Namanya sering dibenci dan dihujat: Snouck Hurgronje. Sosoknya dianggap membikin ruwet dan menimbulkan petaka bagi umat Islam di Indonesia. Ia tekun belajar Islam tapi mendapat dakwaan menunaikan misi pemerintah kolonial. Segala cap melekat menjadikan Snouck Hurgronje menjadi sasaran omelan-omelan bagi orang-orang merasa dirugikan dan dihinakan oleh pengetahuan Snouck Hurgronje dan kebijakan pemerintah kolonial.
Nama itu memiliki pembela. Snouck Hurgronje tak mutlak hitam atau musuh. Di biografi para tokoh intelektual di Indonesia, sosok itu memberi pengaruh dan penuntun ke jalan pengetahuan. Kita bisa membaca biografi intelektual Achmad Djajadiningrat dan Hussein Djajadiningrat.
Taufik Abdullah dalam buku berjudul Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia (1987) menerangkan: “… sejak akhir abad XIX, banyak pemikir kolonial Belanda (termasuk Snouck Hurgronje dan Hazeu) melihat Islam bukan saja sebagai agama resmi yang dianut oleh sebagian besar rakyat di Hindia Belanda, tetapi juga sebagai simbol ‘kebangsaan’.” Kehadiran dan tulisan Snouck Hurgronje di tanah jajahan dalam masalah-masalah pelik Islam: agama dan politik. Ia gampang dianggap musuh umat Islam atau berperan dalam meninggikan ilmu pengetahuan di Eropa mengacu Islam.
Kini, kita tak ingin lekas mengumbar kebencian atau curiga. Pada bulan Ramadhan, kita bisa mengingat (lagi) Snouck Hurgronje. Dulu, ia membuat beragam tulisan mengenai Islam: dari surat sampai disertasi. Di tulisan-tulisan, kita mengetahui Snouck Hurgronje memiliki tema penting: Ramadhan. Sekian pendapat kadang berkesesuaian dengan politik-kolonial. Sekian pendapat mudah mendapat bantahan dan kecaman ilmiah.
Kita ingin mengenang Snouck Hurgronje dan Ramadhan. Snouck Hurgronje itu penasihat. Ia menjadi pemikir berhak memberi nasihat dalam penentuan kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial. Di tanah jajahan, surat-surat untuk gubernur jenderal, residen, menteri, atau direktur dalam birokrasi kolonial tak sekadar kalimat-kalimat di atas kertas.
Di surat bertanggal 14 April 1897, ia memberi uraian atau pendapat berlatar kehidupan keagamaan di Aceh: “Jika dalam bulan sebelumnya telah diadakan musyawarah oleh para kepala dan ulama terkemuka di dalam rapat mereka mengenai hari permulaan puasa, maka keinginan akan kepastian itu sering memaksa dikesampingkannya pandangan keras syariat agama dalam hal ini. Di disamping itu, diberikan kekuasaan lebih banyak kepada penghitungan hisab (menurut penanggalan) daripada yang sebenarnya dapat disesuaikan dengan ibadah yang diikuti oleh orang Aceh.”
Pada masa lalu, Snouck Hurgronje diakui paham Aceh melalui studi serius dan mengerti Islam tapi mempergunakan dalam kepentingan selera kolonialis atau orientalis. Di surat, Snouck Hurgronje tak sekadar menerangkan penentuan awal puasa. Ia pun mencantumkan peringatan tentang tokoh-tokoh Aceh berpolitik bisa mengganggu kepentingan-kepentingan pemerintah kolonial Belanda.
Snouck Hurgronje tak bosan membahas Ramadhan dalam surat-surat. Ia melakukan pengamatan dan berpendapat. Surat-surat itu penting bagi penguasa kolonial mengerti sikap umat Islam dan terapan kebijakan berkaitan Ramadhan dan Lebaran.
Snouck Hurgronje dalam surat bertanggal 27 Maret 1898 menerangkan: “Penanggalan perayaan Mohammadan selalu ditetapkan oleh pengamatan yang nyata terhadap bulan baru. Malam itu ketika bulan terlihat untuk pertama kali, setelah tidak tampak untuk beberapa lama, berlaku sebagai awal bulan, dengan memperhatikan ketentuan bahwa dua bulan baru (yang tampak) selalu saling terpisah oleh 29 atau 30 hari. Dengan demikian, jika setelah 29 hari bulan belum terlihat, maka bulan baru mulai sesudah hari yang ke-30-nya.” Ia memasalahkan awal Ramadhan dengan latar Jawa, mengaitkan pula penanggalan (khas) Jawa.
Perkara disampaikan dalam membandingkan keilmuan membuat kita mengerti otoritas Snouck Hurgronje di tanah jajahan. Ia meminta pemerintah kolonial jangan memaksakan kepastian atau kehendak jika berurusan penentuan awal Ramadhan dan Lebaran. Snouck Hurgronje mengerti kerepotan pemerintah kolonial berhadapan penanggalan berbeda dari Masehi. Di surat, kita membaca: “Memang, kekhususan penanggalan hari besar Mohammadan mungkin menimbulkan keluhan bagi para pejabat pemerintah daerah dan para pembesar lain. Namun, orang tentu saja tidak boleh melakukan tindakan dalam urusan yang bersifat murni keagamaan menurut asas-asas kebijakan pemerintah yang berlaku di sini, meskipun pada suatu hari dalam tahun tertentu ketidakpastian itu terkadang menimbulkan kekacauan dalam pekerjaan.”
Ramadhan itu bulan ibadah. Pada suatu masa, Ramadhan menjadi perdebatan gara-gara pemberlakuan atau penghapusan liburan. Snouck Hurgronje menjadi rujukan bagi para pejabat dalam membuat kebijakan liburan atau masuk untuk sekolah dan kantor-kantor pemerintahan. Liburan dimengerti dalam kemampuan belajar dan kesungguhan dalam bekerja di kalangan bumiputra sedang berpuasa.
Surat ditulis di Leiden, 8 Oktober 1923, memuat nasihat Snouck Hurgronje: “Penentangan yang sudah terbuka terhadap penghapusan liburan puasa memang tidak bersifat lugas, tetapi bisa dinamakan bersifat religius-politik. meskipun perlawanan itu dapat ditentukan dengan cara demikian. Apabila agama digunakan sebagai alat perjuangan politik, maka di situlah telanjur timbul kepekaan yang tidak dapat digambarkan oleh orang-orang yang berada di luar suasana pihak yang bersangkutan, sehingga sebab hanya ada beberapa penghasut, yang dengan jalan membesar-besarkan kekesalan hari yang tidak berarti, menimbulkan gambaran pada khalayak ramai bahwa seolah-olah agama sedang dalam bahaya.” Kita mendapat kaitan ibadah dalam agama, liburan, pekerjaan, dan situasi politik masa lalu. Liburan bisa memicu guncangan politik.
Surat-surat terbaca lagi itu dimuat dalam buku berjudul Nasihat-Nasihat C Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Kolonial Belanda 1889-1936 terbitan INIS (1993). Kita membaca dalam terjemahan bahasa Indonesia, membaca masa lalu dalam kalimat-kalimat mengandung beragam masalah dihadapi umat Islam dan pemerintah kolonial Belanda. Snouck Hurgronje tampil dengan otoritas pengetahuan dan kemampuan membuat pertimbangan dampak politik dari ibadah-ibadah umat Islam di Nusantara.
Pada 2023, terbit buku berjudul Snouck: Biografi Ilmuwan Christian Snouck Hurgronje susunan Wim van den Doel. Buku memberi imbuhan pengertian dan pengenalan atas sosok tenar sejak abad XIX. Kita mengingat pengembaraan pengetahuan dan pengalaman menelisik Islam bergerak dari Belanda, Mekkah, Jerman, Aceh, Betawi, dan pelbagai kota. Ia dalam jalan panjang untuk mengenali dan mendalami Islam.
Wim van den Doel menjelaskan: “Pada Juni 1887, Snouck Hurgronje tahu jelas apa yang harus diperbuatnya: ‘Saya ingin pergi ke Hindia Timur dan saya rasa itu baik’.” Masalah itu disampaikan kepada Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Kerajinan di Hindia Timur. Babak baru dialami Snouck Hurgronje di tanah jajahan. Ia mengamati Islam di pelbagai tempat. Pengetahuan agama Islam dipergunakan dalam kepentingan-kepentingan akademik dan pemerintah kolonial.
Ia sanggup bergaul dengan ulama dan umat Islam untuk tahu luar-dalam Islam di Nusantara. Siasat itu menjadikan ia bisa memberi nasihat-nasihat mujarab demi stabilitas politik dan kelanggengan kolonial dalam memperlakukan umat Islam. Di kalangan pejabat dan akademik, keputusan Snouck Hurgronje menuju Hindia Timur atau Hindia Belanda dianggap “menguntungkan ilmu pengetahuan”. Snouck Hurgronje pun berjanji: penelitian Islam di Hindia Belanda dari segi politik akan menguntungkan pemerintah kolonial.
Kini, kita sedikit mengerti debat bertema Ramadhan berlangsung lama di Indonesia. Debat dan nasihat memunculkan ketokohan Snouck Hurgronje. Ia turut berpengaruh dalam kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial saat mengetahui perkembangan pesat Islam. Di tatapan mata pemerintah kolonial, Ramadhan bukan sekadar bulan untuk beribadah puasa. Di situ, ada masalah-masalah harus dihadapi berkaitan penanggalan, politik, liburan, dan ekspresi keagamaan. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


