyuk.”

Hari itu tak sekadar teks. Kita pun mengenang bendera dan lagu.

Tugas belum selesai. Hari itu kelegaan tapi memicu ketegangan gara-gara kedatangan para perwira Jepang. Fatmawati tetap mendampingi suami dan menunaikan peran sebagai ibu. Bung Karno bercakap dengan perwira Jepang berkaitan situasi kekuasaan. “Aku mondar-mandir sambil menggendong Guntur, menunggu pembicaraan selesai,” pengakuan Fatmawati.

Kita lanjutkan mengingat perempuan, bendera, dan lagu. Proklamasi berdampak besar di pelbagai kota. Pengibaran bendera merah-putih menimbulkan masalah bagi pihak-pihak tak menginginkan Indonesia merdeka. Pekik “merdeka” terus beredar tapi menimbulkan gejolak makna. Situasi itu dialami dan dimengerti Bintang Soedibjo (Ibu Sud) dengan peran sebagai penggubah lagu.

Ibu Sud (1981) mengingat kejadian-kejadian 1945 setelah pembacaan teks Proklamasi, pengibaran bendera merah-putih, dan persembahan lagu Indonesia Raya. Ingatan terwariskan: “… Jusuf Ronodipuro menolak menurunkan bendera merah-putih. Sudah tentu yang dilakukan oleh Jusuf adalah benar. Bendera kita harus tetap berkibar. Jika ada yang berani menurunkan, seluruh rakyat akan melawan…. Saya terharu dan bangga atas sikap Jusuf Ronodipuro. Semuanya menjadi ilham bagi saya untuk menciptakan lagu Berkibarlah Benderaku. Saya menerjemahkan sikap itu dalam lagu yang gagah: Berkibarlah benderaku/ lambang suci gagah perwira/ Di seluruh pantai Indonesia/ kau tetap pujaan bangsa/ Siapa berani menurunkan engkau/ Seluruh rakyatmu membela….”

Kita mengingat peristiwa bendera dan heroisme itu beralamat di Surabaya.

Indonesia itu sejarah digerakkan dengan berita, bendera, dan lagu. Kita mengingat sejarah itu dibuat dan dibesarkan oleh kaum perempuan. Kita tak melupa peran Fatmawati, Gadis Rasjid, dan Bintang Soedibjo. Mereka menunaikan peran-peran, memberi alur ingatan dengan pengakuan dan pemaknaan. Begitu.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo