Franz Beckenbauer membuat definisi baru tentang seorang libero dalam sepak bola. Dia bisa menjegal lawan namun juga menjelajah lapangan dengan tarian yang anggun dan cantik untuk menyerang lawan. Sepak bola memberikan segalanya; kejayaan, sejarah, tapi juga penyesalan yang mendalam.
Kekalahan yang menyakitkan. Tim Jerman Barat pun pulang dengan tangan hampa. Diego Maradona – bintang turnamen Piala Dunia 1986 itu benar-benar menjadi mimpi buruk. Dia menjadi dirigen di lapangan dalam memenangi laga. Meski skor sempat sama, 2-2, Jorge Burruchaga mencuri gol di lima menit terakhir sebelum pertandingan usai.
Udara yang panas di Stadion Azteca, Mexico City terasa makin gerah bagi tim Jerman Barat – kala itu negeri ini memang terbelah akibat perang dingin. Kanselir Helmut Kohl, pemimpin negeri, yang datang ke pertandingan itu menghibur tim berjuluk Der Panzer itu. “Kalian mewakili Jerman Barat dengan mengagumkan. Kami semua bangga,” katanya pada para pemain usai laga.
Semua pemain tentu saja patah hati. Mereka sedih, kecewa, dan marah. Tak terkecuali si lelaki berambut ikal – yang paling bertanggungjawab dalam tim itu. Dia adalah Franz Beckenbauer, sang manajer. Alih-alih larut dalam kesedihan, ia menenangkan diri lalu meredakan tangis dan membangkitkan semangat pasukannya.
Empat tahun berselang, di negeri yang berjarak sekitar 10 ribu kilometer dari Mexico City, kesempatan untuk menuntaskan dendam itu datang. Di final Piala Dunia 1990, keduanya bertemu kembali di Stadion Olimpico, Roma, dengan materi pemain yang relatif tak banyak berubah. Beckenbauer kembali beradu taktik dengan Carlos Bilardo yang membuat rakyat Jerman Barat menangis.
Berbeda dengan laga sebelumnya, Beckenbauer memerintahkan para pemainnya bermain taktis. Taktik yang jitu. Sepanjang pertandingan Der Panzer menguasai pergerakan bola. Pemain Argentina membalas permainan dengan keras. Walhasil dua kartu merah mengusir pemain Albiceleste itu.
Kemenangan pun datang ketika Andreas Brehme mengeksekusi penalti di lima menit terakhir sebelum laga usai. Persis seperti yang terjadi dalam laga empat tahun sebelumnya. Sisa waktu tak bisa membuat Maradona, yang masih juga mempesona dengan gocekannya, mengejar kekalahan. Peluit disemprit, Jerman Barat pun menjadi juara.
"Tidak ada keraguan apa pun siapa yang akan menang. Selama 90 menit kami menyerang dan tidak ada perasaan gawang kami akan kebobolan,” kata Beckenbauer. “Menurut saya, kami mengungguli mereka dari awal hingga akhir." imbuhnya.
Beckenbauer sumringah. Mimpinya terbayar sudah. Dendamnya atas kekalahan sebelumnya terbayar. Tidak hanya itu, di malam itu juga dia mencatat sejarah baru sebagai orang kedua setelah Mario Zagallo yang membawa tim Brasil juara sebagai pemain dan juga pelatih. Beckenbauer sebelumnya pada 1974 pun melakukan hal yang sama, sebagai kapten dia membawa Jerman Barat menjadi juara setelah mengalahkan Belanda, 2-1.
Tim Der Panzer larut dalam pesta. Sebaliknya, Diego Maradona tak kuasa menahan air matanya. Di lapangan dia menangis, menahan duka. Sakit yang sama pernah dengan yang dialami pasukan Jerman Barat di Stadion Azteca, Mexico City, empat tahun sebelumnya.
Dari Kaisar Menjadi Manusia Setengah Dewa
Franz Anton Beckenbaeur adalah nama lengkap yang tertulis di paspornya. Lahir di Munich, 11 September 1945. Tumbuh selepas Perang Dunia ke-2, Beckenbauer yang juga anak seorang pegawai kantor pos, memilih menggeluti sepak bola. Pemain yang disukainya adalah tembok di dekat rumahnya. Saban hari, selama berjam-jam, dia menendang bola ke dinding itu.
“Tembok itu adalah rekan satu tim paling jujur yang pernah saya harapkan,” katanya beberapa tahun kemudian. “Setiap kali Anda memberikan umpan yang tepat, Anda akan mendapatkan umpan balik yang tepat dan tidak perlu berlari.”
Sebuah latihan sederhana yang ternyata berdampak besar di kemudian hari. Rekan satu tim yang paling jujur itu membuat operannya selalu terukur. Tekniknya pun makin terasah. Dia tidak pernah menendang dengan keras tapi selalu memanjakan rekan-rekannya dengan operan yang matang.
Beckenbauer adalah seorang dengan talenta yang luar biasa. Kecepatannya teramat luar biasa. Kelebihan yang membahayakannya. Pemain lawan dengan segera menebasnya agar pergerakannya terhenti.
Pelatih tim muda Bayern, klubnya di masa remaja, kemudian “menyembunyikan” Beckenbauer sebagai pemain bertahan di lini tengah. Saat ada kesempatan dia pun diperintah untuk merangsek dan mencetak gol. Persis seperti yang diperagakannya saat membela Jerman Barat di Piala Dunia 1966. Di turnamen ini pula, namanya mulai berkilau dan mendapatkan banyak perhatian.
Sepulang dari kejuaraan itu, meski gagal di final kalah oleh Inggris, namanya makin berkibar. Salah satunya, juara Piala DFB Pokal pada 1969. Dalam pertandingan final melawan Schalke itu pula namanya mendunia. Ketika berhasil mengamankan bola dari serbuan striker lawan, Stan Libuda, dia sempat melakukan juggling bola selama beberapa detik mengoperkan pada rekannya. Aksi yang mengundang cemooh fan Schalke itu malah membuat surat kabar di sana memberikan julukan “Der Kaiser”, julukan yang terus melekat pada dirinya.
Beckenbauer memang bak kaisar. Dia memainkan versi baru dari seorang libero. Peran ini dimainkan secara berbeda dari para pemain di negeri asalnya, Italia. Di sana libero bertugas melakukan tekel keras . Namun Beckenbauer menghapus semua itu.
Dia adalah libero yang terbebas dari batasan apa pun. Tanpa lawan yang mengawalnya, Beckenbauer secara rutin masuk ke lini tengah untuk mengatur gerakan menyerang dengan gaya nan menawan. Umpan-umpan sempurna yang dimainkan dengan langkah penuh menjadi ciri khasnya.
Tak pelak gayanya itu mengundang cemooh. Gaya permainannya itu, disebut angkuh. Termasuk oleh jurnalis. “Saya dipandang sebagai orang yang sombong, memainkan sepak bola yang arogan. Ah, wartawan tidak ada gunanya,” katanya suatu waktu.
Toh, keanggunannya memang memikat. Setelah membawa negerinya memenangi Piala Eropa pada 1972, sang kapten ini mengangkat trofi yang lebih tinggi yakni Piala Dunia 1974. Sentuhannya dan kreatifitasnya seolah mewakili masa itu, yang mengagungkan kebebasan. Tim ini pun dipuji sebagai garda depan dari kompetisi yang lebih terbuka.
Beckenbauer namanya tetap harum meski telah pensiun. Setelah bermain buruk di Piala Eropa 1984, DFB – federasi sepak bola Jerman mengangkatnya sebagai manajer. Tangannya bertangan dingin, ia membawa negaranya meraih kemenangan di Piala Dunia 1990 di Italia.
Beckenbauer bukan lagi “Der Kaiser”. Dia kemudian dipuji sebagai “Lichtgestalt”, sosok setengah dewa – setelah berhasil mengegolkan Jerman menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006.
Terguncang Teradang Skandal
Sang Kaisar teramat kharismatis dan lincah di lapangan. Namun di kehidupan nyata, dia malah diliputi berbagai skandal. Termasuk soal asmara dengan seorang sekretaris sesaat menjabat sebagai Presiden Bayern Muenchen. Percintaan gelap itu kemudian membuahkan seorang anak yang lahir pada 2000. Padahal, saat itu, dia memiliki Sybille, istri keduanya, yang dinikahinya pada 1990.
"Iya benar, saya sudah membicarakan hal ini dengan istri saya, Sybille. Tentu saja itu tidak mudah. Tapi kami memutuskan untuk tetap bersama. Pernikahan kami kuat dan akan sama seperti sebelumnya,” katanya kala skandal itu tersiar di Bild-- media besar di Jerman.
Skandal yang lebih besar datang kemudian, yakni saat Jerman menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006. Beckenbauer yang menjadi Ketua Komite dituding melakukan penyuapan agar Jerman terpilih menjadi negara penyelenggara.
Dia membantah pembayaran uang sebesar 6,7 juta euro (£6,1 juta) kepada FIFA pada 2005 yang disebut sebagai upaya “mengamankan” Jerman menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006.
“Saya, sebagai presiden komite organisasi pada saat itu, memikul tanggung jawab atas kesalahan ini,” kata Beckenbauer. “Namun, tidak ada suara yang dibeli untuk memenangkan hak menggelar Piala Dunia 2006.”
Toh begitu, Beckenbauer dan jajaran DFB diselidiki. Media Inggris menyebutkan, meski kasus ini disetop pada 2021, namun proses penyelidikan yang menguras tenaga turut mempengaruhi kesehatannya yang mulai diserang banyak penyakit.
Keadaannya makin buruk. Koran Inggris DailyMail menulis kesehatan Sang Kaisar juga terpengaruh oleh meninggalnya putranya, Stephan yang wafat pada usia 46 tahun karena tumor otak setelah didiagnosis dua tahun sebelumnya. Kondisi sang anak yang tidak dapat berbicara dan hampir tidak sadarkan diri sebelum meninggal, membuat Beckenbauer hancur secara emosional.
Stephan, anak bungsu dari pernikahan pertamanya, sempat mengikuti karir sang ayah. Dia bermain di beberapa klub. Namun nasib keduanya berbeda. Stephan hanya pemain semenjana.
Namun nasib buruk sang anak membuat Beckenbauer menyesal. Dalam sebuah wawancara, dia menyebut terlalu menempatkan sepak bola di atas segalanya, termasuk keluarganya. Dia pun mengklaim dirinya sebagai 'ayah yang buruk' karena tidak pernah menyisakan waktu untuk anak-anaknya.
Berbagai peristiwa yang dijalaninya turut mempengaruhi kesehatannya. Bahkan pada 2016, Beckenbauer pun jarang terlihat di publik. Sesekali dia muncul dalam acara kalangan terbatas, semisal dalam turnamen golf.
Dikabarkan Beckenbauer hidup dalam berbagai penyakit yang menyerangnya. Seperti parkinson, demensia – berkurangnya daya ingat, dan juga penyakit jantung. Media Jerman juga mengabarkan ingatannya 'menurun secara signifikan' dalam beberapa bulan terakhir.
Hingga akhirnya, pada Ahad 7 Januari silam, pihak keluarga mengumumkan kepergiannya pada usia 78 tahun. Disebutkan, Sang Kaisar wafat dalam tidurnya saat dikelilingi keluarganya.
Sontak dunia pun berduka. Semua merasa kehilangan salah satu bintang lapangan yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Dari sekian banyak ucapan duka, ungkapan Direktur tim nasional Jerman Rudi Voller, yang merupakan bagian dari tim Beckenbauer pada Piala Dunia 1990, sangat dalam tentang sosoknya.
“Hal paling istimewa dari hidup saya adalah mengenal Franz Beckenbauer. Tanpa bimbingannya, mustahil kami bisa menjadi juara dunia. Der Kaiser merupakan inspirasi bagi lebih dari satu generasi. Dia akan selamanya menjadi bintang sepak bola Jerman,” katanya.
Selamanya, dunia akan tetap mengenang sosoknya dengan tariannya yang anggun di lapangan.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor: Muhammad Faizin


