Ali diperkirakan lahir pada 38 H/658 M. Ia juga kerap disebut dengan Ali al-Ashgar (Ali junior), karena ia memiliki kakak yang bernama Ali juga dan wafat bersama Husain, ayahnya, saat terjadi peristiwa Karbala (al-Dzahabi, Siyar A ‘lam al-Nubala, juz 4, h. 386). Ali wafat dan dimakamkan di pemakaman Baqi‘ pada 94 H/712 M.
Menurut al-Thayyib Ba Makhramah dalam Qiadah al-Nahr (juz 1, h. 493), Ali dijuluki Zainal Abidin (perhiasan para ahli ibadah) karena memang rajin beribadah. Disebutkan bahwa Ali bisa sholat sebanyak 1.000 rakaat dalam sehari semalam. Menurut al-Dzahabi, saat sedang fokus beribadah, ia tidak menggubris siapa pun yang bertamu sampai benar-benar selesai dari ibadahnya. (Siyar A‘lam al-Nubala, juz 4, h. 388)
Saat terjadi pembantaian terhadap Husain cucu Rasulullah SAW dan pasukannya di Karbala, cicit Rasulullah SAW Ali Zainal ‘Abidin ini sedang dalam keadaan sakit. Menurut al-Dzahabi, saat itu usia Ali sudah mencapai 23 tahun dan diungsikan ke Damaskus bersama keluarganya yang lain. (Siyar A‘lam al-Nubala, juz 4, h. 386)
Ali pun hampir dibunuh oleh pasukan Syimr bin Dzil Jausyan, loyalis Ali yang kemudian membelot bersama Bani Umayyah dan memerangi Husain di Karbala. “Bunuh saja anak ini,” perintah Syimr untuk menghabisi Ali. Putra sahabat Sa‘d bin Abi Waqash, Umar, datang menemui pasukan tersebut dan melarang mereka untuk membunuh Ali Zainal Abidin. (Ibn Sa‘d, al-Thabaqat al-Kubra, juz 5, h. 211-12).
Al-‘Ashmu‘i menceritakan bahwa Husain memiliki cucu hanya dari jalur anaknya Ali Zainal Abidin ini. Ali Zainal Abidin pun tidak memiliki banyak anak kecuali dari istrinya Ummu Abdillah binti al-Ḥasan, sepupunya sendiri. Anak Ali dengan Ummu Abdillah ini bernama Muhammad, memiliki panggilan (kunyah) Abu Ja‘far al-Baqir.
Khalifah Bani Umayyah yang keempat, Marwan bin al-Ḥakam (w. 65 H/684 M), pun menawarkan Ali untuk mencari hamba sahaya untuk dijadikan sebagai pasangannya. “Aku melihat keturunan ayahmu sudah terputus. Sebaiknya Anda mengambil hamba sahaya. Barangkali Allah memberikan banyak keturunan dari hamba sahaya.”
“Aku enggak punya uang,” jawab Ali. Akhirnya Ali dipinjami uang oleh Marwan dan banyak mendapat keturunan dari hamba sahaya. Belakangan Marwan berwasiat agar utangnya tak usah dibayar.
Ada doa bagus yang sering dibaca oleh Ali Zainal Abidin:
اللَّهُمَّ لاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي، فَأَعْجَزُ عَنْهَا، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى المَخْلُوْقِيْنَ، فَيُضَيِّعُوْنِي
Artinya: "Ya Allah, janganlah Engkau bebani kepadaku atas permasalah yang tak aku mampu mengatasinya. Tolong jangan juga Engkau biarkan aku bersandar kepada makhluk yang mungkin mereka bisa menyia-nyiakanku."
Banyak kisah keteladanan yang dapat dipetik dari cicit Rasulullah SAW ini. Berikut 3 kisah ringkas yang patut kita contoh:
1. Rendah hati dan tak mau dihormati berlebihan
Nafi‘ bin Jubair (w. 99 H) pernah bertanya kepada Ali ini. “Kamu kok mau bermajelis dengan kelompok yang pangkatnya lebih di bawah dibandingmu?” “Aku akan mendatangi siapa pun orangnya yang bisa ambil manfaat darinya untuk agamaku,” jawab Ali merendah.
Di samping itu, Ali Zainal Abidin pun sampai rela meninggalkan Madinah menuju Makkah untuk belajar kepada tabi'in senior Aslam (w. 80 H), hamba sahaya Umar bin Khattab. Saat ditanya oleh orang lain mengapa ia rela mendatangi hamba sahaya, padahal ia cicit Rasulullah. Jawabannya adalah karena Ali ingin mengambil manfaat ilmu dari Aslam.
“Ilmu itu dicari, didatangi, dan diminta dari siapa dan tempat manapun,” pesan Ali.
Selain itu, Ali pun berpesan, “Cintailah kami dengan nilai-nilai Islam. Janganlah memberhalakan kami. Jangan sampai cinta kalian kepada kami menjadi aib bagi kami.” (Ibn Asakir, Tarikh Dimasyqa, juz 41, h. 392)
2. Menanggung utang orang lain.
Suatu saat Ali as-Sajjad berkunjung menjenguk Muhammad bin Usamah (w. 96 H) yang sedang sakit. Muhammad merupakan putra dari Usamah, sahabat Nabi kesayangan Rasulullah. Muhammad tiba-tiba menangis dan Ali pun bingung sambil bertanya, “Kamu kenapa, Muhammad. Kok nangis sih?” “Saya punya utang cukup banyak,” jawab Muhammad. “Emangnya berapa utangmu?” tanya Ali. “Sekitar 10 ribu dinar,” jawab Muhammad. “Ya sudah nanti aku yang bayar utangmu kalau gitu,” timpal Ali. (al-Zahabi, Siyar A‘lam al-Nubala, juz 4, h. 394)
3. Perhatian kepada fakir miskin dan janda-janda tua
Abu Ḥamzah al-Tsumali (w. sekitar 136 H) bercerita bahwa Ali biasa memperhatikan orang-orang miskin. Jika malam hari tiba, ia selalu memikul sendiri roti-roti di atas pundaknya untuk dibagikan kepada fakir miskin. Saat ditanya mengapa ia membagikan kebutuhan fakir miskin di malam hari, ia menjawab, “Sedekah di malam hari itu dapat memadamkan amarah Tuhan.”
Penduduk Madinah pun sampai merasa kehilangan karena mereka tidak mendapatkan bantuan yang dikirim pada malam hari saat Ali Zainal Abidin sudah wafat. Saat Ali wafat, di pundaknya ditemukan bekas lecet akibat memikul roti sendiri.
Sebelum wafat, banyak yang mengira Ali adalah orang pelit, karena setiap kali berinfak itu jarang diketahui orang lain. Keluarganya mengira, Ali tukang menumpuk harta. Belakangan saat Ali wafat, banyak orang bersaksi bahwa Ali menyantuni 100 ahli bait. (Ibn Sa‘d, al-Thabaqat al-Kubra, juz 5, h. 172).
Ustad Ahong Ibnu Kharish
Dai pengkaji hadist
Editor: Muhammad Faizin


