Dark
Light
Dark
Light

Sulitnya Menjadi David Beckham

Sulitnya Menjadi David Beckham

Dokumenter tentang David Beckham diputar di Netflix. Bukan semata tentang cerita keceriaan sang superstar tapi juga perjuangannya menghadapi berbagai masalah yang tidak mudah.

 

David Beckham, 48 tahun, bukan hanya bintang sepak bola tapi juga ikon pop yang teramat mahsyur pada masanya. Seseorang yang telanjur dilihat dari sisi glamor dengan segala kenikmatan dunia yang dijalaninya. Nyatanya, hidup yang dijalani Beckham dan juga Victoria, sang istri – tak semudah itu. Rumit, penuh gonjang-ganjing, dan tentu saja dramatis.  

Sisi hidup Beckham yang seperti itulah yang diceritakan dalam empat episode dokumenter di Netfilix – yang mulai tayang pada 4 Oktober silam itu. Judulnya singkat, “Beckham”.

Bukan pertama kali bila Beckham diangkat menjadi sebuah film. Sebelumnya, bekas pemain Real Madrid ini diangkat dalam beberapa film. Satu yang paling terkenal Bend it Like Beckham – yang berkisah tentang pemain sepak bola wanita yang terobsesi memiliki tendangan melengkung yang menjadi ciri khasnya.

Beckham juga tampil sebagai cameo di film Goal – yang bercerita tentang sosok Santiago Nunez bintang fiktif klub Newcastle United. Bersama Zinedine Zidane dan bintang Real Madrid lainnya, dia pun muncul dalam film itu. Beckham bukan saja sosok terkenal tapi juga komoditas yang teramat layak jual.  

Itu juga yang terjadi pada dua tahun silam. Alkisah, Beckham menerima tawaran Netflix untuk membuat dokumenter tentang dirinya. Sosoknya yang kini menjadi pemilik klub Inter Miami – tentu akan menghasilkan uang hingga miliaran dolar.

Dari Leonardo Di Caprio – aktor Hollywood yang juga tampan, dia pun berkenalan dengan Fisher Steven, 59 tahun. Namanya amat harum. Bukan saja sebagai aktor dan juga pembuat dokumenter. Satu karyanya, The Cove memenangi Academy Award untuk Dokumenter Terbaik. Steven pun mengangguk setuju ketika disodori proyek ini.

“Saat Beckham pindah ke Real Madrid, saya mulai menyukai soccer. Tapi sumpah sepenuhnya saya tidak mengetahui kehebatan David, kecuali bahwa dia tampan dan memiliki istri yang cantik, dan menjual banyak produk,” katanya.  

Awal yang kurang baik sepertinya. Namun, Steven jelas director yang teramat beruntung. Untuk proyeknya ini, dia punya banyak footage yang tak pernah disaksikan sebelumnya. Dari Ted Beckham, sang ayah, saja setidaknya ada sekitar 1.500 video tentang anaknya yang direkamnya selama dia kecil saat menjalani mimpi menjadi pemain sepak bola.

Pun begitu dengan footage Beckham dan Victoria – yang sebelumnya lebih banyak tampil dalam deretan foto ditampilkan dalam dokumenter ini. Walhasil, dengan tayangan selama empat jam lebih, serial dokumenter ini menjadi tontonan yang menjawab semua cerita yang sebelumnya berseliweran tentang sang bintang.

Cerita ini kemudian diperkuat dengan wawancara berbagai tokoh. Termasuk, yang menarik, hadirnya kakak beradik paparazzi yang menguntit dan mengambil gambarnya, Eamon dan Jack Clarke.

Fisher juga menjawab tentang satu gangguan mental yang dialami Beckham yang terobsesi pada sesuatu yang harus selalu tampak rapi. Di dapur, dia berkisah tentang tempat cuci piring yang harus tetap bersih. Juga dengan deretan baju-baju yang juga rapi.  

Dokumenter ini mampu membuat tidak saja penggemarnya terpaku pada cerita Beckham yang ternyata tak setampan wajahnya dan semanis senyum – yang membuat kaum wanita tergila-gila. Beckham adalah jalinan kisah tentang David menapaki langkah demi mimpi-mimpi orang di sekitarnya.

Pertama, tentu saja Ted -- sang ayah. Ted merupakan penggemar sepak bola dan memiliki klub pujaan Manchester United. “Nama lengkap David adalah David Robert Joseph,” katanya. Robert tak lain merupakan nama yang diambil dari Sir Robert Charlton – yaitu Bobby Charlton, legenda United yang juga membawa Inggris menjadi juara Piala Dunia pada 1966.

David kemudian dibentuk menjadi penggemar klub pujaannya. Setiap kali berulang tahun, hadiah yang diberikan pada anak lelakinya itu tak lain replika jersey Manchester United. Dia juga berlaku keras pada anaknya – yang ternyata memiliki bakat sepak bola yang luar biasa. Nyaris tak pernah ada kata pujian. “Saya tak berani melawannya,” kata David, sambil tertawa.

Usaha yang tidak sia-sia. Bekcham junior, akhirnya masuk ke dalam tim Manchester United pada usia 15 tahun – yang kemudian dua tahun berselang menjalani sebagai pemain profesional. Bak meteor bersama rekan-rekan di tim junior yang berjuluk “Class of 92”, Beckham lekas terkenal dan menjadi ruh tim dalam beberapa tahun kemudian.

Mimpi kedua adalah milik Alex Ferguson, manajer United – yang menginginkannya menjadi seorang pemain hebat dan menuruti apa yang diinginkannya. Termasuk dalam memilih istri – yang harusnya menurut dia adalah seorang wanita biasa-biasa saja bukan seorang superstar.

Namun pilihan David berbeda -- yang kemudian membawanya ke jalan berliku.

***

Cinta adalah yang membuat jalan hidupnya ruwet. Gary Neville sahabatnya berkisah semula itu berawal dari sebuah tontonan di televisi. Saat melihat Spice Girls – girl band yang sangat terkenal saat itu di televisi, sontak David berujar “aku akan menikahinya,” katanya sambil menunjuk Victoria Adams –yang setahun lebih tua dari usianya.

Phillips Neville – adik Gary yang juga pemain United, bercerita tentang David yang bukan lagi anak dari kelas working class yang hidup pas-pasan. Setelah menjadi pemain United, David telah bergelimang harta. Gaji yang diterimanya setiap Jumat langsung ludes untuk dibelikan berbagai barang yang disukainya, termasuk jam tangan Rolex. “Dia menunggu lagi saat gajian, untuk membeli barang mewah lainnya,” katanya.

Cintanya pada Victoria tidaklah main-main. Istilah anak sekarang, bucin atau budak cinta amatlah tepat untuk menggambarkan cinta David. Dia mau menempuh perjalanan Manchester – London selama berjam-jam untuk bertemu dengan Victoria beberapa menit untuk kembali lagi ke Manchester. Termasuk saat klubnya memiliki pertandingan esok harinya.

Akibatnya, cinta itu perlahan membunuhnya. Alex Ferguson dan Glenn Hoddle – manajer tim nasional Inggris menganggap Beckham tak fokus lagi saat berada di lapangan. Saat berlaga di Piala Dunia di Prancis 1998, pikirannya selalu tertuju pada Victoria yang sedang tur di Amerika Serikat.

Hasilnya, dalam laga melawan Argentina dia kena provokasi oleh Diego Simeone. Dia kena kartu merah dan Inggris pun tersingkir. Beckham selanjutnya menjadi “public enemy”. Satu headline yang terkenal sampai sekarang menulis judul, “10 Pahlawan dan Satu Idiot”- yang tak lain Beckham.

Kecuali keluarga dan teman-teman satu tim, tak ada yang membelanya. Termasuk Hoddle yang secara tak langsung menunjuknya sebagai biang masalah. Selanjutnya, David yang masih berusia 23 tahun menjalani fase terberat dalam hidupnya. Seperti halnya Moacir Barbosa – kiper yang jadi kambing hitam kegagalan Brasil di Piala Dunia 1950, yang sepanjang hidupnya menjadi musuh bagi orang Inggris.

Ketika reda dan Beckham menutup musim itu dengan cantik: mempersembahkan treble untuk Manchester United pada 1999 masalah tak lantas usai. Alex Ferguson yang mendapat gelar Sir akibat prestasi itu, tetap tidak pernah merasa senang pada Victoria Beckham.

Baginya, Victoria – yang membawanya kehidupan gaya super star. Beckham yang awalnya penurut mulai melakukan pembangkangan. Dia lebih dikenal sebagai bintang pop yang wajahnya mulai di berbagai iklan ketimbang sebagai pemain sepak bola.  

Puncak kekesalan Fergie terjadi ketika mereka kalah dari Arsenal. Beckham dianggap bermain tidak bagus. Sepatu pun melayang dan mengenai pelipisnya. Insiden yang memperuncing hubungan keduanya.

Datangnya Carlos Queiroz yang menjadi asisten menghentikan perjalanannya di klub yang sangat dicintainya. Menurut pria asal Portugal itu, Beckham sudah habis dan tengah mengalami penurunan kualitas. Fergie pun termakan ucapannya itu. Beckham kemudian dijual.

“Saya sangat mencintai Manchester United,” katanya dengan lirih. Namun dia harus pergi.

***

Keberhasilan dari dokumenter yang menyuguhkan berbagai drama naik-turunnya dalam berbagai fase hidupnya tentu tak lepas kepiawaian Fisher Stevens, sang director. Dia berhasil meyakinkan Beckham untuk membuka semua akses eksklusif – termasuk bagaimana mereka mempertahankan pernikahannya dengan Victoria.

Pernikahan yang rumit. Victoria sebagai sosok istri yang sangat dicintai David, kerap dianggap sebagai penghalang mimpi-mimpi Beckham. Dia marah sekali ketika suaminya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya sebagai karirnya berakhir dengan bermain di Paris St Germain. Dia hanya ingin hidup tenang bersama David dan anak-anaknya.

Selama dua tahun bekerja sama, Fisher telah membangun sebuah persahabatan yang luar biasa. Mereka kian lengket namun Beckham sama sekali tak bisa masuk ke dalam profesionalisme yang dibangun oleh Fisher. “Ada banyak hal yang dia minta untuk saya mengubahnya. Namun saya tidak pernah akan melakukannya,” katanya kepada Esquire.

Fisher berkali-kali memastikan kepada Beckham – si pemilik cerita, bahwa dia tidaklah sedang membuat film tentang semua hal yang bagus tentang dirinya. Dia pun menyebutkan dia membuat film berdasarkan parameter yang dibuat. “Bahkan saya katakan padanya bahwa dia tidak akan bisa melihat final cut,” kata Fisher.

David, dan tentu juga Victoria, pada akhirnya menghormati keputusan Fisher. Di tangan Fisher, melalui dokumenternya ini sosok Beckham tampil apa adanya layaknya seorang manusia. Dengan anugerah bakat sepak bola dan kemudahan hidup yang diterimanya, nyatanya Beckham hanyalah manusia biasa yang kadang tak berdaya dengan gempuran berbagai persoalan yang melingkupinya.

Bekcham dengan segala popularitasnya, hanya memiliki sebuah mimpi yang sederhana. Selalu berkumpul bersama keluarganya. Mengumpulkan madu dari lebah-lebah yang dipeliharanya di saat akhir pekan dan bermain-main bersama dengan anak-anaknya.

Satu hal yang disyukurinya, keempat anaknya, Brooklyn, Romeo, Cruz, dan Harper  tumbuh menjadi anak yang baik dan santun. Padahal, dengan segala kemewahan yang mereka peroleh. “Bisa saja mereka menjadi bajingan kecil,” katanya.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo